Uraian Per Bidang Perlindungan Anak

You might also like

Download as doc, pdf, or txt
Download as doc, pdf, or txt
You are on page 1of 54

PROGRAM NASIONAL BAGI ANAK INDONESIA KELOMPOK PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ABUSE, KEKERASAN, EKSPLOITASI DAN DISKRIMINASI.

I.

LATAR BELAKANG

Setelah 12 tahun Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-hak Anak, tepatnya pada tanggal 25 Agustus 1990 melalui Keppres R.I. No. 36 tahun 1990, Indonesia belum mempunyai kebijakan dan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan anak yang berorientasi pada Konvensi Hak-hak Anak. Baru pada tanggal 22 Oktober 2002, Indonesia menetapkan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berorientasi pada hak-hak anak seperti yang tertuang dalam Konvensi Hak-hak Anak. Perjuangan melahirkan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang memihak kepada kepentingan terbaik anak cukup panjang, seiring dengan pasang surut berbagai kepentingan dan situasi multi krisis berkepanjangan di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sejak lima tahun terakhir. Berbagai konflik komunal di sebagian wilayah Indonesia disertai instabilitas di bidang politik dan pemerintahan telah memperberat upaya-upaya peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak di Indonesia. Keadaan yang serba krisis dan kritis ini, telah mendesak pemerintah untuk menyelesaikan banyak prioritas-prioritas lain seperti politik, pemulihan ekonomi dan keamanan, ketimbang upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak di Indonesia. Akibatnya, berbagai permasalahan anak muncul ke permukaan karena jaminan negara terhadap pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial dan perlindungan anak tidak maksimal. Hal ini, juga terlihat pada alokasi anggaran untuk sektor pendidikan rata-rata hanya 6 persen, kesehatan hanya 3,9 persen dan berapa besarnya anggaran teralokasi untuk kebutuhan perlindungan anak tidak diketahui secara jelas. Akibatnya, sistem pelayanan pendidikan dan kesehatan selama ini belum dapat menggunakan sistem akses universal (Education for All dan Health for All ), melainkan berdasarkan sistem target sesuai anggaran yang tersedia (narrow targeting). Kondisi tersebut di atas, juga menyebabkan pembangunan kesejahteraan dan perlindungan anak terdesak dari rumusan GBHN tahun 1999, yang sebelumnya tercantum dalam rumusan bidang tersendiri pada GBHN tahun 1997. Padahal upaya upaya kesejahteraan dan perlindungan anak menghendaki komitmen bangsa dan negara serta tindakan politik pada tingkat yang paling tinggi untuk memberikan prioritas dalam alokasi sumber daya pembangunan. Tugas ini, menghendaki upaya yang terus menerus dilakukan bersama dengan semua pihak melalui tindakan nasional dan kerjasama internasional. Komitmen bersama diperlukan untuk menempatkan anak pada arus utama pembangunan dan diarahkan pada investasi sumberdaya manusia (human investment). Keyakinan bahwa anak adalah generasi penerus dan harapan masa depan bangsa, akan mendorong semua tindakan yang menyangkut kepentingan anak, baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah, lembaga peradilan, lembaga legislatif maupun masyarakat

akan memberikan prioritas tinggi kepada pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak, demi kepentingan terbaik anak Indonesia. Situasi dan kondisi anak Indonesia saat ini, mencerminkan adanya penyalah gunaan anak (abuse), eksploitatif, diskriminatif dan mengalami berbagai tindakan kekerasan yang membahayakan perkembangan jasmani, rohani, dan sosial anak. Keadaan ini, tentunya sangat memprihatinkan bagi bangsa dan negara Indonesia, karena anak dari aspek agama merupakan amanah dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga harkat dan martabatnya sebagai mahluk ciptaanNya. Dari aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah generasi penerus perjuangan bangsa dan penentu masa depan bangsa dan negara Indonesia. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya yang akan memberikan perlindungan khusus kepada anak-anak Indonesia yang berada dalam keadaan sulit tersebut, ke dalam suatu Program Nasional Bagi Anak Indonesia sebagai tindak lanjut Sidang Umum PBB Untuk Anak yang melahirkan deklarasi A World Fit For Children . II. PENGERTIAN

Pengertian anak yang mengalami abuse, kekerasan (fisik dan/atau mental), eksploitasi (ekonomi, seksual) dan diskriminasi dalam tulisan ini selanjutnya disebut anak yang mengalami berbagai perlakuan salah. Kondisi dan situasi anak yang sulit tersebut tergolong ke dalam anak yang memerlukan perlindungan khusus. Pasal 59 Undang-undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa perlindungan khusus diberikan kepada : anak dalam situasi darurat (anak pengungsi, anak korban kerusuhan,anak korban bencana alam, anak dalam situasi konflik bersenjata) anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, akohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak korban perlakuan salah, penelantaran anak yang menyandang cacat Selain itu, dimasukkan pula kelompok anak rentan lainnya yakni anak jalanan dan anak tanpa akta kelahiran. Dengan demikian terdapat berbagai jenis kondisi dan situasi anak yang memerlukan perlindungan khusus dari perlakuan salah.yang dapat dilakukan oleh orang perorang, keluarga, masyarakat bahkan oleh negara sekalipun. Untuk menyamakan pemahaman, diperlukan kesamaan pengertian tentang : Penyalah gunaan anak (abuse) adalah perlakuan kejam berupa tindakan atau perbuatan zalim, keji, bengis atau tidak menaruh belas kasihan kepada anak. 2

Kekerasan adalah perlakuan penganiayaan berupa mencederai anak dan tidak semata-mata fisik tetapi juga mental dan sosial Eksploitasi adalah tindakan atau perbuatan memperalat, memanfaatkan atau memeras anak untuk memperoleh keuntungan pribadi, keluarga atau golongan. Diskriminasi adalah perlakuan yang membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya, bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak dan kondisi fisik dan/atau mental. Perdagangan (trafiking) anak adalah tindakan perekrutan, pengangkutan antar daerah dan/atau antar negara, pemindah tanganan, penerimaan dan penampungan dari anak dengan cara ancaman, penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk pemaksaan lainnya, penculikan, penipuan, pemerdayaan, penyalahgunaan kekuasaan atau ketergantungan atau dengan pemberian atau penerimaan pembayaran atau imbalan lain dalam memperoleh persetujuan dari seeorang yang memiliki kendali atas orang lainnya untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi Seksual Komersial Anak adalah penggunaan anak untuk tujuan seksual dengan imbalan tunai atau dalam bentuk lain antara anak, pembeli jasa seks, perantara atau agen dan pihak lain yang memperoleh keuntungan dari perdagangan seksualitas anak tersebut. Ada tiga bentuk yaitu prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual. Bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak adalah segala bentuk perbudakan atau praktek sejenis perbudakan, penghambaan atau melakukan pekerjaan yang sifat atau keadaan tempat pekerjaan itu dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan serta moral anak. ANALISIS SITUASI

I.

Bangsa Indonesia sudah selayaknya memberikan perhatian terhadap perlindungan anak karena amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 B (2) menyatakan bahwa - Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi - kemudian Undangundang Hak Asasi Manusia pasal 33 (1) menyatakan bahwa Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan kejam tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusian, - sedangkan pasal 29 (1) menyatakan bahwa Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan hak miliknya. Undang-undang Perlindungan Anak pasal 13 (1) menyatakan Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya. Pasal 59 menyatakan bahwa Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan

perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran. Namun kenyataannya, cita-cita ideal tersebut masih jauh dari harapan, berbagai pelanggaran terhadap hak-hak anak masih sering terjadi yang tercermin pada masih adanya anak-anak yang mengalami abuse, kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, seperti tergambar pada analisis situasi dan kondisi anak Indonesia di bawah ini. Populasi Anak Berdasarkan laporan hasil Sensus Penduduk 2000 (SP 2000) dan Indikator Kesejahteran Anak 2000, penduduk Indonesia berjumlah 206.264.595 jiwa terdiri dari 103.417.180 penduduk laki-laki dan 102.847.415 penduduk perempuan dengan pertumbuhan penduduk per tahun antara tahun 1990-2000 sebesar 1,35 persen. Sebanyak 61.250.199 jiwa adalah anak berumur (0-14 tahun) atau sekitar 30 persen lebih dari total penduduk. Data SUSENAS 2001 memperlihatkan bahwa sebagian besar (96,01 persen) dari anak umur (10-14 tahun) masih memiliki ayah dan ibu, yatim (ayahnya telah meninggal) sebanyak 2,42 persen, piatu (ibunya telah meninggal) sebanyak 1,17 persen dan yatim piatu sebanyak 0,30 persen sedangkan 0,10 persen anak yang tidak mengetahui keberadaan orang tuanya. Berdasarkan tempat tinggal secara keseluruhan anak yang yatim, piatu, yatim piatu dan tidak diketahui keberadaan orang tuanya di perdesaan lebih banyak (4,40 persen) dibandingkan di perkotaan (3,37 persen). Selain itu, anak umur (10-14 tahun) yang tinggal bersama orang tuanya hanya 87,56 persen lebih rendah dibandingkan persentase anak yang ayah dan ibu kandungnya masih hidup (96,01 persen), kemungkinannya karena orang tua meninggal, bercerai, bekerja di tempat lain atau dititipkan pada kakek dan neneknya. Prioritas masalah anak Jenis-jenis kondisi dan situasi anak yang sangat menonjol untuk ditangani segera di Indonesia, sejalan dengan sasaran/target dari World Fit For Children maupun Millenium Development Goals adalah: a. Pekerja anak Pekerja anak di Indonesia sudah dijumpai sejak dulu, karena secara tradisi anak diharapkan membantu orang tua di ladang atau usaha keluarga lainnya. Munculnya pekerja anak merupakan permasalahan sosial yang cukup memperihatinkan. Berdasarkan data BPS tahun 2000 jumlah anak umur 10-14 tahun sebanyak 20,86 juta jiwa dan jumlah angkatan kerjanya meliputi anak yang sedang bekerja dan yang mencari pekerjaan sebesar 1,69 juta jiwa. Persentase angkatan kerja anak umur 10-14 tahun terhadap jumlah anak umur 10-14 tahun sebesar 5,96 persen. Jika dilihat lebih jauh, persentase anak yang bekerja lebih tinggi daripada yang mencari pekerjaan. Pada tahun 2000 persentase anak yang bekerja 5,60 persen dan yang mencari pekerjaan hanya 0,36 persen dari jumlah anak umur 10-14 tahun. Sebenarnya pada dekade terakhir, anak umur 10-14 tahun yang bekerja telah mengalami penurunan, namun pada tahun 1998/1999 mengalami peningkatan dibandingkan 4 tahun sebelumnya, sebagai konsekwensi kondisi krisis yang menimpa Indonesia. Persentase pekerja anak umur 10-14 tahun yang memiliki jam kerja normal dalam 1 minggu (35 jam/minggu) sekitar 16,89 persen. Kebanyakan dari mereka bekerja lebih dari 35 jam/minggu, bahkan kenyataannya ada yang bekerja lebih

dari 40 jam/minggu. Pada dekade ke depan, diharapkan jumlah anak umur 10-14 tahun yang bekerja menurun dan proporsi pekerja anak umur 10-14 tahun dengan jam kerja 35 jam/minggu atau jam kerja kurang dari 4-5jam/hari semakin berkurang. Berbagai jenis pekerjaan antara lain di bidang pertanian (72,01 persen), industri manufaktur (11,62 persen), jasa (16,37 persen). Data terakhir Susenas 2001 memperlihatkan tentang anak umur 5-14 tahun yang termasuk kategori bekerja pada tabel berikut : Persentase Penduduk umur 5-14 tahun yang bekerja menurut tipe daerah, jenis kelamin dan status pekerjaan
Daerah tempat tinggal/Jenis kelamin Perkotaan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan Perdesaan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan Perkotaan + Perdesaan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan Persentase Penduduk (5-14 tahun) yang bekerja (%) 2,05 2,15 2,10 6,40 4,31 5,39 4,69 3,45 4,09 Usaha sendiri (%) Usaha rumah tangga sendiri (%) 61,90 66,09 64,00 81,51 82,03 81,71 78,14 78,06 78,11 Bekerja pada orang/pihak lain dengan dibayar (%) 22,38 24,81 23,59 9,00 9,23 9,08 11,29 13,10 12,03 Bekerja pada orang/pihak lain tidak dibayar (%) 4,28 4,28 4,28 4,29 4,34 4,31 4,29 4,32 4,30

14,91 6,89 10,89 8,29 7,08 7,83 9,43 7,04 8,45

Dilihat dari jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak umur 5-14 tahun dapat dilihat pada tabel berikut :

Persentase penduduk umur 5-14 tahun yang bekerja selama seminggu yang lalu menurut tipe daerah, jenis kelamin dan jenis pekerjaan utama 2001
Daerah tempat tinggal/jenis kelamin Perkotaan Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan Perdesaan Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan Perkotaan+Perdesaan Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan 3,38 3,36 3,37 10,61 20,56 14,69 0,40 0,32 0,37 5,76 10,52 7,71 0,63 2,14 1,25 62,90 43,27 54,86 0,66 0,07 0,42 2,33 2,95 2,57 7,51 14,92 10,37 0,41 0,37 0,39 4,24 8,78 5,99 0,61 1,15 0,82 70,54 54,40 64,31 0,57 0,05 0,37 1,96 2,20 2,05 2,98 4,88 3,76 11,83 15,17 13,12 12,66 14,87 13,57 8,45 4,59 6,52 25,58 37,62 31,62 0,36 0,17 0,27 13,09 15,78 14,44 0,74 5,13 2,94 26,04 9,66 17,83 1,13 0,12 0,62 Asongan Pedagang di tempat tetap Memulung Sektor industri kecil/RT Sektor industri besar/ sedang Sektor pertanian Sektor angkutan Sektor jasa Lain-lain

7,94 12,96 10,46

16,66 13,96 15,31

Sumber: Susenas 2001,BPS.

