You are on page 1of 95

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 70 cm. Sebagian besar hitam. Jantan: kepala dan leher merah-karat. Betina:
kepala dan leher hitam.

Deskripsi Suara

Dideskripsikan dengan berbagai cara sebagai nada ketukan parau berulang-ulang; suara
dua nada singkat, erm-err; dan kokokokokokokoko.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan dan berkelompok hingga 15 ekor, dan dalam kelompok besar
hingga 70 ekor di pohon tidur. Kebanyakan sering di kanopi, adakalanya di bawah
kanopi. Biasanya teramati ketika terbang dan di pohon-pohon buah. Terbang diantara
bekas-bekas hutan.

Nama Inggris : Sumba Hornbill


Nama Indonesia : Julang sumba
Ketinggian : 0 - 950 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sumba, Nusa Tenggara barat.
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni hutan primer dan sekunder
lama selalu hijau; kadang tepi hutan, petak-petak pohon
yang terisolasi dan pohon-pohon di lahan budidaya. Dari
dataran rendah sampai ketinggian 950+ m.

Suara :
Habitat : Hutan primer dan hutan sekunder selalu hijau
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

43 cm. Mirip dengan Maleo gunung kecuali bagian bawah coklat kadru dan leher jantan
bergelambir tiga. Satu-satunya maleo di P. Waigeo.

Deskripsi Suara

Belum diketahui, tapi mungkin serial suara berkokok atau klakson pendek.

Kebiasaan

Nama Inggris : Waigeo Brush-turkey


Nama Indonesia : Maleo waigeo
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik Pulau Waigeo, Papua barat
Penyebaran lokal : Tampaknya penghuni yang jarang di P. Waigeo,
beberapa spesimen yang diketahui diperoleh dari
pengumpul di lapangan.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 12 cm. Jantan: bagian atas hijau metalik dan biru; punggung zaitun
kekuningan; pita-tunggir kuning; tenggorokan kuning. Betina: bagian atas zaitun
kekuningan; tunggir kekuningan; mahkota bersisik; tenggorokan dan bagian bawah
kuning.

Deskripsi Suara

Tidak terdokumentasi, tapi mungkin memiliki suara dengan nada tinggi dan nyanyian
menggoda seperti jenis burung-madu lainnya.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan dan adakalanya dalam kelompok kecil. Biasanya teramati


bergabung bersama dalam kelompok burung pencari makan, khususnya dengan burung-
madu dan burung cabai. Mengumpulkan serangga dari vegetasi dan sarang laba-laba.

Nama Inggris : Elegant Sunbird


Nama Indonesia : Burung-madu sangihe
Ketinggian : 0 - 900 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sangihe dan Siau (pulau-pulau kecil di
Sulawesi bagian utara).
Penyebaran lokal : Cukup umum di Sangihe. Menghuni perkebunan
campuran di sekitar petak-petak hutan yang tersisa; juga
petak-petak hutan, tepi hutan dan pertumbuhan sekunder
yang tinggi. Dari dataran rendah sampai ketinggian
sekitar 900 m. Di Siau hanya diketahui dari sebuah
spesimen tunggal yang dikoleksi pada abad yang lalu.

Suara :
Habitat : Hutan, kebun

Deskripsi Bentuk

Berukuran sedang (18 cm), berwarna biru tua dan putih. Mahkota, sisi kepala, dan sayap
hitam kebiruan gelap; garis dada, punggung, dan ekor biru muda. Kekang, tutup telinga,
tenggorokan, dan perut keputih-putihan, tersapu merah karat. Betina: perut jingga-merah
karat, tenggorokan krem. Ras Kalimantan dan Sumatera: ada garis dada, ras Jawa: tidak
ada. Iris coklat, paruh hitam (bawah kemerahan pada betina), kaki merah terang.

Deskripsi Suara

Cicitan seperti Raja-udang Erasia.

Kebiasaan

Burung hutan yang pemalu, biasa terlihat di dekat aliran air. Berburu dari tenggeran yang
rendah. Kebiasaan mirip Raja-udang meninting.
Nama Inggris : Blue-banded Kingfisher
Nama Indonesia : Raja-udang kalung-biru
Ketinggian : 0 - 1500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan; Jawa;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar.
Penyebaran lokal : Penetap di daratan Sumatera (tidak umum), Kalimantan
(tidak umum), dan Jawa (jarang). Hidup di dekat sungai
kecil, di dataran rendah yang berhutan atau perbukitan
sampai ketinggian 1.500 m (kemungkinan lebih
menyukai daerah perbukitan).