Walau bagaimanapun, berbagai jenis pekerjaan tersebut, dapat mengganggu pendidikan dan wajib belajar anak serta dapat mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial anak. Padahal anak umur (10-14 tahun) adalah umur yang seharusnya belum pantas untuk bekerja. Idealnya pada umur tersebut, mereka sekolah dan tidak terbebani dengan pekerjaan mencari nafkah. Kondisi ini, antara lain disebabkan faktor ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, orang tua menganggur dan kemiskinan yang akhirnya mendorong anak terpaksa bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Namun tidak jarang, di antara anak-anak tersebut menjadi pekerja anak karena keadaannya terlantar dan terpaksa harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Keadaan ini, mengakibatkan semakin meningkatnya pelibatan anak pada berbagai jenis pekerjaan termasuk bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak seperti pelacuran anak, bekerja di pertambangan, jermal (perikanan), pabrik sepatu, garmen, rotan, konstruksi, penyelam mutiara, pengemis, pemulung, perdagangan anak untuk tujuan ekonomi atau seksual, produksi dan perdagangan obat-obat terlarang (napza), pornografi dan pornoaksi, anak jalanan, PRT dan pelibatan dalam konflik bersenjata. Meskipun belum memiliki gambaran yang jelas mengenai besarnya permasalahan anak yang bekerja pada bentuk-bentuk pekerjaan terburuk tersebut, namun diyakini bahwa keberadaan pekerja anak dengan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk akan berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik, mental dan sosial serta akan memperpanjang rantai kemiskinan saja. Selain itu, upah yang mereka terima sangat rendah dan sangat eksploitatif karena majikan menganggap pekerja anak/buruh anak adalah pekerja tanpa ketrampilan tinggi dan penurut. Berbagai penyebab terjadinya pekerja anak antara lain : adanya persepsi orang tua dan masyarakat bahwa anak bekerja tidak buruk dan merupakan bagian dari sosialisasi dan tanggung jawab anak untuk membantu pendapatan keluarga. Kemiskinan, gaya hidup konsumerisme, tekanan kelompok sebaya serta drop out sekolah mendorong anak untuk mencari keuntungan material dengan terpaksa bekerja. kondisi krisis ekonomi juga mendorong anak untuk terjun bekerja bersaing dengan orang dewasa.

lemahnya penegakan hukum di bidang pengawasan umur minimum untuk bekerja dan kondisi pekerjaan (Indikator dan Profil KPA 2002). Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO No. 138 dengan Undang-undang No. 20 Tahun 1999 yang menetapkan tentang batas usia minimum untuk diperbolehkan bekerja, dalam undang-undang tersebut dilampirkan Deklarasi Pemerintah Indonesia bahwa batas usia minimum untuk bekerja di Indonesia adalah 15 tahun. Ratifikasi Konvensi ILO No. 182 dengan Undang-undang No. 1 tahun 2000 tentang larangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Data mengindikasikan bahwa ada 700 anak bekerja pada industri alas kaki di Bandung, anak umur kurang 15 tahun sebanyak 209.943 anak bekerja di pabrik, anak umur (10-19 tahun) sebanyak 3.815 anak bekerja pada penambangan emas (Depnakertrans, ILO/IPEC 2001).

Harus diakui bahwa pola penanganan pekerja anak masih bersifat represif dan kuratif. Program yang ada belum menyentuh aspek preventif dan belum komprehensif. (Menakertrans pada pembukaan Pertemuan Konsultatif mengenai Time Bound Programme). Untuk mengatasi berbagai permasalahan bentukbentuk pekerjaan terburuk untuk anak pemerintah melalui Keppres. No. 12 tahun 2001 telah membentuk Komite Aksi Nasional dan Keppres No. 59 tahun 2002 ditetapkan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. Dalam rencana aksi tersebut, prioritas tahap pertama dalam 5 tahun kedepan adalah penghapusan pekerjaaan yang banyak melibatkan anak sebagai pekerja di anjungan lepas pantai (jermal), pelacuran anak, perdagangan narkoba, pekerjaan di tambang, PRT dan industri alas kaki (sepatu) melalui ketersedian model-model penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk tersebut, membangun komitmen politis, meningkatkan kesadaran masyarakat dan melakukan pemetaan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Tahap kedua dalam 10 tahun kedepan melakukan replikasi model, pengembangan model yang ada, tersedianya dan terlaksananya kebijaksanaan/perangkat pelaksanaan penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Tahap ketiga 20 tahun ke depan pelaksanaan program aksi di berbagai daerah, adanya pelembagaan serta pengarus utamaan penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Selain itu, Keppres. tersebut telah ditindak lanjuti oleh beberapa daerah dengan membentuk Komiite Aksi Propinsi dan menyusun rencana aksi daerah. Di samping itu, telah dilakukan program rintisan penghapusan pekerja anak di jermal bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dan industri alas kaki bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Dicanangkannya Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai daerah bebas pekerja anak dan direncanakan pada tahun 2015 kabupaten tersebut telah bebas\dari pekerja anak. Kondisi yang ingin dicapai yaitu anak terbebas dari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan optimal baik fisik, mental, sosial maupun intelektualnya. Pada bulan Agustus 200 terjadi peningkatan, yang menurut BPS naik lagi menjadi 2,3 juta. Jumlah ini belum mencakup anak-anak berumur di bawah 10 tahun. IPEC/ILO memperkirakan sekitar 8 juta pekerja anak di bawah usia 15 tahun. Sebagai perbandingan selama tahun 1995 s/d 1999 terdapat 11,7 juta anak yang putus sekolah dan sebagian diantaranya kemudian memilih atau dipaksa bekerja karena alasan ekonomi. b. Anak yang diperdagangkan untuk tujuan seksual komersial. Pemetaan yang dilakukan oleh Hull et al (1997) dan Farid (1999) mengindikasikan jumlah anak yang dilacurkan diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dari total prostitusi yakni sekitar 40.000 - 70.000 atau bahkan lebih adalah anak berumur di bawah 18 tahun. Mereka beresiko tinggi untuk tertular PMS dan HIV/AIDS. Farid memperkirakan jumlah anak yang dilacurkan dan berada di kompleks pelacuran, panti pijat dll. sekitar 21.000 anak. Angka tersebut bisa mencapai 5-10 kali lebih besar jika ditambah pelacur anak yang mangkal di jalan, caf, plaza, bar, restoran dan hotel. Anak yang dilacurkan dikorbankan oleh orang tua atau anggota keluarga atau oleh pekerja seks dewasa dari desa yang sama dengan anak yang dilacurkan. Perekrutan anak untuk tujuan seksual komersial biasanya terjadi dengan menggunakan penipuan atau alasan 8

palsu untuk bekerja di kota. Kebanyakan anak ditipu oleh para calo dan agen atau dipaksa oleh keadaan menyerahkan diri pada seorang germo untuk kemudian dipekerjakan sebagai pekerja seksual komersial. Irwanto et al (1997) mengindikasikan ketika orang tua memperdagangkan anaknya, biasanya didukung oleh peran tokoh formal dan informal setempat misalnya untuk mendapatkan KTP dan memalsukan umur anak. Daerah-daerah pengirim anak untuk tujuan seksual biasanya desa-desa miskin, kemudian daerah-daerah penerima sebagian besar adalah kota-kota besar. Bahkan beberapa anak juga diperdagangkan ke luar negeri untuk tujuan seksual komersial, karena kejahatan ini dapat bersifat lintas batas negara (Farid 1999). Tidak jelas gambaran anak laki-laki untuk tujuan seksual komersial, namun isu yang menonjol di Bali adalah perdagangan anak laki-laki untuk tujuan eksploitasi seksual kaum pedophilia. Banyak berbagai tujuan seksual komersial dikaitkan dengan wisata dan Indonesia termasuk Bali serta daerah wisata lainnya tidak tertutup kemungkinannya sebagai tujuan wisata seks kaum pedophilia dunia, mengingat negara sekitar telah mempunyai peraturan perundangan yang ketat tentang masalah ini. Demikian juga, anak jalanan terutama anak perempuan sangat rentan terhadap beragam eksploitasi seksual, prostitusi, penganiyaan seksual dan perkosaan. Berbagai penyebab antara lain : Kemiskinan, urbanisasi, pendidikan rendah, tidak ada alternatif pekerjaan, perkawinan umur muda dan perceraian, kekerasan seksual pada masa anakanak merupakan pendorong anak terjerumus pada seksual komersial. Faktor penariknya antara lain kesempatan kerja dan penghasilan tinggi di kota, gaya hidup konsumtif dan kehidupan di kota. Bias gender menyebabkan anak perempuan drop out dari sekolah ketimbang anak laki-laki mendorong anak perempuan memasuki pekerjaan seksual komersial dan trafiking anak Persepsi masyakat tentang seksualitas dan status perempuan serta pelacuran adalah perbuatan a-moral dan tidak selayaknya dibicarakan pada ruang publik menyebabkan masalah ini tersembunyi, luput dari wacana publik.

Negara berkewajiban melindungi anak-anak dari eksploitasi seksual dengan mengambil langkah-langkah yang layak baik bilateral maupun multilateral untuk mencegah dan menghapus kegiatan eksploitasi seksual anak untuk tujuan komersial maupun eksploitasi anak dalam pertunjukan dan perbuatan yang bersifat pornografi dan pornoaksi. Berbagai instrumen internasional dalam memerangi dan menghapus eksploitasi seksual komersial telah disetujui oleh pemerintah dan dalam penyusunan rencana aksi nasional merujuk kepada kesepakatan yang tertuang dalam instrumen internasional tersebut antara lain : Konvensi Hak-hak Anak telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keppres No. 36 tahun 1990 Deklarasi dan Agenda Aksi Stockholm tahun 1996 Komitmen dan Rencana Aksi Regional Kawasan Asia Timur dan Pasifik melawan Eksploitasi Seksual Komersial Anak tahun 2001 Komitmen Global Yokohama tahun 2001

Konvensi ILO No. 182 telah diratifikasi oleh Undang-undang No. 1 Tahun 2000 tentang pengesahan Konvensi ILO No. 182 tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Untuk Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak Optional Protocol to the CRC on the Sale of Children, Child Prostitution and Child Phornography ditanda tangani pada tanggal 24 September 2001 Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children supplementing to the UN Convention against Transnational Organized Crime ditandatangani pada tanggal 12 Desember 2002. Selain itu, berbagai instrumen hukum nasional yang menjadi dasar penyusunan yakni Undang-Undang Dasar 1945, Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM dan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pemerintah melalui Keppres No. 87 Tahun 2002 telah menetapkan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak dan Gugus Tugas untuk memerangi dan menghapus eksploitasi seksual komersial anak yakni kejahatan yang melanggar hak asasi anak, merendahkan harkat dan martabat kemanusian serta merupakan salah satu bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Ada lima bidang yang akan digarap dalam memerangi dan menghapus eksploitasi seksual komersial anak yaitu koordinasi dan kerjasama, pencegahan, perlindungan, pemulihan dan reintegrasi serta partisipasi anak. Kondisi yang ingin dicapai yakni memberikan perlindungan kepada setiap anak dari eksploitasi seksual komersial, mengurangi jumlah anak yang rawan terhadap eksploitasi seksual komersial serta mengembangkan lingkungan, sikap dan praktek yang tanggap terhadap permasalahan eksploitasi seksual komersial anak. (RAN-PESKA 2002, Indikator dan Profil KPA 2002, Departemen Sosial 2000). Permasalahan pelacuran anak mencakup eksploitasi secara seksual terhadap 40 70 ribu anak di bawah umut 18 tahun. Mereka sebagian juga diperdagangkan ke luar negeri. Pada tahun 1997/1998, terdapat 75.106 tempat pekerja seks yang terselubung ataupun yang terdaftar. Kira-kira 30 persen penghuni tempat-tempat tersebut perempuan berusia 18 tahun. (laporan Situasi Anak dan Perempuan 2000). c. Anak yang diperdagangkan (trafiking anak). Fakta yang ada menunjukkan korban trafiking sering kali digunakan untuk tujuan eksploitasi seksual, bekerja pada tempat-tempat kasar dengan gajih yang rendah seperti di perkebunan, jermal, pembantu rumah tangga (PRT), pekerja restoran, tenaga penghibur, perkawinan kontrak, pengemis jalanan, selain sebagai pelacur. Dari penggunaan korban, dapat dilihat pola-pola perdagangan atau trafiking anak di Indonesia. Dalam setiap perdagangan anak selalu terkandung unsur perekrutan, pemindahan, penipuan, kekerasan,eksploitasi atau pemberian hutang dengan jaminan anak. Pihak yang terlibat dalam perdagangan anak merupakan sindikat yang melibatkan keluarga, teman sebagai supplier atau penjual. Daerah pengirim biasanya daerah miskin sedangkan penerima biasanya kota-kota besar industri atau pariwisata bahkan lintas batas negara seperti ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Arab Saudi dan Taiwan.

10

Perekrutan biasanya terjadi dengan menggunakan alasan palsu antara lain untuk dijadikan pembantu rumah tangga (PRT) di dalam maupun di luar negeri atau bekerja di kota dengan iming-iming upah yang tinggi. Tidak ada jumlah yang pasti, namun dapat dijumpai jumlah pekerja yang direkrut cukup banyak. Bekerja sebagai PRT merupakan kesempatan yang mudah bagi anak perempuan di desa yang tidak berpengalaman dengan pendidikan dan ketrampilan yang rendah, selain itu bekerja di kota merupakan daya tarik tersendiri bagi kalangan anak-anak muda di perdesaan. Data BPS tahun 1999 menunjukkan ada sebanyak 1.341.712 PRT di Indonesia, dengan 310.378 PRT atau sebanyak (23 persen) adalah anak umur 10-18 tahun dengan perempuan sebanyak (93 persen) sedangkan laki-laki sebanyak (7 persen). Walaupun tidak semua PRT bermasalah, dalam beberapa kasus kondisi kerja yang ada dapat dikategorikan sebagai bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Meskipun data yang ada sangat minim, namun laporan media massa sering menunjukan adanya kekerasan fisik dan seksual yang dialami oleh PRT dan biasanya pelaku atau majikan tidak tersentuh oleh hukum. Perekrutan anak untuk bekerja di jermal merupakan jenis perdagangan anak lainnya. Kebanyakan anak di jermal bekerja siang dan malam tanpa istirahat untuk menurunkan dan mengangkat jala, memilih dan mengasinkan ikan serta memperbaiki jala. Kajian oleh ILO/IPEC menunjukan ada 140 jermal dan 28 tangkul (mini jermal) dengan terdapat rata-rata 3 anak umur dibawah 18 tahun pada setiap jermal. Jenis-jenis perekrutan lainnya yakni untuk dijadikan pengemis, pemulung di tempat-tempat pembuangan sampah. Anakanak tersebut menghabiskan waktunya untuk bekerja di jalan dan tempat pembuangan sampah dengan mengumpulkan bahan-bahan atau sampah yang dapat di daur ulang. Melihat pola kerjanya tidak memungkinkan bagi anak-anak tersebut untuk mengikuti pendidikan sebagai hak dasar mereka ataupun jika sempat anak-anak tersebut telah kelelahan. Selain itu, akses kepada pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial lainnyapun sangat rendah. Berbagai faktor yang berhubungan dengan trafiking anak yaitu : Kondisi keluarga karena pendidikan rendah, kemiskinan, keterbatasan kesempatan dan gaya hidup konsumtif Nilai tradisional yang menganggap anak merupakan hak milik yang dapat diperlakukan sekehendak orang tua selain adanya bias gender dan status perempuan yang dianggap masih rendah di kalangan masyarakat. Jangkauan pencatatan akta kelahiran yang masih rendah memungkinkan terjadinya pemalsuan umur dan identitas lainnya. yang

Perkawinan usia muda beresiko tinggi bagi seorang perempuan, terlebih jika diikuti dengan kehamilan dan perceraian. Data Supas 1995 menunjukkan angka perceraian pada pernikahan umur 10-14 tahun sebesar 9,5 persen ternyata 2 kali lebih banyak dibandingkan dengan pernikahan umur 15-19 tahun sebesar 4,9 persen. Ketika seorang anak perempuan bercerai maka ia kehilangan status dan hak-hak anaknya, perawatan dan tanggung jawab orang tuanya serta telah dianggap sebagai orang dewasa independen. Anak perempuan tersebut akan mudah terjerumus pada kasus trafiking atau perdagangan anak.

11

Migrasi terutama pekerja migran menurut KOPBUMI (Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia) pada tahun 2001 penempatan buruh migran ke luar negeri setidaknya sebanyak 74.616 orang telah menjadi korban dari proses trafiking. Kekerasan terhadap perempuan dan anak mengakibatkan mereka meninggalkan rumah kemudian menjadi korban trafiking dan bekerja di tempat-tempat yang beresiko tinggi. Konflik sosial dan perang yang terjadi dalam 5 tahun terakhir di Indonesia, diperkirakan turut menyumbang terjadinya kasus-kasus perdagangan anak.

Berdasarkan laporan Trafficking in Persons Report (Juli 2001) yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat bekerja sama dengan ESCAP (Economy Social Commission on Asia Pacific ) telah menempatkan Indonesia pada peringkat Tier III. Negara yang dikategorikan Tier III adalah negara yang memiliki korban perdagangan orang dalam jumlah besar, sebagai wilayah pengirim perdagangan orang, pemerintahnya belum menerapkan standar minimum dan melakukan usaha-usaha yang berarti dalam mencegah dan menanggulangi trafiking. Pemerintah Indonesia telah menyetujui berbagai kesepakatan dan instrumen internasional di bidang trafiking seperti yang telah diuraikan pada perdagangan anak untuk tujuan seksual komersial, kemudian pada tahun 1998 Indonesia menyepakati Bangkok Accord and Plan of Action to Combat Trafficking in Women and the Asian Regional Initiative Against Trafficking (ARIAT) yang merupakan rencana aksi regional dalam memerangi dan mencegah trafiking perempuan dan anak. Selain itu, amanat TAP MPR No. X/MPR/2001 menugaskan kepada eksekutif untuk meratifikasi Konvensi Internasional tahun 1949 tentang Larangan Perdagangan Perempuan (Convention for the Suppression of the Traffic in Persons and of the Exploitation of the Prostitution of Others) dan membentuk badan/lembaga atau gugus tugas untuk memberantas perdagangan perempuan dan anak. Pemerintah melalui Keppres No. 88 tahun 2002 telah menetapkan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak serta menetapkan Gugus Tugas untuk memerangi dan menghapus kejahatan trafiking. Bidang garapan yang akan diimplementasikan yakni perlindungan dengan mewujudkan norma hukum dan tindakan hukum terhadap pelaku trafiking, pencegahan segala bentuk trafiking, rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi korban trafiking serta mewujudkan kerjasama dan koordinasi dalam penanggulangan trafiking. Salah satu upaya di bidang perlindungan yaitu penyusunan naskah akademis untuk dasar penyusunan Rancangan Undang-undang Anti Trafiking Perempuan dan Anak yang akan diajukan kepada DPR-RI dalam tahun 2003 ini. Pada dekade yang akan datang diharapkan pola dan kasus trafiking anak di Indonesia berkurang jumlahnya, terlindungi oleh peraturan perundang-undangan disertai penegakan hukum (prosekusi) bagi pelaku trafiking dengan sanksi hukum dan adanya pelayanan rehabilitasi serta reintegrasi bagi korban trafiking (RANPenghapusan Trafiking Perempuan dan Anak 2002, Indikator dan Profil Anak 2002, Irwanto Ph.D).

12

Modus Perdagangan anak dilakukan untuk tujuan penyediaan pembantu rumah tangga, pelacuran, mengemis jalanan, mengedarkan narkotika, eksploitasi di tempat-tempat kerja berbahaya seperti jermal, pertambangan, perkebunan, dsb. Masalah ini telah dikenal lama dan saat ini dikenal pula perekrutan anak untuk perang (konflik) dan modus-modus perdagangan anak lainnya. d. Pengungsi anak dan anak dalam situasi konflik bersenjata. Latar belakang pengungsi anak di Indonesia beragam sekali, dari jenis pengungsi internal (internally dislaced) sampai kepada pengungsi lintas batas negara (refugee). Ada yang disebabkan oleh International Armed Conflict (Timor Timur), Konflik Komunal dan Sosial (Maluku, Kalbar, Poso), konflik separatis ( Nanggroe Aceh Darusalam, Papua) serta migrasi lintas batas (TKI). Data yang dikumpulkan oleh Kantor Bakornas Penanggulangan Bencara dan Penanganan Pengungsi (PBP) (Mei 2002) menunjukkan terdapat sebanyak 1.245.874 jiwa pengungsi di seluruh Indonesia, diperkirakan 38-43 persen pengungsi adalah anak-anak. Data Departemen Sosial 2001 menunjukkan korban konflik komunal/sosial sekitar 400.000 adalah anak-anak tersebar di 24 propinsi di Indonesia. Kondisi dan situasi anak yang berada di kamp-kamp pengungsian cukup memperihatinkan. Selain kekurangan pangan dan gizi, mereka juga menderita penyakit, putus sekolah dan bahkan meninggal dunia. Banyak anak-anak terpisah dari orang tuanya, menjadi yatim-piatu dan perempuan menjadi janda akibat suaminya tewas dalam konflik tersebut. Indikasi menunjukkan bahwa terdapat anak-anak di bawah 18 tahun terlibat aktif dalam konflik bersenjata di Nanggroe Aceh Darusalam dan Timor Timur sebelum referendum. Berbagai upaya kemanusiaan telah dilakukan untuk mengatasi pengungsi anak (Internaly Displaced Children) dibawah koordinasi Bakornas PBP. bersama-sama Pemerintah Daerah, PMI, LSM, para relawan dan lembaga-lembaga donor internasional meliputi upaya-upaya pencegahan, tanggap darurat/penyelamatan, penampungan, pemulangan, pemberdayaan dan pemukiman kembali ke daerah asal, relokasi atau bertransmigrasi ke wilayah lain. Permasalahan yang dijumpai dalam penanganan pengungsi, di samping terbatasnya tenaga lapangan, juga dikarenakan lemahnya koordinasi dan kerjasama antara instansi terkait dengan pemerintah daerah yang telah otonom, lembaga non pemerintah dan lembaga donor internasional. Sementara itu, anak yang terpisah dari orang tua pasca referendum Timor Timur sebanyak 394 anak tersebar di beberapa propinsi (Juli 2002), sedangkan jumlah permintaan reunifikasi sebanyak 57 anak yang akan diusahakan melalui kerjasama tripartite antara pemerintah Indonesia, Timor Leste dan UNHCR demi kepentingan terbaik bagi anak. Indonesia sebagai negara yang menyetujui International Humanitarian Law berusaha untuk memenuhi instrumen standar tersebut, namun belum efektif karena adanya berbagai kendala. Antara lain belum diratifikasi berbagai konvensi atau protocol yang berkaitan dengan status pengungsi, termasuk belum ada aturan baku untuk perlindungan bagi pengungsi internal. Indonesia sebagai wilayah rawan bencana alam dan konflik sosial/komunal yang melahirkan pengungsian sudah sepatutnya meratifikasi berbagai konvensi dan protokol yang berkaitan dengan status pengungsi sebagai instrumen standar dalam penanganan pengungsi (Bakornas PBP & UNHCR). Pengungsi anak, menurut Bakornas PBP berjumlah 40 persen dari seluruh jumlah pengungsi. Sampai 1 Maret 2001, jumlah pengungsi adalah 1.081.341

13

jiwa atau 240.840 KK yang tersebar di 20 propinsi. Khusus pengungsi Aceh per 29 Juli 2003, Departemen Sosial mencatat sebanyak 30.814 jiwa, dan 30 persen diantaranya adalah anak-anak. e. Anak tanpa akta kelahiran. Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia telah memberikan pengakuan legal terhadap hak anak atas suatu nama, status kewarganegaraan, mengetahui dan sejauh mungkin diasuh oleh kedua orang tuanya. Selain itu, Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa identitas anak yang menyangkut nama, jenis kelamin, tanggal lahir, hubungan orang tua, kewarganegaraan harus diberikan sejak lahir dan dituangkan dalam akta kelahiran. Pembuatannya menjadi tanggung jawab pemerintah dan harus diberikan paling lambat 30 hari sejak diajukan permohonan. Pengakuan legal atas jati diri seseorang sangat penting karena pengakuan tersebut dikaitkan dengan pelayanan dan perlindungan yang disediakan oleh negara bagi setiap warganya. Tanpa pengakuan tersebut, seseorang akan kehilangan hak-hak dasarnya yang sangat vital bagi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, akta kelahiran atau pencatatan kelahiran merupakan hak dasar pertama yang penting, diperkirakan jangkauannya hanya sekitar 50-69 persen anak tercatat saat lahir dari sekitar 78 juta anak umur (0-18 tahun) ( Unicef, Progress of Nations, 1998). Hasil kajian menunjukkan sangat besar variasi jangkauan antara desa dan kota yaitu sekitar 20-30 persen. Pencatatan kelahiran yang rendah kemudian jangkauan pelayanan yang terbatas menjadikan kendala bagi pencatatan kelahiran oleh orang tua, tidak membudaya di kalangan masyarakat terutama di daerah terpencil, selain faktor biaya, jarak dan ketidak tahuan manfaat serta kegunaan akta kelahiran. Kajian yang dilakukan oleh Plan Internasional (1998) terhadap anak asuhnya sebanyak 400 anak umur (0-18 tahun) mengindikasikan sebagai berikut : dari 368 dari 400 responden hanya 28 persen yang tercatat sedangkan 72 persen tidak tercatat kelahirannya dari yang tercatat hanya 80 persen yang dapat menunjukkan akta kelahiran, 2 persen akta kelahiran berada atau disimpan di tempat lain tingkat pencatatan kelahiran di kota (43 persen) lebih baik dibandingkan di desa (36 persen) hanya 29 persen yang melakukan pencatatan kelahiran dalam tempo 60 hari sisanya 71 persen di atas tempo 60 hari kerja. di antara yang tidak tercatat kelahirannya karena ketidak tahuan bahwa akta kelahiran dibutuhkan (37 persen), mahal (26 persen), tidak tahu prosedur (14 persen), sisanya alasan lain-lain. dari 10 persen responden pada saat validasi hanya 21 persen saudara kandungnya yang tercatat kelahirannya, sementara itu 12 persen di antara ibunya dan 11 persen diantara ayahnya yang tercatat kelahirannya. Data terakhir tentang kepemilikan akta kelahiran ditunjukkan oleh SUSENAS 2001 seperti tabel berikut :

14

Persentase anak umur 0-4 tahun menurut kepemilikan akta kelahiran dan daerah tempat tinggal 2001. Kepemilikan akta Perkotaan Perdesaan Perkotaan + kelahiran (%) (%) Perdesaan (%) Punya, dapat 39,86 14,67 25,07 ditunjukkan Punya,tidak dapat 18,30 11,84 14,50 ditunjukkan Tidak punya 41,18 72,04 59,30 Tidak tahu 0,66 1,45 1,13 Total 100,00 100,00 100,00 Sumber: Susenas, 2001, BPS. Pada hal, akta kelahiran merupakan : pengakuan pertama negara atas keberadaan dan status hukum seorang anak alat dan data dasar bagi pemerintah untuk perencanaan menyusun anggaran nasional dalam memenuhi hak-hak anak di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya bagi anak. fasilitas dalam memasuki pendidikan dasar 9 tahun untuk mendukung pelaksanaan umur minimum mengikuti sekolah mencegah pemalsuan umur dan lebih lanjut mencegah perkawinan di bawah umur 16 tahun, kekerasan seksual dan trafiking anak perlindungan anak dari pelanggaran yang terjadi pada sistem peradilan anak

Oleh karena itu, akta kelahiran memegang peranan yang sangat penting didalam memberikan perlindungan kepada anak. Diperlukan upaya-upaya mendasar dengan melakukan perubahan mendasar pada hukum perdata yang berlaku dengan tidak membagi-bagi penduduk berdasarkan golongan, etnik, agama,gender, kelas ekonomi, kelompok minoritas, anak diluar nikah dan anak jalanan yang semuanya bersifat sangat diskriminatif. Dasar hukum bagi pencatatan kelahiran masih menggunakan Ordonansi yang diberlakukan sejak penjajahan Belanda yang mengelompokan penduduk atas dasar ras dan agama. Ordonansi tersebut masih berlaku hingga kini dengan beberapa amandemen yang mengubah ketentuan-ketentuan utama dalam sistim pencatatan kelahiran dalam bentuk keppres dan instruksi menteri. Dasar-dasar hukum sistim pencatatan kelahiran ini perlu dilakukan reformasi hukum dan harmonisasi dengan instrumen hukum nasional yang ada dan instrumen hukum internasional yang telah disetujui pemerintah Indonesia. Farid (1999) menganalisis faktor di balik rendahnya pencatatan kelahiran di Indonesia antara lain adanya : Hambatan struktural berupa sistim pencatatan territorial dalam bentuk KSK dan KTP versus sistim pencatatan kelahiran dalam bentuk Akta Kelahiran, ternyata manfaat KTP yang ekstensif dibandingkan Akta Kelahiran membuat penduduk tidak menyadari arti penting pecatatan kelahiran, sebaliknya semua orang menyatakan KTP sangat diperlukan. Surat Keterangan Kenal Lahir dan Surat Kelahiran Desa/Kelurahan. Dahulu SKKL dikeluarkan sebagai pengganti Akta Kelahiran sedangkan Surat

15

Kelahiran Desa/Kelurahan dikeluarkan sebagai syarat untuk melakukan pencatatan kelahiran, namun ternyata dapat dipakai sebagai pengganti Akta Kelahiran. Meskipun SKKL telah berkurang, namun kedua surat keterangan tersebut ikut menurunkan permintaan Akta Kelahiran dan rendahnya tingkat pencatatan kelahiran. Faktor-faktor supply seperti kehilangan manfaat, kepedulian negara, kendala anggaran dan birokrasi yang tidak bersahabat serta hambatan struktural lainnya. Faktor sosio-budaya seperti suku asli, budaya khusus, dll. Faktor-faktor demand seperti tidak mengetahui manfaat, tingkat pengetahuan, hambatan geografis, biaya dan administratif .