Suara :
Habitat : Hutan dataran rendah dan perbukitan

No image

Deskripsi Bentuk

Berbeda dengan Kareo maluku dalam hal bulunya yang lebih gelap dan paruhnya yang
lebih besar. Di lapangan tubuh bagian bawahnya terlihat hampir seluruhnya hitam, dan
bulu penutup ekor bawah tidak memiliki warna kayu-manis pucat seperti yang terdapat
pada Kareo maluku.

Deskripsi Suara

Panggilan paling umum terdengar adalah seperti suara kodok menyalak yang keras.

Kebiasaan

Nama Inggris : Talaud Bush-hen


Nama Indonesia : Kareo talaud
Ketinggian : -m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sulawesi;
Endemik : Sulawesi;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Tersebar luas di Karakelang.
Penyebaran lokal : Endemik di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara,
diketahui hanya dari Karakelang.

Suara :
Habitat : Terdapat di hutan dan habitat padang rumput basah di
tepi hutan dan vegetasi lainnya.
Tekanan :
Informasi lainnya : Jenis baru ini ditemukan pada bulan Agustus 1996

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (34 cm), berwarna hijau dan kuning. Dewasa: tubuh bagian atas hijau
mengilap kebiruan, kulit sekitar mata biru. Ekor biru mengilap kehijauan, dengan tiga
bulu samping bertepi putih dan ujung lebar putih. Bulu primer hitam bertepi putih,
penutup sayap hijau bergaris-garis halus kuning (jantan) atau coklat (betina). Tubuh
bagian bawah kuning, dengan pita hijau kelabu pada dada atas. Burung muda: umumnya
kecoklatan dengan punggung sedikit biru kehijauan.Iris coklat, paruh merah oranye
(dewasa) dan coklat (burung muda), kaki oranye.

Deskripsi Suara

Parau menusuk: "ciirr, ciirr" atau "turr" yang keras, sambil menggerak-gerakkan ekor
naik turun, ekor lalu dikembangkan dan dilipat.

Kebiasaan

Hinggap tegak pada ranting datar di tempat teduh sambil menunggu serangga atau
bersuara keras. Terbang dari tenggeran yang satu ke tenggeran lainnya dengan kepakan
sayap yang gaduh.

Nama Inggris : Javan Trogon


Nama Indonesia : Luntur jawa
Ketinggian : 1-3m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Jawa;
Endemik : Jawa;
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera (sepanjang Bukit Barisan) dan
Jawa barat (sebelah timur G. Papandayan).
Penyebaran lokal : Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Gede-
Pangrango, Gunung Patuha-Tilu, Gunung Wayang dan
Gunung Papandayan. Hanya ada beberapa catatan dari
tiga ini (Halimun, Salak dan Gede-Pangrango).

Suara :
Habitat : Menghuni hutan pegunungan
Tekanan :
Informasi lainnya : Harpactes reinwardtii (Sibley dan Monroe 1990, 1993)
telah dipisah (generik dan atribusi direvisi) menjadi
Apalharpactes reinwardtii dan A. mackloti mengikuti
collar dan van Balen (2002).

Deskripsi Bentuk

62-74 cm. Pemangsa berukuran besar, berwarna gelap. Dewasa coklat gelap dengan bulu-
bulu terbang pucat yang ramping. Sayap bagian bawah umumnya lebih gelap daripada
bulu-bulu terbang. Anak: garis melintang dengan bintik-bintik putih pada sayap bagian
atas.

Deskripsi Suara
Menyalak kyak pada saat kawin

Kebiasaan

Ditemukan di hutan dataran rendah primer, bersarang di pohon tinggi dan berburu di
daerah rawa terbuka. Pada saat migrasi mengunjungi gurun, semak, lahan basah dan
mangrove.

Nama Inggris : Geater Spotted Eagle


Nama Indonesia : Rajawali totol
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Berbiak mulai dari Finlandia sampai Cina, pada musim
dingin bermigrasi ke Kenya hingga Jepang.
Penyebaran lokal : Di Asia berbiak di Rusia, Cina dataran utara, Pakistan,
India. Pengunjung musim dingin di Jepang, Korea
Selatan, Cina daratan, Hongkong, Taiwan, Pakistan,
India, Nepal, Bhutan, Bangladesh, Thailand, Laos,
Kambodia, Vietnam, Semenajung Malaysia, Singapura
dan Indonesia (Sumatera)

Suara :
Habitat : Hutan dataran rendah
Tekanan : Hilangnya habitat dan perburuan
Deskripsi Bentuk

29 cm. Paruh agak panjang, leher belakang merah-karat terang; tunggir kadru; muka dan
bagian bawah abu-abu; tenggorokan keputih-putihan; sisi perut berpalang hitam dan putih
(mungkin tersembunyi); paruh kemerahan.

Deskripsi Suara

Bunyi yang tersendiri, tapi lebih terdengar mendengkur tenang selama 1-2 detik,
termasuk suara singkat wheez yang diikuti cepat oleh suara dengkur ee-orrrr yang
berlarut-larut, panjang, yang dengan mudah bisa salah dikenali sebagai suara babi liar.
Juga suara nafas dalam hmmmm yang singkat dan redam.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan, dan adakalanya dalam kelompok-kelompok keluarga. Tidak terlalu


pemalu dan kadang mudah diamati, tapi tidak mencolok, terpisah dan mudah terabaikan.
Bersuara sepanjang hari.

Nama Inggris : Snoring Rail


Nama Indonesia : Mandar dengkur
Ketinggian : 0 - 1300 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sulawesi.
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni hutan pamah primer dan
sekunder yang tinggi, hutan perbukitan dan hutan
pegunungan; juga hutan basah sekunder yang tumbuh di
tepi hutan yang lebat. Dari permukaan laut sampai
ketinggian 1300 m.

Suara :
Habitat : Hutan pamah primer dan sekunder, hutan perbukitan,
hutan pegunungan, hutan basah sekunder

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (33 cm), ribut, mencolok, berwarna putih. Jambul kuning, panjang-
tegak, pipi kuning. Iris coklat gelap, paruh hitam, kaki abu-abu gelap.

Deskripsi Suara

Teriakan keras dan kasar: "kerk-kerk-kerk" serta siulan-siulan.

Kebiasaan

Hidup berpasangan atau berkelompok dalam jumlah kecil. Sangat mencolok ketika
terbang, dengan kepakan sayap yang cepat dan kuat diselingi gerakan melayang serta
saling meneriaki. Bila sedang bersuara dari tempat bertengger, jambul ditegakkan lalu
diturunkan. Jenis ini tertekan dengan ledakan populasi yang mengejutkan selama 10-15
tahun terakhir, akibat penangkapan yang berlebihan untuk perdagangan burung dalam
sangkar, dan sekarang langka akibat kegiatan ini. Menghuni hutan primer dan sekunder
yang tinggi dan tepi hutan; juga hutan monsun (Nusa Tenggara), hutan yang tinggi
bersemak, semak yang pohonnya jarang dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Dari
permukaan laut sampai ketinggian 900 m (Sulawesi), 1520 m (Lombok), 1000 m
(Sumbawa), 700 m (Flores), 950+ m (Sumba) dan 500+ m (Timor).

Nama Inggris : Yellow-crested Cockatoo


Nama Indonesia : Kakatua-kecil jambul-kuning
Ketinggian : 0 - 1520 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Jawa; Bali; Sulawesi; Nusa Tenggara;
Endemik :
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara. Diintroduksi
ke Singapura dan Hongkong.
Penyebaran lokal : Terdapat di P. Nusa Penida, lepas pantai P. Bali. Ras
abbotti yang sangat jarang terdapat di P. Masalembu
Besar, L. Jawa. Kadang-kadang terlihat di Jawa dan
Bali, kemungkinan burung yang lepas dari peliharaan.
Tiga subjenis: 1. (sulphurea) Sulawesi, Muna, Butung,
Tanahjampea, Kayuadi, Kaleo, Kalaotoa, Madu, Kep.
Tukangbesi. 2. (parvula) Lombok, Sumbawa, Komodo,
Rinca, Padar, Flores, Pantar, Alor, Semau, Timor. 3.
(citrinocristata) Sumba.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekunder, hutan monsun
Tekanan : Penangkapan untuk perdagangan
Informasi lainnya : C. s. parvula (Lombok-Timor): mirip dengan sulphurea;
pipi lebih kuning pucat.

Deskripsi Bentuk

Berukuran sedang (25 cm), mempunyai tanda yang jelas. Mahkota, tengkuk, dan garis
mata sampai sisi bawah leher berwarna coklat gelap; alis mata, dagu, dan penutup telinga
putih. Punggung coklat bergaris-garis hitam, sayap coklat dengan bintik-bintik hitam dan
garis jingga. Dada coklat keabuan, pantat dan perut keputih-putihan. Bagian sisi tubuh
belang hitam-putih dengan suatu pola yang sangat jelas. Ras di Jawa: warna kepala lebih
putih, ras Sumatera: garis hitam dan putih pada bagian sisi tbuh lebih lebar. Iris kuning,
paruh coklat kemerahan, kaki kuning.