Hal ini, dapat dilihat pada tabel berikut : Persentase anak umur 0-4 tahun yang tidak mempunyai akte kelahiran menurut alasan tidak memiliki dan daerah tempat tinggal Perkotaan + Alasan Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perdesaan (%) Biaya mahal/tidak ada 28,42 22,18 23,97 biaya Perjalanan jauh 3,44 9,82 7,99 Tidak tahu kalau harus 12,52 17,83 16,31 dicatat Tidak tahu cara 14,16 22,82 20,34 mengurus Tidak merasa perlu 14,16 22,82 20,34 Lainnya 40,29 26,92 30,74 Tidak tahu 4,73 7,98 7,05 Sumber: Susenas 2001, BPS. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memperluas jangkauan pencatatan kelahiran adalah: perlunya legislasi di tingkat nasional yang mencerminkan semangat serta prinsip HAM dan hak-hak anak seperti yang tertuang dalam Undang-undang No. 39 tahun 1999 dan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam hal ini perlu perubahan paradigma bahwa pancatatan kelahiran adalah hak bukan kewajiban dimana setiap orang harus tunduk memenuhinya, tetapi juga bukan previlese dimana setiap orang harus memohon-mohon kepada pemerintah (Farid 1999). mengkaji ulang dan mengamandemen Undang-undang yang relevan dengan masalah pencatatan kelahiran seperti misalnya Undang-undang No. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan dan No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. mengurangi kendala struktural, administratif, politis, dan anggaran memperluas jangkauan pelayanan dengan melibatkan RS, Klinik Bersalin dan para dokter serta bidan agar mendorong para orang tua untuk segera mencatatkan kelahiran anak mereka dan meminta RS, Klinik Bersalin, dokter dan bidan menyediakan pelayanan pengurusan pencatatan kelahiran sebagai bagian dari pelayanan persalinan yang mereka lakukan.

16

f.

selain itu perlu kampanye publik dan sosialisasi tentang arti dan manfaat pencatatan kelahiran yang dituangkan ke dalam akta kelahiran kepada masyarakat secara luas, menggalang kerjasama dan bantuan lembaga-lembaga internasional agar segera tercapai Universal Birth Registration di Indonesia.

Anak korban kekerasan (fisik dan/mental) dan perlakuan salah ( child abuse). Belum ada data yang akurat karena masalah ini dianggap masalah domestik keluarga yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Laporan Komnas-PA mencatat sekitar 871 anak yang mengalami tindak kekerasan dan 80 persen menimpa anak di bawah umur 15 tahun. YKAI antara tahun 1994-1997 mencatat dari pemberitaan 3 media massa terdapat 538 kasus perlakuan salah secara seksual, 80 kasus perlakuan salah secara fisik, 63 kasus penelantaran, 5 kasus perlakuan salah secara psiko-emosional. Pelaku child abuse adalah orang yang dikenal anak (66 persen), termasuk orang tuanya (7,2 persen). Sebanyak 476 kasus kekerasan anak terjadi di rumah, sekolah dan tempat-tempat umum, berbentuk kekerasan fisik, mental dan seksual. Untuk kekerasan seksual sebanyak 289 kasus pada tahun 1996, pelaku ayah (19 kasus) dan guru (118 kasus). Data dari Korps Reserse POLRI (Pusat Korwas PPNS) yang dikumpulkan dari seluruh Polda di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut : Rekapitulasi Korban Kekerasan dari RPK di wilayah hukum POLDA seluruh Indonesia ( 1999-2002 )
No.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

Wilayah Hukum Polda Aceh Sumut Riau Sumbar Sumsel Lampung Bengkulu Jambi Metro Jaya Jabar Jateng Jatim Bali NTB NTT Kalbar Kaltim Kalteng Kalsel Sulsel Sultra Sulut Sulteng Maluku

Jenis kekerasan Perkosaan, perbuatan cabul, tarfiking, melarikan anak perempuan Perkosaan, perbuatan cabul, melarikan anak Perkosaan, perzinahan, melarikan anak perempuan, bigamy, penganiyaan, pengeroyokan, pembunuhan, pencurian Perkosaan, perbuatan cabul, melarikan anak perempuan, pelecehan, perzinahan, penganiyaan, pembunuhan Perkosaan, aborsi, penganiyaan, pelecehan nama baik Perkosaan, pencabulan, perzinahan, penganiyaan, penghinaan Perkosaan, perzinahan, penganiyaan Perkosaan, perbuatan cabul, perzinahan, melarikan anak perempuan, penganiyaan, bigamy, pencurian, penipuan Perkosaan, perzinahan, pencabulan, melarikan anak perempuan, penganiyaaan Perkosaan, perzinahan, pencabulan, melarikan anak perempuan, penganiyaaan Penganiyaan -

Jumlah korban 8 22 90 159 6 277 26 114 6 86 1 -

17

No. 26.

Wilayah Hukum Polda Papua

Jenis kekerasan Perkosaan, perzinahan, pencabulan, melarikan anak perempuan, penganiyaaan, psikotropika Total

Jumlah korban 15 810

Sumber: Korps Reserse POLRI (Pusat Korwas PPNS), 2002. Ruang Pemeriksaan Khusus dibentuk di jajaran kepolisian untuk bisa memberikan pelayanan khususnya kepada perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan (fisik dan/atau mental), agar korban dapat melaporkannya dalam ruang tertutup, nyaman dan aman kepada Polwan yang bertugas secara empatik, penuh pengertian dan professional. Selain itu, telah dibentuk pula Pusat Krisis Terpadu (PKT) berbasis rumah sakit yang dimotori oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan Kepolisian RI untuk menangani masalah kekerasan pada perempuan dan anak secara terintegrasi. Anak jalanan sangat rentan terhadap tindakan kekerasan baik fisik, mental dan seksual. Umumnya anak jalanan mengalami eksploitasi di tempat-tempat umum, perkosaan, kehamilan tanpa ayah, ditolak masyarakat dan hampir tidak ada akses kepada pelayanan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial dan informasi penting lainnya. Bentuk perlakuan salah terhadap anak-anak Indonesia ini meliputi fisik, emosional, sosial dan seksual. Banyak kasus tidak terpublikasikan, sehingga belum ada data lengkap tentang hal ini. Namun berdasarkan pemantauan terhadap 13 media cetak selama tahun 1994 s/d 1997, YKAI melaporkan 538 kasus perlakuan salah secara seksual, 80 kasus perlakuan salah secara fisik, 63 kasus penelantaran, dan 5 kasus perlakukan salah secara emosional. Pelaku child abuse ini adalah orang yang dikenal anak (66 persen), termasuk orangtuanya sendiri (7,2 persen). g. Anak korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza). Kondisinya cenderung meningkat dan semakin parah, data Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Fatmawati, Jakarta sampai akhir tahun 2000 memberikan gambaran tersebut. Penderita berobat jalan menjadi 6.196 orang (2000) meningkat dari 4.432 orang (1999). Data ini tidak menggambarkan jumlah korban pemakaian napza yang sebenarnya dan diperkirakan jumlahnya lebih besar lagi. Anak korban penyalahgunaan napza banyak di dominasi kelompok umur remaja bahkan kelompok umur yang amat muda yaitu di bawah 15 tahun. Hal ini, dilatar belakangi kondisi kepribadian yang masih labil dan pengaruh lingkungan dimana remaja tinggal dan bersosialisasi. Pada tahun 1995-1996 rawat inap kelompok umur ini mecapai 2 persen dan 3 persen sedang rawat jalan berturut-turut sebanyak 8,8 persen dan 12,6 persen. Kelompok umur lainnya yaitu umur (15-19 tahun) dan (20-24 tahun), namun sampai akhir tahun 2000 kelompok umur (20-24 tahun) semakin dominan (Indikator dan Profil KPA 2002). YKAI mengestimasi pecandu napza di Indonesia telah mencapai 1,5 juta orang dan di Jakarta saja diperkirakan sekitar 130.000 orang, sebagian besar pecandu berumur di bawah 18 tahun. Angka sebenarnya diperkirakan mendekat 3 juta dengan jumlah pecandu anak di bawah 18 tahun mendekati 500.000-1.500.000 anak.

18

Penggunaan narkoba suntikanpun saat ini, cenderung meningkat dan beresiko menularkan berbagai penyakit melalui jarum suntik yang digunakan secara bersama-sama seperti Hepatitis dengan prevalensi sekitar 60-80 persen dan HIV dengan prevalensi sekitar 40-60 persen. Penelitian yang dilakukan di sebuah klinik ketergantungan obat di Jakarta menunjukkan 543 (75 persen) pecandu adalah pengguna narkoba suntikan dan 71 persen diantaranya telah menyuntik selama 1-4 tahun. Survei lain di dua kelurahan di Jakarta tahun 1990 menunjukkan bahwa 60-70 persen dari remaja (di bawah 18 tahun) merupakan pengguna nakoba dan 60 persen dari pengguna tersebut adalah pengguna narkoba suntikan (Syamsurizal Jauzi,1999). Pemerintah melalui Keppres No. 17 tahun 2002 telah membentuk Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bertugas melaksanakan koordinasi dengan instansi pemerintah terkait dalam rangka ketersediaan, pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaaan dan peredaran gelap napza. Kemudian melalui Inpres No. 3 tahun 2002 tentang Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif lainnya telah memerintahkan kepada instansi terkait untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran narkotika gelap dengan melakukan koordinasi dengan Badan Narkotika Nasional di tingkat nasional maupun daerah. Dari sisi legislasi yaitu Undangundang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, kurang memberikan perlindungan kepada anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Anak yang menggunakan dan mengedarkan narkotika dan psikotropika dapat dikenai sanksi sebagai offenders. Kelihatannya masalah penyalah gunaan napza sudah tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan formalistik hukum, kecaman sosial ataupun agama, melainkan diperlukan penegakan hukum dan sanksi hukum yang tegas dan berat bagi para produsen, pengedar dan pelaku (traffickers). h. Anak jalanan. Krisis ekonomi telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat yang menyebabkan peningkatan jumlah kelompok rentan termasuk anak telantar dan anak jalanan. Fenomena sosial anak jalanan terutama terlihat nyata di kota-kota besar setelah dipicu krisis ekonomi di Indonesia. Hasil kajian Departemen Sosial tahun 1998 di 12 kota besar, melaporkan jumlah anak jalanan sebanyak 39.861 anak dan sekitar 48 persen adalah anak-anak yang baru turun ke jalan sejak tahun 1998. Secara nasional diperkirakan sebanyak 60.000-75.000 anak jalanan dan 60 persen putus sekolah serta 80 persen masih ada hubungan dengan keluarganya, serta sebanyak 18 persen adalah anak jalanan perempuan yang beresiko tinggi terhadap kekerasan seksual, perkosaan, kahamilan diluar nikah dan terinfeksi PMS serta HIV/AIDS. Umumnya anak jalanan hampir tidak mempunyai akses terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan dan perlindungan, keberadaan mereka ditolak oleh masyarakat dan sering mengalami penggarukan (sweeping) oleh pemerintah kota setempat. Penanganan anak jalanan telah dilakukan oleh pemerintah sejak terjadinya krisis ekonomi berlangsung melalui rumah singgah dalam skema jaring pengaman sosial (Social Safety Net). Pelayanan yang diberikan melalui rumah singgah antara lain upaya penyelamatan anak jalanan, pelayanan dasar seperti pemberian makanan tambahan (PMT), beasiswa, registrasi, tutorial, latihan ketrampilan, 19

reunifikasi keluarga, bimbingan kewirausahaan dan penyuluhan sosial. Penanganan anak jalanan perlu dilanjutkan mengingat anak jalanan sangat rawan, hak-haknya tidak tidak terpenuhi, sangat rentan terhadap eksploitasi, diperlakukan salah, ditelantarkan dan mengalami diskriminatif. Anak jalanan berada dalam situasi yang buruk untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya. Dalam kondisi yang sudah parah anak jalanan cenderung melakukan tindak kriminal dan mendorong terjadinya gangguan keamanan dan instabilitas sosial, karena anak jalanan sering berada dalam lingkungan pelaku kejahatan kota. Dari kajian dampak pelayanan program jaring perlindungan sosial di 4 kota besar (Yashinta 2001) terungkap bahwa alasan anak bekerja di jalan karena membantu pekerjaan orang tua (71 persen), dipaksa membantu orang tua (6 persen), menambah biaya sekolah (15 persen) sedangkan alasan jajan, ingin hidup bebas, dapat teman dll. (11 persen). Alasan ekonomi keluarga kelihatannya pendorong utama anak bekerja di jalan, akibat kondisi anak demikian, maka 13 persen anak jalanan mengalami putus sekolah. Anak dalam usia sekolah, seharusnya tidak dibebani pekerjaan, selain untuk menimba ilmu pengetahuan di sekolah. Bagi anak yang turun ke jalan untuk membantu orang tua, pada umumnya seluruh penghasilan diberikan kepada orang tuanya. Anak tersebut menjadi aset ekonomi keluarga dan ketergantungan ekonomi keluarga yang akan mempersulit upaya-upaya menarik anak dari jalanan dan mengembalikan mereka ke dunia anak-anak. Kajian juga memperlihatkan, berbagai manfaat yang diterima anak jalanan dan orang tuanya selama pelaksanaan program tersebut (1998-2000) terungkap bahwa populasi anak jalanan berkurang (16 persen), kelangsungan pendidikan anak terpelihara (68 persen), adanya altenatif pekerjaan selain di jalan (8 persen), berkembangnya usaha ekonomi orang tua anak jalanan (52 persen) dan anak terhindar dari perlakuan kekerasan, eksploitasi, tindakan/perlakuan salah dan penelantaran serta penurunan tindak kejahatan (94 persen). Nampaknya program penanganan anak jalanan melalui Rumah Singgah masih diperlukan dengan penekanan pada efisiensi dan efektifitas yang tinggi yang menurut hasil kajian baru sekitar 14 persen dari 22 responden rumah singgah. Pada dekade ke depan diperlukan kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan perlindungan dan akses pelayanan publik serta upaya-upaya menekan jumlah anak jalanan di Indonesia. i. Anak yang berhadapan dengan hukum. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan HAM, tercatat jumlah anak didik di LAPAS Anak sebanyak 3.722 anak (Departemen Kehakiman dan HAM, Agustus 2002). Di Indonesia anak mempunyai tanggung jawab hukum pada umur 8 tahun sedangkan Beijing Rules menetapkan 12 tahun. Statistik kriminal BPS memperlihatkan jumlah narapidana anak dari tahun 1995 sampai dengan 1997 secara berturut-turut sebagai berikut 5.234 anak, 4.479 anak dan 4.079 anak, terlihat terdapat penurunan jumlah narapidana anak antara tahun 1995 hingga 1997, apakah karena efektivitas diberlakukannya Undang-undang No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, tentunya masih memerlukan kajian lebih jauh, sementara peraturan pemerintah untuk pelaksanaan undang-undang tersebut belum terformulasi. Kasus terbanyak dari anak-anak yang berhadapan dengan hukum adalah pencurian (60 persen) dan perkelahian (13 persen). Anak 20

yang berhadapan dengan hukum selain dilihat sebagai subyek harus pula diperhatikan adanya anak-anak yang merupakan korban dari tindakan hukum orang dewasa seperti kasus-kasus ESKA, trafiking, anak yang mengalami abuse dan anak jalanan di mana pelaku yang harus dikriminalisasi bukan anak-anak. Sebagian besar dari narapidana anak dijatuhi hukuman kurang dari 1 tahun dengan prosentase berturut-turut sebagai berikut 90 persen (1995), 87,6 persen (1996), 88,5 persen (1997). Tidak ada narapidana anak yang dihukum seumur hidup dan sebagian hakim lebih memilih memberikan putusan hukuman penjara dari pada hukuman kurungan pengganti denda. Beijing rules menetapkan bahwa hukuman penjara sebagai upaya terakhir. Kondisi di atas, tidak berarti materi hukum, prosedur hukum dan aparat hukum yang ada telah harmonis dengan berbagai instrumen hukum internasional yang berkaitan dengan anak seperti Konvensi Hak-hak Anak pasal 37 & 40, UN Guidelines for the Prevention of Juvenile Deliquency (Ryardh Guidelines), UN Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice (Beijing Rules) dan UN Rules for the Protection of Juveniles Deprived their Liberty, dimana Indonesia turut menyetujui. Sesuai data yang ada pada Departemen Kehakiman dan HAM, bahwa jumlah anak yang bermasalah dengan hukum yang terdapat dalam Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara seluruh Indonesia sampai bulan Mei 2003 sebagaimana rincian sebagai berikut: Jenis anak dalam Lapas dan Rutan Anak di Lapas a. Napi Anak b. Anak Negara c. Anak sipil Jumlah anak di Lapas Anak di Rutan

No. 1.

Jumlah L 1.874 101 3 1.978 894 P 95 2 97 35 132

Total 1.969 103 3 2.075 929 3.004

Ket.

2.

TOTAL 2.872 Sumber: Dep. Kehakiman dan HAM (Mei, 2003)

Yang menjadi permasalahan dalam upaya pemenuhan dan perlindungan hak anak yang bermasalah dengan hukum di Lembaga Pemasyarakatan dan Rutan adalah: 1. Tidak semua propinsi memiliki Lembaga Pemasyarakatan dan Rutan anak. 2. Lembaga Pemasyarakatan dan Rutan Anak belum mempunyai sarana dan prasarana yang memadai sebagai tempat pembinaan dalam upaya pemenuhan dan perlindungan hak anak. 3. Dengan adanya over kapasitas penghuni LP dan Rutan dewasa, khusus pada kota-kota kadang-kadang terjadi penghuni LP dewasa dititipkan pada LP anak. Anak yang berkonflik dengan hokum, menurut BPS, setiap tahunya terdapat lebih dari 4.000 perkara pelanggaran hokum yang dilakukan anak-anak di bawah

21

uis 16 tahun. Tahun 1994 terdapat 9.442 perkara, menurun pada tahun 1995 (4.724 perkara). Dari seluruh anak yang ditangkap sekitar separuhnya diajukan ke pengadilan dan 83 persen dari mereka kemudia dipenjarakan. Anak yang berkonflik dengan hukum meliputi juga Anak Nakal, yang menurut pengertian Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yaitu anak yang melakukan tindak pidana; atau anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hokum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Jumlah Anak Nakal yang dikatagorikan sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial sebanyak 193.155 (Departemen Sosial, 2002). Sesungguhnya anak yang berkonflik dengan hukum merupakan bagian dari anak yang membutuhkan perlindungan khusus j. Situasi anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus . Sementara itu anak-anak yang menyandang cacat pada tahun 2002 jumlahnya 367.520 orang, sebagian besar belum tersentuh oleh program rehabilitasi. Permasalahan anak-anak cacat pada umumnya karena keterbatasan kemampuan dalam mengakses pelayanan dasar yang disebabkan kondisi orang tua yang miskin. Selain itu permasalahan mendasar yang dialami penyandang cacat di Indonesia adalah penyediaan aksesibilitas umum yang belum merata, baik aksesibilitas fisik maupun non fisik. Upaya ke arah pemberian perlindungan terhadap anak yang memerlukan perlindungan khusus telah dimulai ketika pada tanggal 23 Juli 1997 bertepatan dengan Hari Anak Nasional Presiden RI mencanangkan Gerakan Nasional Perlindungan Anak (GNPA). Anak yang memerlukan perlindungan khusus jumlahnya mencapai 6.686.936 anak. Implementasi dari gerakan tersebut pada tahun itu juga telah diundangkan Undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan Pembentukan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di Pusat dan pada tingkat propinsi di Indonesia. Undang-undang tentang Pengadilan Anak merupakan bentuk komitmen Pemerintah untuk memberi perlindungan terhadap anak yang mengalami konflik dengan hukum, sementara LPA dimaksudkan sebagai lembaga Non Pemerintah yang memberikan advokasi, perlindungan dan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi anak. Dengan nomenklatur yang berbedabeda saat ini telah terbentuk LPA/institusi Perlindungan Anak di seluruh Propinsi di Indonesia. Upaya lain yang sudah dilakukan adalah membangun rumah/panti perlindungan, trauma center, RPK, Lembaga Pemasyarakatan Anak, Panti Rehabilitasi Sosial dan sebagainya. k. Anak yang membutuhkan orang tua pengganti. Mereka adalah anak yang berusia di bawah 5 tahun, dan hingga bulan Agustus 2003, Departemen Sosial mencatat 1115 anak, baik yang diadopsi melalui prosedur domestic adoption (863), maupun inter-country adoption (252). Namun demikian diperkirakan masih terdapat pengangkatan anak yang tidak sesuai dengan ketentuan, yang di antaranya sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung No.6 Tahun 1983, yang selanjutnya melahirkan praktrek-praktek adopsi ilegal.

22

l.

Anak dari kelompok minoritas. Anak-anak dari kelompok minoritas baik suku bangsa, agama, bahasa atau orang-orang asli berhak bermasyarakat dengan anggota lain dari kelompoknya serta dijamin haknya untuk menikmati kebudayaannya, melaksanakan agamannya dan menggunakan bahasanya sendiri. Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Departemen Sosial, 1996) populasi komunitas adat terpencil anak-anak di bawah 18 tahun. Pada umumnya anak-anak tersebut belum tersentuh pelayanan pendidikan dasar, pelayanan kesehatan dan pelayanan kesejahteraan sosial lainnya. Tingkat kesejahteraan komunitas adat terpencil umumnya termasuk kategori sangat miskin. Pemerintah melalui berbagai kebijakan dan program berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat terasing antara lain dilaksanakan oleh Departemen Sosial juga oleh lembaga non pemerintah. Bagi anak-anak di daerah terpencil kepada orang tua mereka dibangunkan pemukiman baru dengan fasilitas sosial yang memadai sehingga dapat lebih menjamin pemenuhan hak-hak dasar anak. Di pemukiman ini anak-anak dapat mengikuti pendidikan, pelayanan kesehatan, akses informasi/hiburan dan transportasi umum. Sampai dengan tahun 2002, anak-anak dari Komunitas Adat Terpencil yang telah memperoleh pelayanan sosial di pemukiman baru sebanyak 120.000 anak. Anak Komunitas Adat Terpencil, sebanyak 233.858 KK atau 939.432 orang dan 30 persen atau sekitar 282.000 di antaranya adalah anak-anak (Departemen Sosial, 2002).

m.

Anak penyandang cacat. Data menunjukkan bahwa anak penyandang cacat sebanyak 358.738 anak (Departemen Sosial, 2002). Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap deteksi dini kecacatan dan kehamilan yang tidak diinginkan merupakan permasalahan yang kerap muncul pada anak penyandang cacat. Penyandang cacat anak umur (0-4 tahun) sebanyak 0,01 persen atau sekitar 57-58 anak umur (0-4 tahun) dari setiap 10.000 penduduk. Penyebab kecacatan dibawa sejak lahir sebanyak 34,9 persen dan akibat kecelakaan dan bencana alam sebanyak 15,2 persen. Jenis kecacatan yang banyak terjadi yaitu cacat tubuh (35,8 persen), cacat netra (17 persen), cacat rungu (14,27 persen), cacat mental (12,15 persen) dan lain-lain kurang dari 7 persen (RIP KPA 2001). Kebijakan dan pelayanan bagi mereka meliputi upaya-upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasi melibatkan berbagai sektor terkait antara lain kesehatan, sosial, dan pendidikan. Dari analisis situasi dan kondisi anak yang dicerminkan dari berbagai perlakuan salah seperti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa: a. Perlakuan salah terhadap anak dapat dilakukan oleh orang perorang, keluarga, masyarakat bahkan oleh negara sekalipun, selalu terdapat unsurunsur penyalahgunaan anak (abuse), kekerasan (fisik dan/atau mental), eksploitasi (ekonomi, seksual), dan diskriminasi. b. Perlunya penyadaran masyarakat dan para penyelenggara negara tentang permasalahan tersebut c. Diperlukan adanya kebijakan nasional yang komprehensif dan integral sebagai payung dalam penanganan

23

d. Adanya reformasi hukum, peningkatan dan penegakan hukum dalam memberikan perlindungan e. Akses pelayanan publik yang terjangkau secara adil dan merata bagi anakanak tersebut baik yang bersifat pencegahan, remedial maupun pemulihan dan reintegrasi sosial/keluarga f. Perlu adanya struktur dan infra struktur dengan leading sector yang jelas untuk penanganan g. Mobilisasi sumber daya baik nasional, daerah, dan masyarakat h. Koordinasi dan kerjasama baik lokal, nasional, regional dan internasional i. Adanya sistem informasi yang menjangkau hasil-hasil survei atau laporan kasus yang akurat untuk mendukung mekanisme penanganan j. Partisipasi anak sebagai subjek diperlukan pada setiap langkah penanganan melalui pemberdayaan anak yang bersifat bottom-up. Penyebab masalah Penyebab masalah anak yang memerlukan perlindungan dari perlakuan salah pada umumnya dapat dibagi ke dalam : a. Penyebab makro Penyebab yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah di bidang pembangunan sosio-ekonomi yang kurang tepat menyebabkan adanya kesenjangan pembangunann antar wilayah, antar sektor, antar kelompok masyarakat dsb. dengan akibat terjadi kesenjangan kesejahteraan dan kekayaan antar wilayah dan kelompok masyarakat serta terjadi kemiskinan struktural, rendahnya kebijakan peduli anak dari sektor di tiap tingkatan, tidak adanya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundangan-undangan tentang anak, penegakan hukum, pengawasan dan bimbingan yang berkaitan dengan pelaksanaan program, dan pembangunan kesejahteraan dan perlindungan anak yang lemah. b. Penyebab meso Penyebab yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan sosio-budaya masyarakat seperti belum terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender pada masyarakat patrilineal dan feodal, nilai sosio-budaya perkawinan dini, anak dipandang sebagai aset orangtua untuk peningkatan ekonomi keluarga dsb. c. Penyebab mikro Penyebab yang berkaitan dengan diri anak dan keluarganya seperti anak lari dari keluarga, anak ingin berpetualang, gaya hidup konsumerisme, kesulitan berhubungan dengan keluarga dan tetangga, rendahnya pendidikan dan keterampilan, degradasi moral, buta huruf, disfungsi keluarga, penelantaran, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar anak, ditolak orang tua, salah pengasuhan, kekerasan di rumah, terpisah dari orang tua dan keterbatasan kemampuan orang tua merawat anak. Faktor-faktor pengaruh a. Politik Dari sudut pandang politis kadangkala persoalan anak masih dianggap ringan dan sering dibicarakan secara musiman. Di kalangan politisi persoalan anak 24