Deskripsi Suara

Siulan mencicit ganda "wut-wut, wut-wut" dengan volume meninggi. Suara jantan yang
lengkap didahului dengan siulan tunggal yang berselang.

Kebiasaan

Mirip Puyuh-gonggong Jawa.

Nama Inggris : Grey-breasted Partridge


Nama Indonesia : Puyuh-gonggong biasa
Ketinggian : 500 - 2000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Jawa;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_3;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Cina barat daya, Asia tenggara, Sumatera, dan Jawa.
Penyebaran lokal : Jenis yang umum antara ketinggian 500-2.000 m di
sepanjang hutan Bukit Barisan di Sumatera. Di Jawa
terbatas di Jawa timur, penghuni tetap yang tidak umum
di daerah pegunungan, tercatat di dataran tinggi Yang
dan Ijen.

Suara :
Habitat :
Tekanan :
Informasi lainnya : Ke dalam jenis ini termasuk A. o. cambelli dan dapat
disatukan dengan A. javanica. Semuanya dapat
disatukan dalam A. brunneopectus dari Asia tenggara,
tetapi nama javanica lebih diutamakan.
Deskripsi Bentuk

46 cm. Putih, termasuk jambul; bulu terbang bagian bawah dan bulu terbang ekor tertutup
warna kuning.

Deskripsi Suara

Kebiasaan

Nama Inggris : White Cockatoo


Nama Indonesia : Kakatua putih
Ketinggian : 0 - 900 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Maluku utara:
Penyebaran lokal : Halmahera, Ternate, Tidore, Kasiruta, Mandiole dan
Bacan. Juga Obi dan Bisa (status?). Biasanya umum.
Secara lokal menurun karena diperangkap. Menghuni
hutan primer dan sekunder yang tinggi, juga tepi hutan,
hutan yang ditebang pilih dan bekas-bekas hutan di
kawasan yang dibudidayakan. Dari permukaan laut
sampai ketinggian sekitar 900 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekunder, hutan bekas tebangan
Tekanan : Penangkapan untuk perdagangan

Deskripsi Bentuk

46-52 cm. Jambul merah-jambu bangbang tua. Bagian bawah dan bulu terbang berwarna
merah-jambu bangbang tua; ekor bawah jingga kuning dan merah-jambu bangbang tua.

Deskripsi Suara

Dapat segera diidentifikasi sebagai suara kakatua, tapi tidak keras, bernada tinggi, atau
parau seperti kebanyakan jenis kakatua.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan dan kelompok kecil; dahulu di pohon tidur berkelompok hingga 16
ekor. Umumnya tidak mencolok, kecuali pada saat terbang ke dan dari lokasi pohon tidur
ketika petang dan menjelang fajar. Walaupun terlihat terbang di atas kanopi tapi
kebanyakan terbang di bawah batas kanopi. Mencari makan dengan tenang di kanopi dan
lapisan tengah kanopi.

Nama Inggris : Salmon-crested Cockatoo


Nama Indonesia : Kakatua maluku
Ketinggian : 0 - 1000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Maluku selatan.
Penyebaran lokal : Seram, Ambon, Haruku dan Saparua. Dulu umum, jenis
ini sekarang langka sampai tidak umum. Menghuni
hutan primer dan sekunder yang tinggi; juga hutan yang
rusak. Dari permukaan laut sampai ketinggian 1000 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekunder
Tekanan : Penangkapan untuk perdagangan

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (75 cm), berwarna hitam dan putih. Kepala dan leher keputih-putihan.
Penutup sayap kecil putih, penutup sayap tengah dan spekulum abu-abu biru. Punggung
hitam berbaur hijau mengilap, bagian bawah coklat gelap. Sewaktu terbang, dari bawah
terlihat sangat kontras antara garis sayap yang putih dengan bulu terbang yang hitam. Ras
dari Sumatera sering sebagian albino. Iris coklat, paruh kuning dengan ujung hitam, kaki
kuning atau jingga.

Deskripsi Suara

Biasanya bersuara sambil terbang. Jantan bersuara seperti angsa, diiringi dengan siulan
aneh dari betina. Suara khas. Jika berada di sarang, bersuara seperti kambing mengembik.

Kebiasaan

Hidup di hutan rawa, tetapi keluar pada waktu malam untuk mencari makan di sawah-
sawah.

Nama Inggris : White-winged Duck


Nama Indonesia : Mentok rimba
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Jawa;
Endemik :
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Terbatas di Assam, Asia tenggara, Sumatera, dan dulu di
Jawa.
Penyebaran lokal : Sekarang sangat jarang dan sudah punah di banyak
tempat. Masih tersebar luas di hutan dataran rendah di
Sumatera timur dan Sumatera bagian barat laut. Tidak
ada catatan baru lagi dari Jawa barat walaupun dulu
pernah ditemukan beberapa sarang.

Suara :
Habitat : Hutan rawa

Deskripsi Bentuk

Berukuran agak kecil (22 cm), berwarna coklat tua dengan bercak putih besar pada
tenggorokan. Tubuh bagian atas berbintik hitam. Tubuh bagian bawah kuning tua,
bergaris-garis rapat hitam. Ada bercak putih pada dua bulu ekor terluar, tetapi tidak ada
bercak putih pada sayap. Iris coklat; paruh berwarna tanduk, kaki abu-abu.

Deskripsi Suara

Suara aneh, menggema: "uu-wuuuu" dengan nada kedua sekitar lima nada lebih rendah.

Kebiasaan

Cabak hutan yang sangat kurang dikenali.

Nama Inggris : Bonaparte\'s Nightjar


Nama Indonesia : Cabak kolong
Ketinggian : 0 - 500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan;
Endemik : Sumatera; Kalimantan; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera dan Kalimantan.
Penyebaran lokal : Hanya sedikit catatan dari Sumatera, di hutan dataran
rendah dan di Belitung. Di Kalimantan jarang, tetapi
tersebar luas di hutan dataran rendah terbuka, termasuk
hutan kerangas, sampai ketinggian 500 m.

Suara :
Habitat : Hutan dataran rendah
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

55 cm. Tohktor berukuran besar, terestrial, dan penghuni hutan. Ekor panjang dan penuh.
Kaki dan paruh hijau kokoh. Mahkota hitam, bercorak hijau pada mahkota belakang.
Mantel, bagian atas, leher samping, penutup sayap dan penutup sayap tengah berwarna
hijau pudar. Bagian bawah coklat dengan palang coklat kehijauan luas. Sayap dan ekor
hitam kehijauan mengilap. Tenggorokan bawah dan dada bawah hijau pudar, bagian
bawah sisanya bungalan kayu manis, sisi tubuh kemerahan. Kulit gundul sekitar mata
hijau, lila dan biru.

Deskripsi Suara

Belum ada informasi

Kebiasaan

Penghuni permukaan tanah, diperkirakan memakan vertebrata kecil dan invertebrata


besar dari lantai hutan.

Nama Inggris : Sumatran Ground-cuckoo


Nama Indonesia : Tokhtor sumatera
Ketinggian : 500 - 700 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik : Sumatera; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik Sumatera.
Penyebaran lokal : Tertangkap oleh kamera pada bulan November 1997 di
Bukit Barisan Selatan National Park (ketinggian sekitar
500 m). Catatan tambahan yang belum terkonfirmasi
pada tahun 2000 dari Suaka Margasatwa Bukit
Rimbang-Baling di daerah perbukitan, hutan sekunder
terbuka pada ketinggian 700 m. Sangat sedikit informasi
tentang status populasi.

Suara :
Habitat : Hutan perbukitan sekunder, hutan pegunungan bawah
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

1,5 m. Kasuari besar dengan tanduk tinggi, sempit, dan melengkung; gelambir pada leher
terbelah atau terdapat dua gelambir.
Deskripsi Suara

Mendengkur mirip dengan Kasuari kerdil.

Kebiasaan

Menghuni hutan hujan pamah, hutan galeri, dan hutan rawa. Sering dijumpai di tepi
hutan, bantaran sungai, atau melintasi savana kecil. Mampu berenang menyeberangi
sungai besar. Jejak kaki di lumpur seperti jejak dinosaurus.

Nama Inggris : Southern Cassowary


Nama Indonesia : Kasuari gelambir-ganda
Ketinggian : 0 - 500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku; Papua;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Juga terdapat di Australia dan Seram
Penyebaran lokal : Sebagian besar dataran rendah P. Papua kecuali di Barat
Laut, Sepik-Ramu, dan beberapa kawasan perbukitan di
perbatasan pesisir Selat Vitiaz dan Teluk Huon; Kep.
Aru. Dari ketinggian permukaan laut sampai 500 m
(jarang lebih tinggi).

Suara :
Habitat : Hutan pamah, hutan galeri, hutan rawa
Tekanan :
Deskripsi Bentuk

1,2-1,5 m. Kasuari besar dari dataran rendah bagian utara, bertanduk tinggi dan tebal,
menyegitiga dan leher bergelambir tunggal.