tidak masuk agenda politik barangkali karena dianggap anak tidak dapat dijadikan pendukung politik dan bukan merupakan isu politik yang dapat dijual pada saat kampanye Pemilu. b. Ekonomi Krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda Indonesia selain meningkatkan permasalahan anak juga telah menurunkan kemampuan pemerintah dalam penyediaan anggaran pembangunan untuk pengembangan sumberdaya manusia yang di dalamnya terkait permasalahan anak yaitu pendidikan dan kesehatan. Pemerintah selama periode 1992-2000 mengalokasikan anggaran untuk sektor pendidikan rata-rata hanya 6 persen dan kesehatan 3,9 persen, berapa yang teralokasi untuk perlindungan anak belum diketahui secara pasti (bandingkan dengan anggaran sektor pendidikan negara lain: Malaysia, Singapura di atas 10 persen, Rusia, China 25 persen). Dengan demikian, terlihat bahwa prioritas terhadap kesejahteraan dan perlindungan anak masih sangat kurang. c. Hukum Peraturan perundang-undangan tentang anak di Indonesia sebenarnya telah banyak yang di buat oleh pemerintah bersama legislatif. Melalui ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak dengan Keppres No. 36 Tahun 1990, merupakan titik tolak pengakuan hak-hak anak mengingat implikasi dari ratifikasi tersebut, maka Indonesia berkewajiban memenuhi ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Konvensi Hak-hak Anak tersebut, melalui berbagai kebijakan nasional dan peraturan perundangan. Namun secara faktual berbagai peraturan perundangan tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya karena banyak Undang-undang tersebut belum mempunyai Peraturan Pemerintah untuk menjalankannya. Di samping itu, masih ada Undang-undang yang perlu diharmonisasi dengan ketentuan-ketentuan Konvensi Hak-hak Anak dan instrumen hukum internasional lainnya. d. Sosio-budaya Faktor sosio-budaya seperti perkawinan dini usia (di bawah 16 tahun) masih cukup dominan baik di daerah rural maupun urban di Indonesia, meskipun usia perkawinan diantara anak perempuan telah meningkat pada periode terakhir ini. Lima propinsi yang masih cukup tinggi perkawinan dini usia (Susenas 1997) berturut-turut yaitu Jawa Timur (28 persen), Jawa Barat (27,2 persen), Kalimantan Selatan (27 persen), Jambi (23 persen), dan Sulawesi Tengah (20,8 persen). Persentase perempuan umur (15-19 tahun) yang pernah kawin di daerah rural (5 persen), tiga kali lebih banyak dibandingkan daerah urban (15,6 persen). Hal ini, mencerminkan karena akses sekolah dan pelayanan kesehatan yang lebih baik di daerah urban, adanya kesempatan/peluang kerja dan kurangnya tekanan nilai sosio-budaya untuk segera kawin setelah haid pertama. Pekawinan dini usia, jelas mempengaruhi hak anak untuk memperoleh pendidikan, perkembangan kematangan kepribadian anak dan meningkatnya peceraian yang mendorong anak terjerumus kepada perdagangan anak dan eksploitasi seksual komersial anak/pelacuran yang beresiko tinggi tertular PMS/HIV/AIDS. Selai itu, ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam masyarakat yang masih patrineal dan feodal turut menentukan peranan dan kedudukan anak perempuan yang tidak setara dan adil dengan anak laki-laki terutama dalam keluarga miskin.

25

e.

Sektor/struktural Kultur birokrasi di Indonesia masih belum berpihak kepada anak, bahkan permasalahan anak masih dilihat secara sektoral belum dilihat secara menyeluruh dan terpadu. Kebijakan peduli anak atau menjadikan kesejahteraan dan perlindungan anak sebagai arus utama pembangunan sektor dan daerah masih belum seperti yang diharapkan. Masih ada persepsi yang salah dari sebagian sektor dan pemerintah daerah bahwa pembangunan kesejahteraan dan perlindungan anak masih dianggap konsumtif dan tanpa memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah.

II.

TUJUAN

Tujuan yang dirumuskan tidak terlepas dari tujuan pembangunan nasional yang telah dirumuskan dalam GBHN 1999-2004 dan PROPENAS yaitu pembangunan sumberdaya manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin. Pembangunan sumber daya manusia tersebut, harus dimulai sejak dini dari masa dalam kandungan sampai anak usia 18 tahun yang mencakup di dalamnya : a. hak hidup dan kelangsungan hidup, hak tumbuh kembang dan hak perlindungan khusus dari perlakuan/tindakan salah b. pelaksanaan dan penegakan hukum dari semua Undang-undang yang berkaitan dengan perlindungan anak, c. pelaksanaan Rencana Aksi Nasional yang berkaitan dengan perlindungan anak. Tujuan yang dirumuskan akan sejalan dengan tujuan dari World Fit For Children (WFFC), Milleneum Development Goals (MDG), berbagai instrumen internasional lainnya yang telah disetujui pemerintah Indonesia dalam menentang trafiking anak, ESKA, anak yang berhadapan dengan hukum dan Universal Birth Registration. Untuk itu, dirumuskan tujuan sebagai berikut : Tujuan umum: Anak Indonesia terlindungi dari berbagai bentuk perlakuan/ tindakan salah. III. OBJEKTIF/SASARAN :

Meningkatnya upaya-upaya perlindungan anak Indonesia dari berbagai bentuk perlakuan/tindakan salah melalui berbagai bidang kegiatan yang akan dibagi ke dalam: a. b. c. d. e. Pencegahan Perlindungan hukum Pemulihan anak dan reintegrasi sosial / keluarga Peningkatan koordinasi dan kerjasama baik tingkat lokal,nasional,regional dan internasional. Peningkatan partisipasi anak 26

Objektif dari masing-masing kegiatan dapat dilihat di dalam matriks berikut. IV. KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan : a. b. c. peningkatan kesadaran bagi penyelenggara negara dan masyarakat tentang perlindungan anak pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan perlindungan anak terutama anak-anak yang berada dalam keadaan darurat / sulit. reformasi hukum yang berkaitan dengan perlindungan anak meliputi aspek substansi, prosedur, prasarana/sarana, aparat dan budaya hukum. membangun jejaring kerja diantara pihak-pihak terkait baik di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional.

d.

Strategi : a. perlindungan anak dilakukan secara terpadu dan menyeluruh (tidak hanya sektor perlindungan anak tetapi juga pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, hukum & HAM, agama dsb.) dengan melibatkan seluruh penyelenggara negara lainnya dan masyarakat dalam jejaring kerja yang efisien, efektif dan kondusif. prioritas diberikan kepada anak yang berada dalam keadaan darurat / sulit beserta keluarganya, khususnya anak dari keluarga miskin agar terjamin dan terpenuhi hak-haknya serta mengintegrasikannya ke masyarakat. penegakan hukum di bidang perlindungan anak secara konsisten dan konsekuen dengan mengkriminalisasi pelaku kejahatan sedangkan anak adalah korban dari kejahatan tersebut. Pendayagunaan kelembagaan berbasis masyarakat sebagai pemantau perlindungan anak di lini terdepan perlindungan anak dilaksanakan melalui pendekatan partisipasi anak mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.

b.

c.

d. e.

27

KEGIATAN UTAMA PERLINDUNGAN ANAK DARI BERBAGAI PERLAKUAN SALAH TERMASUK KEKERASAN (FISIK DAN/ATAU MENTAL), EKSPLOITASI (EKONOMI, SEKSUAL) DAN DISKRIMINASI TAHUN 2003 S/D 2015 BIDANG: i. OBJEKTIF : a. b. c. Adanya model dan peta permasalahan untuk menentukan penyebab dan faktor perlakuan salah terhadap anak Diseminasi informasi tentang perlakuan salah terhadap anak serta upaya-upaya pencegahannya ke seluruh lapisan masyarakat Peningkatan upaya-upaya penyadaran masyarakat dan para penyelenggara negara tentang anak-anak yang diperlakukan salah melalui berbagai media massa Perluasan akses pelayanan publik kepada anak-anak yang diperlakukan salah secara adil dan merata PENCEGAHAN

d.

28

Keluaran a. Kajian untuk menentukan penyebab dan faktor perlakuan salah terhadap anak

Kegiatan melakukan kajian: - secara regional tentang perlakuan salah terhadap anak - tentang pelaku dan jaringan kerjanya - case study dari anak korban - sumber daya seminar secara regional dengan pakar anak membuat model/peta permasalahan Melakukan kampanye publik secara ekstensif melalui berbagai media cetak dan elektronik misal iklan layanan masyarakat tentang undang-undang dan hak-hak anak atas per-lindungan dari berbagai perlakuan salah

Jadual Mulai 2004

Penanggungjawab KPP Bappenas Pemprop Pemkab/kota

Indikator Kajian dilaksanakan secara regional Tersedianya model & peta permasalahan anak yang diperlakukan salah

Mitra Departemen/ Kementerian terkait Perguruan Tinggi Pakar anak

a. S osialisasi Undangundang Perlindungan Anak dan undangundang lain yang berkaitan dengan anak, serta berbagai RAN dan Hak-hak anak atas perlindungan dari berbagai tindakan salah ke seluruh lapisan masyarakat

Mulai 2003

Menko Kesra, KPP, Bappenas, Depsos, Meninfokom, Pemprop, Pemkab/kota

Terlaksananya kampanye publik melalui berbagai media termasuk media cetak & elektronik Laporan kampanye secara berkala

LSM/ORMAS Kelompok/ organisasi anak Sekolah-sekolah Depdiknas Depsos Depag Media massa

29

Keluaran

Kegiatan mengintegrasikan pendidikan hak-hak anak dan pencegahan dari berbagai perlaku-an salah kedalam kurikulum SD, SLTP, SMU/madrasah

Jadual 2003-2015

Penanggungjawab Depdiknas, Depag, KPP, Pemprop, Pemkab/kota Depdiknas, Bappenas, Depag, Depkes, Pempprop, Pemkab /kota

Indikator Tersedianya modul pendidikan hak-hak anak dan pencegah-an yang diintegrasi-kan ke dalam kuri-kulum SD,SLTP, SMU/madrasah Meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah Murni Drop-out sekolah turun/rendah Tersedianya jaminan sosial / beasiswa berbasis program dan masyarakat Cakupan pelayan-an kesehatan bagi anakanak meningkat. Usia kawin pertama meningkat Masalah kesehatan reproduksi anak dan remaja menurun.

Mitra LSM/ORMAS Kelompok/ organisasi anak Sekolah /madrasah Departemen/ Kementerian terkait LSM/ORMAS

b.

P erluasaan jangkauan /akses pelayanan: - Pendidikan dasar (BEFA) - jaminan sosial / beasiswa - pelayanan kesehatan

Menyediakan akses bagi pemenuhan: - pendidikan dasar 9 tahun kepada anak-anak usia sekolah - jaminan sosial / beasiswa bagi anak tak mampu - pelayanan kesehatan

2003-2015

c. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang penundaan usia perkawinan dan masalah kesehatan reproduksi anak dan remaja. Melakukan kampanye penundaan usia perkawian Sosialisasi Kesehatan Reproduksi anak dan remaja. Mulai 2003 BKKBN, Depkes, Depag, Depsos, KPP, Pemprop, Pemkab/Kota

Departemen/ Kementerian terkait LSM/ORMAS Org. Profesi

30

6.

Keluaran Peningkat an peran dan tanggung jawab pelaku industri pariwisata dalam pencegahan ESKA, PMS/HIV/AIDS

Kegiatan Melakukan sosialisasi dan kampanye di lingkungan industri pariwisata guna menolak dan mencegah ESKA, PMS/HIV/AIDS

Jadual 2003-2015

Penanggungjawab Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Meninfokom, Depkes, Pemprop, Pemkab/ Kota

Indikator Terlaksananya Program kampanye di lingkungan industri pariwisata Menurunnya kasus ESKA, PMS/ HIV / AIDS

Mitra Departemen/ Kementerian terkait Pelaku Industri Pariwisata LSM/ORMAS Komisi Perlindungan Anak Indonesia Kelompok/ org. anak Balegnas PT LSM/ORMAS DPR

7.

Berkemba ngnya sistim hukum yang kuat sebagai faktor deteren untuk mencegah terjadinya berbagai perlakuan salah terhadap anak

Menggalang komitmen guna memperkuat hukum pidana dan perdata nasinal yang lebih berorientasi pada perlindungan terhdap berbagai perlakuan salah terhadap anak

2004-2010

Depkeh & HAM, BPHN, Kejaksaan Agung, Polri, Bappenas, KPP.

8.

Perluasan jangkauan pencatatan kelahiran.

Reformasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pencatatan kelahiran Sosialisasi tentang manfaat pencatatan kelahiran Memperluas jangkauan pelayanan pencatatan kelahiran

2004-2010

Depdagri Menko KESRA, Pemprop Pemkab/Kota

Terumuskannya: Program pengua-tan hukum pidana dan perdata Amandemen hukum pidana dan perdata yag berorientasi pada perlindungan terhadap perlakuan salah Tersedianya peraturan perundang-undang-an catatan sipil Tersedianya pelayanan sampai di tingkat desa/kelurahan Peningkatan kepemilikan akte kelahiran di seluruh wilayah

Departemen/Keme nterian terkait Balegnas PT. LSM/ORMAS DPR Meninfokom

31

9.

Keluaran Peningkat an pengetahuan, peran dan partisipasi pembuat kebijakan, tenaga profesional dan relawan dalam pencegahan dan perlindungn anak dari berbagai perlakuan salah Peningkat an peran dan kepedulian media dalam sosialisasi masalah perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah

Kegiatan Seminar/workshop tentang pencegahan dan perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah Studi banding tentang materi terkait Pendidikan dan pelatihan bagi pembuat kebijakan, tenaga profesional dan relawan. Memasukkan materi-materi abuse/ kekerasan/eksploitasi di dalam pemberitaan dan tayangan media massa. Membuat self help internet site yang memberikan petunjuk pada para penggunanya

Jadual Mulai 2003

Penanggungjawab Depdiknas, Depag, Depkes, KPP, Depsos.

Indikator Terselenggaranya workshop, seminar, studi banding, dan pendidikan/latihan Tersedianya bahan materi pelatihan

Mitra Department/Instans i terkait, PT/Lembaga Pendidikan LSM/ORMAS

10.

2003-2015

Meninfokom, KPP, Depsos

Terselenggaranya pemberitaan dan tayangan media massa tentang perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah secara berkesinambungan

Department/Instansi terkait, PT/Lembaga Pendidikan LSM/ORMAS Pakar/narasumber Organisasi profesi

32

BIDANG : ii. OBJEKTIF : a. Jaminan perlindungan hukum dengan melakukan reformasi hukum dan peraturan pelaksanaan undang-undang yang berkaitan dengan perlakuan/tindakan salah terhadap anak (pekerja anak, trafiking anak, ESKA, KUHP, pencatatan kelahiran) Jaminan penegakan hukum yang konsisten dan konsekwen terhadap pelaku dan memberikan perlindungan terhadap anak-anak korban Kepedulian masyarakat dan penegak hukum terhadap tayangan pornografi anak melalui internet dan media massa lainnya Capacity building aparat penegak hukum Peningkatan komitmen dalam Integrated Criminal Justice System (ICJS) di antara institusi dan para penegak hukum PERLINDUNGAN HUKUM

b. c. d. e.

33

Keluaran a. Kebijakan nasional dan peraturan perundangundangan yang memberikan perlindungan yang lebih memadai bagi anak dari berbagai tindakan salah

Kegiatan Menindak lanjuti ratifikasi instrumen internasional yang berkaitan dengan perlindungan anak dan telah disetujui pemerintah R.I. dalam bentuk undangundang

Jadual 2003-2010

Penanggung-jawab Depkeh & HAM, Deplu, Menko Kesra, KPP, BPHN.

Indikator DraftRUU berdasarkan ratifikasi konvensi internasional: Opt.prot. to the CRC Sale of Children, Child Prostitution and Child Pornography;

Mitra Departemen/instanster kait Komnas HAM Komisi Perlindung-an Anak Indonesia LSM/ORMAS Perguruan Tinggi Pakar pemerhati anak Balegnas DPR Pemprop, pemkab/kota

Melakukan harmonisasi/penelaahan atas peraturan perundangundangan nasional dengan standar yang ditetapkan secara internasional yang berkaitan dengan perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah

2004-2015

Depkeh & HAM, BPHN, KPP

Conv. On Trans Oganized Crime; Prot. to the TOC; Intr.Conv.for the Suppr.of the Traffic in Persons and of the Expl.of the Prost.of Others Penerapan perundangundangan yang harmonis dan konsisten -

Departemen/instansi terkait Komnas HAM Komisi Perlindungan Anak Indonesia Perguruan Tinggi Pakar anak LSM /ORMAS Pemprop, pemkab/kota

34

Keluaran

Kegiatan Kajian untuk melakukan penyerasian kebijakan hukum nasional (material dan prosedural) sesuai dengan standar internasional, terutama di wilayah hukum pidana dan hukum perdata berkaitan dengan perlindungan kepada anak korban. Membuat legislasi ekstrateritorial untuk kasus-kasus perlakuan salah terhadap anak. Membuat perjanjian ekstradisi untuk kasuskasus perlakuan salah terhadap anak baik secara bilateral maupun multilateral. Meningkatan mekanisme prosedur yang ramah anak dalam penanganan kasuskasus korban berbagai perlakuan salah bagi aparat penegak hukum

Jadual 2005-2015

Penanggung-jawab Depkeh & HAM, BPHN, Deplu

Indikator Draft usulan penyerasian hukum nasional di bidang pekerja anak, trafiking anak, ESKA, pencatatan kelahiran Ketentuan-ketentuan dalam perundangan nasional diamendir dan dilaksanakan secara konsekwen dan konsisten Berlakunya ketentuan legislasi ekstrateritorial Berlakunya ketentuan perjanjian ekstradisi

Mitra Departemen/instansi terkait Komnas HAM Komisi Perlindungan Anak Indonesia Perguruan Tinggi Pakar hukum anak Balegnas DPR Badan intelegensia internasional

b. Penguatan kelemba-gaan, mekanisme dan kemampuan aparat penegak hukum dalam menentang berbagai perlakuan salah terhadap anak

2004-2010

Depkeh & HAM, BPHN, POLRI Kejaksaan Agung

Disain pengembangan perangkat & prosedur yang ramah anak Program latihan

Perguruan Tinggi Pakar hukum anak Komnas HAM KPAI Dept/Instansi terkait, Praktisi Hukum

35

Keluaran

Kegiatan Penerapan Law enforcement secara konsisten terhadap pelaku

Jadual 2003-2010

Penanggung-jawab Depkeh & HAM, BPHN, Kejaksaan Agung, POLRI.

Indikator Usulan amandemen KUHP Penanganan kasus meningkat Sanksi hukum berjalan

Mitra Balegnas DPR Komnas HAM KPAI Perguruan Tinggi Pakar Hukum Anak LSM /ORMAS KPAI Pemprop Pemkab/Kota LSM/ORMAS

Melaksanakan sosialisasi dan advokasi kepada masyarakat tentang perlindungan dan penanganan anak yang beresiko dan menjadi korban berbagai perlakuan salah Merancang mekanisme sistem hukum terpadu /Integrated Criminal Justice System dalam penanganan kasus

2003-2010

Depkeh &HAM, Menko Kesra KPP, Depsos, Depnaker, Menbudpar. Depkeh & HAM POLRI Kejaksaan Agung

Disain program Kasus menurun Jumlah anak korban menurun

2004-2010

Terselenggaranya sistem hukum terpadu

LSM/ORMAS Komnas HAM KPAI Dept /Instansi terkait

36

Keluaran c. Pengembangan kultur hukum dan sosial yang mendukung upaya menentang berbagai tindakan salah

Kegiatan Melakukan kampanye publik melalui media massa untuk mendestigmatisasi korban, dan mengkriminalisasi pelaku

Jadual 2004-2010

Penanggung-jawab Depkeh & HAM POLRI Kejaksaan Agung BPHN

Indikator Rencana kampanye publik Kampanye dilakukan di tingkat nasional & daerah Laporan kampanye

Mitra LSM/ORMAS Kelompok/ organisasi anak Komnas Ham KPAI Dept/Instansi terkait Pemprop, Pemkab/Kota Dept/Instansi terkait LSM/ORMAS Kelompok/ organisasi anak KPAI

Sosialisasi dan memberikan peringatan dini (early-warning) tentang modus, pola, jaringan, pelaku sindikat perlakuan salah terhadap anak kepada instansi terkait, masyarakat, dan keluarga. Melakukan sosialisasi dan advokasi peningkatan peran dan tanggung jawab provider Internet untuk memerangi perlakuan/tindakan salah terhadap anak melakukan kerjasama antara lembaga perlindungan anak dan organisasi informasi sistim pembentukan komitmen di

2004-2010

Depkeh &HAM BPHN POLRI, Kejaksaan

Rencana sosialisasi Sistem peringatan dini diterapkan di tingkat komunitas

d.

Peningkata n peran dan tanggung jawab para providers internet utk mengadopsi peraturan perundangan di bidang penyiaran dan informasi

Mulai 2004

Meninfokom Menko Kesra Depag POLRI Kejaksaan Agung Depkeh &HAM

Adanya MoU Pedoman-pedoman Tindakan hukum Menurunnya tayangan internet yang berpengaruh negatif pada anak

Dept/Instansi terkait Assosiasi TV Assosiasi Providers Internet PWI Komite/kelompok anak KPP

37

Keluaran

Kegiatan kalangan providers internet untuk mengidentifikasi dan memfilter tayangan Internet yang berpengaruh buruk terhadap anak

Jadual

Penanggung-jawab

Indikator

Mitra

38

BIDANG : iii. PEMULIHAN ANAK DAN REINTEGRASI SOSIAL / KELUARGA OBJEKTIF : a. b. c. d. Pengembangan model pelayanan pemulihan dan reintegrasi sosial dan keluarga Perluasan akses pelayanan pemulihan dan reintegrasi sosial dan keluarga bagi anak korban dan keluarganya Pemberdayaan anak korban, keluarga, dan masyarakat untuk memerangi perlakuan/tindakan salah terhadap anak Peranserta para volunteer/relawan, dan media massa di bidang pemulihan dan reintegrasi

39

Keluaran a. Perubahan sikap dan perilaku masyarakat dan keluarga keada anak korban dalam rangka pemulihan dan reintergrasi sosial

Kegiatan Utama Sosialisasi dan advokasi kepada masyarakat dan keluarga tentang pemulihan anak dan reintegrasi sosial anak korban Sosialisasi tentang destigmatisasi anak korban Pelatihan bagi tenaga bantuan/asistensi hukum tentang hak-hak anak dan penanganan kasus yang sensitif anak Memfasilitasi dan membantu pengembalian anak korban kepada keluarganya Memfasilitasi dan membantu pengembalian anak korban kebangku pendidikan formal untuk memenuhi ketentuan BEFA Membentuk dan/atau memfasilitasi pembentukan pelayanan

Jadual 2005-2010

Penanggung-jawab Depsos Depag DIKNAS KPP Pemprop Pemkab/Kota

Indikator Terselenggaranya sosialisasi dan advokasi di setiap wilayah Terbukanya kesempatan yang sama bagi anak korban

Mitra Dept/Instansi terkait LSM/ORMAS Perguruan Tinggi Organisasi Bantuan Hukum Komnas HAM KPAI Organisasi pengacara Organisasi bantuan hukum LSM/ORMAS Komnas HAM KPAI Dept/Instansi terkait LSM/ORMAS Pemprop/Pemkab /Pemkota Dept/Instansi terait LSM/ORMAS Pemprop/Pemkab /Pemkot LSM/ORMAS Lembaga

2004-2010

Depsos Depkeh & HAM KPP

Rencana/modul latihan Terselenggara pelatihan Tenaga bantuan/ asistensi hukum terlatih

2005-2010

Menko Kesra Depsos KPP Menko Kesra Depdiknas Depag Depsos KPP Depsos KPP

Jumlah anak korban yang kembali kepada keluarganya menigkat Jumlah anak korban yang kembali ke bangku sekolah menigkat

2005-2010

b. Penyediaan layanan pemulihan berkualitas dan pengembangan

2004-2010

Tersedianya PKT/RPK/Shelter / hotline dan helpline di semua

40

Keluaran sumber pendapatan alternatif bagi korban dan keluarga

Kegiatan Utama hotline dan helpline di berbagai wilayah rawan Membentuk dan/atau memfasilitasi pembentukan PKT berbasis RS atau masyarakat, Membentuk dan/atau memfasilitasi pembentukan RPK di kepolisian wilayah Menyediakan shelter untuk anak-anak korban Pelatihan bagi petugas pemulihan dan guru sekolah tentang hak-hak anak yang sensitif gender dan HAM Mengembangkan sistim rujukan medis kepada korban

Jadual

Penanggung-jawab Depkes POLRI Pemprop/ Pemkab / Pemkot

Indikator wilayah

Mitra Perlindungan Anak (Komnas PA dan LPA) KPAI Org.profesi

2004-2010

Depsos KPP Depdiknas Pemprop/Pemkab/K ota Depkes Depsos

Modul dan rencana latihan bagi petugas & guru Laporan penyelenggaraan latihan

Dept/Instansi terkait LSM/ORMAS Org.profesi Sekolahsekolah/Madrasah Departemen/ Instansi terkait LSM/ORMAS Komnas PA dan LPA KPAI Org.Profesi Dept/Instansi terkait Lembaga Keuangan Mikro

2004-2010

Sistem Rujukan Medis dikembangkan & diimplementasikan

Menyediakan program prioritas untuk peningkatan pendapatan keluarga korban dalam

2004-2010

Menko Kesra Depsos KPP

Rencana & disain program Implementasi program Peningkatan pendapatan

41

Keluaran

Kegiatan Utama skema pengentasan kemiskinan melalui kredit mikro Kampanye alternatif employment Pendidian kerampilan bagi anak korban sekolah Fasilitasi bagi SDM yang telah dipulihkan Melakukan kajian untuk pengembangan kebijakan nasional Pemantauan terhadap perkembangan anak korban yang diselamatkan/ dipulihkan dan diintegrasikan kembali ke kehidupan keluarga dan masyarakat Melakukan evaluasi atas efektifitas program pemulihan dan reintegrasi sosial/keluarga

Jadual

Penanggung-jawab Depdiknas Menkop & UKM Deptan BKKBN Depnakertrans Pemprop/Pemkab/K ota Menko Kesra Depsos Dep.Nakertrans Dep. Diknas KPP

Indikator keluarga korban Peningkatan Peluang Kerja dan sumber penghasilan alternatif bagi anak korban dan kelurganya

Mitra LSM/ORMAS

c. Pengembangan Kebijakan Nasional dalam Pemulihan dan Reintegrasi sosial/keluarga

2004-2010

Rekomendasi kebijakan nasional Peningkatan eks korban ke sekolah Peningkatan jumlah anak eks korban yang bekerja secara layak

Dept/Instansi terkait BUMN PT Pakar Anak LSM/ORMAS Peprop/Pemkab/ Kota

Mulai 2004

Menko Kesra KPP Depsos Depnakertrans Depdiknas Dep KUKM BKKBN

Instrument evaluasi Terselenggaranya kegiatan evaluasi Input /Rekomendasi untuk Perencanaan

Dept/Instnsi terkait PT LSM/Ormas

42

Keluaran

Kegiatan Utama Seminar/Workshop/ Penyusunan rekomendasi bagi penyempurnaan program pemulihan

Jadual Mulai 2005

Penanggung-jawab Menko Kesra KPP Depsos Depnakertrans Depdiknas Dep KUKM BKKBN Depsos Depnakertrans KPP Pemprop/Pemkab/K ota

Indikator Rumusan rekomendasi tentang cara-cara pemulihan dan reintegrasi korban yang efektif

Mitra Dept/Instnsi terkait PT LSM/Ormas

d. Komitmen yang tingi di antara stakeholders dalam rangka pemulihan /reintegrasi sosial/keluarga

Melakukan FGD masalah-masalah perlakuan salah terhadap anak secara berkala Pendidikan dan Pelatihan tentang pemulihan dan reintegrasi sosial/keluarga secara berkala bagi relawan.

Mulai 2004

Terbentuknya gugus tugas di setiap wilayah Peningkatan jumlah kelompok relawan yang berperan dalam penaganan perlakuan salah terhadap anak.