Deskripsi Suara

Mendengkur mirip dengan jenis lainnya.

Kebiasaan

Hutan hujan pamah dan hutan rawa; di Sepik sering dipelihara dalam penangkaran.
Burung yang liar sangat pemalu.

Nama Inggris : Northern Cassowary


Nama Indonesia : Kasuari gelambir-tunggal
Ketinggian : 0 - 700 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global :
Penyebaran lokal : Dataran rendah bagian utara P. Papua, dari timur Daerah
Kepala Burung sampai S. Ramu, dan P. Yapen, P.
Batanta, dan P. Salawati, dari ketinggian permukaan laut
sampai 700 m.

Suara :
Habitat : Hutan pamah, hutan rawa
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (30 cm), berwarna hitam. Sayap coklat tua. Perbedaannya dengan Bubut
besar: ekor lebih pendek, kilapan lebih biru pada kepala, dada, dan mantel, dan pada
suara. Iris merah, paruh dan kaki hitam.

Deskripsi Suara

Empat sampai lima nada: "bup" yang menggema dengan tempo menurun. Suara seperti
Bubut besar, tetapi lebih lambat dan lebih serak, menggema dan sangat cepat temponya
pada dini hari.

Kebiasaan

Menyukai semak pantai, rerumputan hutan primer dan hutan sekunder.

Nama Inggris : Short-toed Coucal


Nama Indonesia : Bubut teragop
Ketinggian : 0 - 1700 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan.
Penyebaran lokal : Jarang ditemukan karena populasinya sangat terpecah-
pecah, tetapi mungkin saja terlihat dan diidentifikasi
sebagai Bubut besar, (kadang-kadang memang tinggal
bersama). Tercatat sampai ketinggian 1.700 m di
Dataran Tinggi Padang. Lebih merupakan burung hutan
dibandingkan bubut lain.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekunder
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

16 cm. Hijau, bagian bawah lebih kuning; mahkota depan biru; ekor bagian bawah
berpangkal merah.

Deskripsi Suara

Suara ti?ti?ti?ti?ti-ti-ti sangat melengking.

Kebiasaan

Biasanya dalam kelompok kecil hingga 10 ekor, adakalanya berpasangan. Mungkin


berpindah-pindah secara lokal. Terbang lurus tapi tidak cepat.

Nama Inggris : Blue-fronted Lorikeet


Nama Indonesia : Perkici buru
Ketinggian : 0 - 1000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Buru, Maluku selatan.
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni hutan primer dan sekunder dan
perkebunan. Dari permukaan laut sampai ketinggian
1000 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekunder, kebun
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (46 cm), berwarna hitam dan coklat kemerahan, berekor panjang. Bulu
hitam mengilap ungu, kecuali sayap yang merah karat. Perbedaannya dengan bubut lain:
punggung, penutup sayap, dan bulu sekunder dalam hitam. Iris merah, paruh dan kaki
hitam.

Deskripsi Suara

Seri panjang terdiri dari nada "bup" mirip Bubut besar dan suara mirip ayam berkotek.

Kebiasaan

Terdapat di payau dekat pantai, semak-semak Acrosticum yang rapat, dan alang-alang
dekat hutan mangrove. Perilakunya sama dengan bubut lain.
Nama Inggris : Sunda Coucal
Nama Indonesia : Bubut jawa
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Jawa;
Endemik : Jawa; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Jawa.
Penyebaran lokal : Terbatas di hutan mangrove dan vegetasi rawa di pesisir
Jawa. Dulu banyak ditemukan di rawa-rawa air tawar,
tetapi sekarang sangat terbatas, dan hanya tercatat di
Ujung Kulon, Karawang, Indramayu, Segara Anakan,
dan Muara Brantas. Satu catatan dari Sumatera (tahun
1902) dianggap sebagai kesalahan. Mungkin terancam
disaingi Bubut alang-alang karena habitatnya diganti
tambak ikan dan udang.

Suara :
Habitat : Hutan mangrove
Tekanan : Konversi lahan

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (80 cm), berwarna hitam dan putih dengan paruh merah yang
melengkung sedikit ke atas. Sayap, punggung, mahkota, dan dada hitam; tenggorokan,
tengkuk, perut, dan ekor putih. Kulit muka merah kemerahjambuan, terutama pada masa
berbiak. Lingkar mata kuning. Perbedaannya dengan Bangau sandang-lawe adalah sisi
leher hitam, lingkar mata kuning, dahi sedikit putih, dan paruh lebih merah. Tetapi
Bangau sandang-lawe dari Jawa mempunyai paruh kemerahan, tersebar sampai Sumatera
selatan. Remaja: bulu hitam diganti dengan coklat. Iris dan paruh merah, tungkai dan kaki
merah muda.