Dept/Instansi terkait Pakar Anak PT LSM/ORMAS KPAI

43

BIDANG : iv. PENINGKATAN KOORDINASI DAN MEMBANGUN KERJASAMA TINGKAT LOKAL, NASIONAL, REGIONAL DAN INTERNASIONAL

OBJEKTIF : a. b. c. d. e. Terwujudnya koordinasi dan kerjasama yang kuat di antara para stakeholders secara efektif Terwujudnya dukungan penjuru-penjuru/focal point di berbagai sector pemerintah, pemerintah daerah dan LSM/ORMAS Tersedianya alokasi sumberdaya yang memadai bagi implementasi perlindungan anak Terbentuknya mekanisme sistem informasi untuk mendukung data dan informasi yang akurat Terjalinnya kerjasama baik lokal, nasional, regional, dan internasional yang mendukung upaya-upaya nasional dalam perlindungan anak

44

Keluaran a. Koordinasi dan kerjasama antar Komite, Panitia Nasional,Gugus Tugas dan para stakeholders dengan peran pemantauan dan evaluasi atas implementasi program perlindungan anak dari berbagai tindakan salah.

Kegiatan Utama Penyusunan rencana kerja pemantauan dan evaluasi atas jalannya program perlindungan anak dari berbagai tindakan salah Operasionalisasi semua Komite, Panitia Nasional, Gugus Tugas yang berkaitan dengan perlindungan anak. Penyusunan mekanisme pegelolaan antara nasional dan daerah dalam penanganan perlindungan anak dari perlakuan salah. Mengalokasikan sumberdaya dan dana sesuai kebutuhan dari anggaran masingmasing sektor dan daerah.

Jadual Mulai 2003

Penanggung-jawab Bappenas Menko Kesra KPP Pemprop/Pemkab / Kota

Indikator Tersusunnya Rumusan Kerja Terselenggaranya rapatrapat koordinasi berkala Adanya mekanisme kerja yang efektif Rincian indikator

Mitra yang terlibat LSM /ORMAS Departemen/ Kementerian terkait Depdagri Depnakertrans Depkes Depdiknas

Mulai 2003

Bappenas Menko Kesra KPP Pemprop/Pemkab/ Kota

Rumusan mekanisme implementasi, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program perlidungan anak Rincian indikator pemantauan dan evaluasi. Rencana anggaran untuk implementasi, pemantauan dan evaluasi perlindungan anak di sektor dan daerah teralokasikan Tersedia alokasi anggaran dari setiap Departemen/ Kementerian terkait dan daerah untuk perlindungan anak.

Dept. /Instansi terkait LSM/ORMAS KPAI Panitia Nasional Gugus tugas

b. Mobilisasi sumberdaya dan dana bagi implementasi, pemantauan dan evaluasi perlindungan anak dari berbagai tindakan salah

Mulai 2004

Bappenas Depkeu Pemprop/Pemkab/Kota

Departemen/Instansi terkait BALEGNAS DPR

45

Keluaran

Kegiatan Utama Menggalang komitmen dengan sektor-sektor relevan dan Pemerintah Daerah agar mengalokasi kan sumberdaya dn dana berdasar potensi yang ada. Membangun komitmen dengan donor internasional agar mengalokasikan sebagian dana bantuan untuk program perlindungan anak dari berbagai tindakan salah Mengembangkan indikator-indikator keberhasilan.

Jadual 2005-2010

Penanggung-jawab Bappenas Menko Kesra Depkeu KPP

Indikator Risalah komunikasi resmi dengan Departemen/ Kementerian terkait dan pemerintah daerah mengenai pengalokasian sumber daya dan dana.

Mitra yang terlibat Kementerian/ Departemen terkait Depdagri BALEGNAS DPR/DPRD

2004-2010

Bappenas Depkeu KPP DEPLU

Tersedianya dokumen kerjasama MoU dengan donor internasional Implementasi program dukungan donor internasional Rumusan indikator keberhasilan implementasi dan pencapaian perlindungan anak dari tindakan salah Evaluasi diselenggarakan secara berkala

Dept/Instansi terkait Lembaga donor internasional

Mulai 2004

Menko Kesra Bappenas KPP

Departemen/ instansi terkait Komite, Panitia Nasional, Gugus Tugas Pemprop/ Pemkab/Kota

46

Keluaran c. Sistem pendukung dan pemantauan yang efektif

Kegiatan Utama Menyelenggarakan pertemuan Koordinasi berkala dengan sektorsektor penjuru dalam rangka pemantauan di tingkat nasional dan daerah. Mengembangkan dan mengaplikasikan sistim database tentang anakanak korban dan pelaku kejahatan tindakan salah terhadap anak Pemetaan nasional dan daerah tentang anak yang memerlukan perlindungan dari berbagai tindakan salah. Melakukan analisis berkelanjutan tentang situasi korban dan pelaku kejahatan sebagai bahan pengembangan kegiatan

Jadual Mulai 2004

Penanggung-jawab Bappenas Menko Kesra KPP

Indikator Terselenggaranya pertemuan Koordinasi berkala di tingkat nasional dan daerah

Mitra yang terlibat Komite,Panitia Nasional,Gugus Tugas LSM/ORMAS

d. Sistim informasi yang memadai tentang perlindungan anak dari berbagai tindakan salah

Mulai 2004

BPS Men Infokom Menko Kesra KPP

Sistim database dinamis dan dapat diakses di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/ kota Database tentang anak-anak korban dan pelaku kejahatan Tersedianya data situasi anak yang memerlukan perlindungan khusus Terselenggaranya pemutakhiran data Publikasi Analisis situasi

Departemen/ Kementerian terkait LSM/ORMAS Perguruan Tinggi

2005-2010

Menko Kesra BPS Men Infokom KPP POLRI

Departemen/ Instansi terkait LSM/ORMAS Komite, Panitia nasional, Gugus Tugas Perguruan Tinggi Pakar anak

47

Keluaran e. Kerjasama bilateral, regional dan internasional yang mendukung upaya nasional dibidang perlindungan anak dari berbagai tindakan salah

Kegiatan Utama Peran aktif Pemerintah dalam berbagai peristiwa regional/ internasional menyangkut implementasi perlindungan anak dari tindakan salah Menjalin kerjasama dengan badan-badan internasional. Pembentukan komitmen di kalangan pemprop, pemkab/kota melalui rapat koordinasi/ konsultasi.

Jadual 2005-2010

Penanggung-jawab Setneg Bappenas Deplu

Indikator Keterlibatan sedara aktif dalam berbagai peristiwa regional/ internasional mengenai perlindungan anak Adanya MOU Kontribusi dalam rumusan kesepakatan-kesepakatan internasional Implementasi program perlindungan anak di daerah Keserasian program antara Pemprop/ Pemkab/Kota

Mitra yang terlibat Departemen/ Instansi terkait LSM/ORMAS Kelompok/ komite anak

f. Implementasi program perlindungan anak oleh Pemprop, pemkab/kota secara konsisten

Mulai 2003

Depdagri Pemprop/Pemkab /Kota

Departemen/ Instansi terkait LSM/ORMAS

48

BIDANG : v. OBJEKTIF : a. b. Terwujudnya persepsi bahwa anak adalah subyek yang perlu didengar aspirasinya Pemberdayaan partisipasi anak melalui kelompok-kelompok anak secara bottom-up PENINGKATAN PARTISIPASI ANAK

49

Keluaran a. Terbentuk jaringan kelompok anak untuk perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah

Kegiatan Utama Memfasilitasi terbentuknya kelompok-kelompok anak dalam pemenuhan hak-hak anak

Jadual Mulai 2003

Penanggung-jawab Menko Kesra KPP Depsos Pemprop/Pemkab/ Kota Menko Kesra KPP Depsos Dep.Diknas

Indikator Jaringan antar kelompok anak terbentuk Terbentuk Komite Anak Laporan kegiatan sosialisasi

Mitra LSM/ORMAS Sekolah-sekolah/ madrasah Kelompok-kelompok Anak LSM/ORMAS Depart/Instansi terkait Sekolah-sekolah/ madrasah Kelompok-kelompok Anak LSM/ORMAS Instansi/Departemen terkait Komnas PA LPA Komite Anak Donor Agencies Dunia Swasta LSM/ORMAS Kelompok/ komite anak

Mensosialisasikan perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah pada kelompok anak

Mulai 2003

Meningkatkan kapasitas partisipasi anak baik dalam mengartikulasikan pendapat maupun sebagai pendamping sebaya (peer educator) melalui program latihan, pertukaran dll. Melibatkan anak dalam kegiatan kajian tentang perlindungan anak dalam perspektif hak-hak anak Memfasilitasi

Mulai 2003

KPP Depsos Dep. DIKNAS

Peran serta kelompokkelompok anak

b. Partisipasi kelompok/ forum anak dalam studi dan program intervensi perlindungan anak dari berbagai tindakan salah

Mulai 2003

KPP Depsos

Rumusan kajian yang melibatkan anak Jumlah kajian yang melibatkan anak

50

Keluaran

c. Komitmen stakeholders dalam memfasilitasi keterlibatan kelompok-forum anak dalam implementasi, evaluasi dan rencana tindak lanjut perlindungan anak dari berbagai pelakuan salah

Kegiatan Utama pengembangan pendekatan anak ke anak dalam pencegah-an, perlindungan, pemulihan serta reintegrasi korban melalui kelompok/forum anak Mengalokasikan dana yang tersedia untuk memfasilitasi partisipasi anak di sektor terkait

Jadual

Penanggung-jawab

Indikator

Mitra

2005-2010

Bappenas Depsos KPP Pemprop/Pemkab/ Kota Bappenas Depkeu KPP Pemprop/Pemkab/ Kota Menko Kesra KPP Depsos Pemprop/ Pemkab/Kota

Anggaran untuk memfasilitasi partisipasi anak di sektor terkait teralokasikan Alokasi anggaran di APBN/APBD MoU dengan donor internasional mengenai pendanaan partisipasi anak Komite anak oprasional

Instansi/ Departemen terkait LSM/ORMAS Dunia Swasta

Memobilisasi sumber daya yang tersedia dunia swasta, donor internasional dialokasi kan sebagian untuk pengembangan partisipasi anak Memfasilitasi pembentukan komite anak/forum anak

2005-2010

Instansi/Departemen terkait

d. Berperannya Komite Anak sebagai badan konsultatif independen untuk memberi masukan kepada pemerintah guna pengembangan legislasi, kebijakan dan program menyangkut perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah.

Mulai 2003

LSM/ORMAS Instansi/ Departemen terkait Komnas PA LPA Kelompok-kelompok Anak DPR/DPRD LSM/ORMAS

Memfasilitasi rekomendasi

Mulai 2003

Menko Kesra

Rumusan

51

Keluaran

Kegiatan Utama komite anak dalam setiap program pengembangan legislasi, kebijakan & program menyangkut perlindungan anak dari berbagai perlakuan salah

Jadual

Penanggung-jawab KPP Depsos Pemprop/ Pemkab/Kota

Indikator rekomedasi Komite Anak sebagai bahan pengembangan kebijakan

Mitra Instansi/Departemen terkait Komnas PA LPA Kelompok-kelompok Anak DPR/DPRD

52

V.

MONITORING DAN EVALUASI :

Pelaksanaan Program Nasional Bagi Anak Indonesia berada di bawah koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang secara teknis dan implementasinya di koordinasikan melalui penjuru-penjuru/focal point yang berada di Departemen/Kementerian dan Pemerintah Daerah. Pemantauan dan evaluasi dilakukan untuk menilai pelaksanaan Program Nasional Bagi Anak Indonesia berdasarkan : a. b. c. d. e. VI. Sistem dan Mekanisme pemantauan dan evaluasi yang telah ada Keberhasilan program berdasarkan indicator kemajuan dan keluaran yang telah ditetapkan Adanya penerbitan berkala Laporan tahunan berkala Review program INDIKASI PENDANAAN : keberhasilan

Pendanaan untuk perlindungan anak dari perlakuan/salah termasuk kekerasan (fisik, seksual, emosional) eksploitasi (fisik, ekonomi) dan diskriminasi berasal dari APBN, APBD dan donor-donor internasional. Perkiraan dana APBN yang dibutuhkan 7-8 persen PDB, sebanding dengan penyediaan anggaran untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan. VII. f. g. h. i. VIII. IX. KELEMBAGAAN Kelembagaan yang terlibat meliputi : lembaga pemerintah umumnya sektor yang terkait dengan perlindungan anak yang terhimpun dalam Gugus Tugas atau Komite Aksi Nasional lembaga legislatif lembaga judigatif lembaga non pemerintah termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) PENUTUP LAMPIRAN

53

DAFTAR RUJUKAN 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Adimiharja, K. Prof.Dr.MA, Harry Hikmat, Ir. 2001, Modul Latihan PRA, Humaniora Utama Press, Bandung. A World Fit For Children, 2002, UNICEF, New York. Bulletin Anak, 2002, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Jakarta. Badan Pusat Statistik, 2001, Data SUSENAS, Jakarta. Badan Pusat Statistik,2000, Indikator Kesejahteraan Anak, Jakarta. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 2002, Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak, Jakarta. Farid,M. 1999, Pencatatan Kelahiran Upaya Meningkatkan Hak Pertama Anak Nama dan Kewarganegaraan - di Indonesia, Jakarta. Hikmat Harry,Ir. Msi, 2001, Strategi Pemberdayaan Masyarakat, Bandung. --------------------------, 2001, Strategi Meningkatkan Kesejahteraan Anak dalam Era Otonomi Daerah, Jakarta. Investasi Bidang

--------------------------, 2001, Kewajiban Negara Dalam Pemenuhan Hak Anak, Jakarta. --------------------------, 2001, Dampak Pelayanan Program Jaring Perlindungan Sosial melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan, Jakarta. Irwanto,Ph.D. M.Farid, Jeffry Anwar,1998, Ringkasan Analisa Situasi Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus, Jakarta. Irwanto, Ph.D; Fentiny Nugroho; Johanna Debora Imelda, 2001, Perdagangan Anak di Indonesia, ILO/IPEC Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan, 2002, Undang-undang Republik Indonesia tentang Perlindungan Anak, Jakarta. Badan Pusat Statistik, 2002, Indikator dan Profil Kesejahteraan dan Perlindungan Anak,Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan, 2001, Rencana Induk Pembangunan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (RIP-KPA),Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan, 2002, Rencana Aksi Nasional Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak, Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan, 2002, Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak,Jakarta. Plan International, Terre des homes Netherands, 2000, Laporan Seminar Pemberdayaan Anak dalam Situasi Khusus, Jakarta. Sinar Grafika, 1997, Undang-undang R.I. No.3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, Jakarta. Departemen Kehakimn dan HAM, 1999, Undang-undang R.I. No.39 tahun 1999 tentang HAM, Jakarta.

54

You might also like