Deskripsi Suara

Keprakan paruh

Kebiasaan

Hidup di hutan rawa rapat dan bersarang dalam kelompok.

Nama Inggris : Storm\'s Stork


Nama Indonesia : Bangau storm
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan; Jawa;
Endemik :
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatera.
Penyebaran lokal : Tersebar jarang di rawa air tawar dan hutan rawa di
dataran rendah Sumatera (termasuk Mentawai) dan
Kalimantan. Tercatat satu kali di Jawa barat pada tahun
1920 (spesimennya disimpan di Museum Zoologi
Bogor).

Suara :
Habitat : Hutan rawa
Tekanan : Hilangnya habitat
Deskripsi Bentuk

Burung cacing berukuran sedang (23 cm), berwarna biru tua berkilau. Jantan: tubuh
bagian atas biru tua bersinar dengan mahkota, pinggir penutup sayap dan bulu terbang
biru bersinar lebih pucat. Tubuh bagian bawah biru keunguan. Betina: coklat dengan dahi
dan sisi bulu terbang biru. Burung remaja: seperti betina tetapi dada berbintik coklat
kuning tua. Iris coklat tua; paruh hitam; kaki hitam.

Deskripsi Suara

Suara lengking "siiiit" yang tinggi; suara tanda bahaya memaki-maki "cet-cet-cet" yang
keras.

Kebiasaan

Selalu hidup di pepohonan, biasanya tinggi di tajuk mencari buah-buahan. Paruhnya


bergerigi dipergunakan untuk mencabik daging buah.

Nama Inggris : Javan Cochoa


Nama Indonesia : Ciung-mungkal jawa
Ketinggian : 1000 - 3000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Jawa;
Endemik : Jawa; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Jawa barat.
Penyebaran lokal : Tercatat sampai paling timur di G. Selamat, di hutan di
pegunungan tinggi dari 1.000-3.000 m.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Tekanan :
Informasi lainnya : Beberapa pakar burung memasukkan Ciung-mungkal
sumatera ke dalam jenis ini.

Deskripsi Bentuk

17 cm. Kusam seperti kancilan; bagian atas coklat zaitun, bahu dan punggung bawah
lebih kadru; bagian bawah kecoklatan lebih pucat, sisi perut lebih kuning zaitun.

Deskripsi Suara

Suara nyanyian keras seperti srigunting selama 10 detik dengan banyak pengulangan.
Juga suara chweep ...chweep pelat yang lembut.

Kebiasaan

Penetap di hutan pegunungan bawah diantara 600 m dan 750 m, sendiri, dan mungkin
sering dalam kelompok kecil di lapisan tengah dan atas hutan, juga di rumpun rotan
bawah. Batu-batuan di lereng tempat dimana burung teramati pada tahun 1996,
didominasi oleh tanaman jenis Zingiberaceae dan juga di suatu area dimana banyak
ditumbuhi jenis-jenis pandan besar Pandanus sp.

Nama Inggris : Sangihe Shike-thrush


Nama Indonesia : Anis-bentet sangihe
Ketinggian : 700 - 0 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sangihe (sebuah pulau kecil di sebelah utara
Sulawesi) (sanghirensis).
Penyebaran lokal : Tidak umum di hutan pegunungan, di atas 700 m.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Burung cacing berukuran besar (28 cm), biru mengilap dan hitam. Burung jantan dahi
dan mahkota biru pucat; penutup sayap tengah dan bercak sayap biru keabuan; bulu ekor
tengah biru, yang lain dengan daun luarnya kebiruan; bulu ekor luar hitam; bulu lainnya
hitam mengilap. Burung betina dengan muka kuning tua. Iris coklat tua; paruh hitam;
kaki hitam.

Deskripsi Suara

Siulan "siiiit" yang tenang, lemah, bernada tinggi; "sip" pendek sewaktu terbang.

Kebiasaan

Hidup di pepohonan sepenuhnya, mencari makan (buah-buahan) di tajuk.

Nama Inggris : Sumatran Cochoa


Nama Indonesia : Ciung-mungkal sumatera
Ketinggian : 1200 - 1600 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik : Sumatera; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera.
Penyebaran lokal : Jarang; diketahui dari empat ekor, semua jantan, yang
dikoleksi di G. Singgalang dan Kerinci dari 1.200-1.600
m, dan beberapa pengamatan baru-baru ini dari G.
Kerinci.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan :
Informasi lainnya : Beberapa pakar memperlakukannya sebagai sejenis
dengan Ciung-mungkal jawa, tetapi cukup berbeda
karena warnanya lebih terang dan ukuran tubuhnya lebih
besar.

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (40 cm), berwarna abu-abu pucat. Sayap hitam, ekor dan tubuh bagian
bawah keabuan. Perbedaannya dengan Pergam laut: tubuh bagian atas abu-abu (bukan
putih), warna hitam pada separuh ekor, dan lingkaran mata merah. Iris coklat, keliling
mata yang gundul merah, paruh hijau-pucat dengan pangkal merah, kaki merah.

Deskripsi Suara

Tidak ada informasi.

Kebiasaan

Mendiami pulau-pulau kecil, tetapi jarang ditemukan karena adanya penebangan hutan.
Kadang-kadang berbaur dengan Pergam laut.

Nama Inggris : Silvery Wood-Pigeon


Nama Indonesia : Merpati-hutan perak
Ketinggian : 0 - 100 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan;
Endemik :
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Sumatera timur, Kep. Riau, dan Kalimantan bagian
utara.
Penyebaran lokal : Burung yang termasuk jarang ini mendiami pulau-pulau
kecil di Selat Malaka, tetapi kadang-kadang dijumpai di
pesisir Sumatera dan Kalimantan di bawah ketinggian
100 m.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

40 cm. Hitam; iris gelap; busur paruh berbulu dari pangkal sampai setengah panjangnya.

Deskripsi Suara

Nada cwaaa atau cawaraa atau waak tinggi, parau, menurun, diulang 1-3 kali. Juga,
adakalanya suara letupan dan degukan pol-ok atau burr-ok bergaung luar biasa yang
mendalam dengan pengulangan; dan suara kontak berciut-ciut, parau, tenang.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan, dan adakalanya dalam kelompok hingga hingga 6 ekor. Pemalu dan
waspada. Umumnya sering di kanopi atau kanopi bawah. Terbang cepat dan mirip
pergam, kepakan sayap mengeluarkan bunyi mendengung. Saat mengeluarkan suara
panggilan, ekor digerakkan ke bawah; atau menahan tubuhnya horisontal , kepala
direndahkan dan ekor dirapatkan dengan baik, dan menaikkan dan menurunkan kepala
kembali dengan kejang setiap bersuara.

Nama Inggris : Flores Crow


Nama Indonesia : Gagak flores
Ketinggian : 0 - 950 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Flores, Nusa Tenggara barat.
Penyebaran lokal : Kemungkinan terbatas di Flores barat. Umum secara
lokal. Menghuni hutan primer, hutan sekunder yang
tinggi dan hutan basah yang rusak dan semi luruh-daun;
kadang petak-petak kecil bekas hutan dan kawasan yang
pohonnya jarang. Dari permukaan laut sampai
ketinggian 950 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekender, hutan basah, hutan semi
luruh-daun
Tekanan :
Deskripsi Bentuk

39 cm. Hitam; iris gelap. Bandingkan dengan Gagak hutan (lebih besar; ekor secara
proporsional lebih panjang).

Deskripsi Suara

Belum terdokumentasi, tapi mungkin nada yang lebih cepat dari Gagak hutan.

Kebiasaan

Belum diketahui.

Nama Inggris : Banggai Crow


Nama Indonesia : Gagak banggai
Ketinggian : 0 - 660 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Kep. Banggai, subkawasan Sulawesi.
Penyebaran lokal : Diketahui hanya dari dua spesimen dari pulau yang tidak
disebutkan secara spesifik di Kep. Banggai, dikoleksi
selama 1884-1885.

Suara :
Habitat : Hutan lumut
Tekanan :
Deskripsi Bentuk

Berukuran agak kecil (154 cm), berwarna biru dan jingga. Jantan: tubuh bagian atas biru,
dahi, punggung bawah, dan tunggir biru mengilap, dada merah bata-jingga tua menjadi
kuning tua pada perut, tenggorokan berwarna lebih pucat daripada dada. Terdapat variasi
antar-ras. Ras jantan Serawak: dagu hitam, ras Kalimantan barat: dahi tersapu merah
bata, ras Sumatera: tungging lebih putih. Perbedaannya dengan Sikatan cacing: tunggir
biru mengilap. Betina: tubuh bagian atas coklat, tunggir dan ekor biru, ada sapuan
kebiruan pada mantel, tubuh bagian bawah seperti jantan, tanpa bintik hitam pada dagu.
Iris coklat tua, paruh hitam, kaki kelabu tua.

Deskripsi Suara

Kicauan terdiri dari beberapa nada lemah bernada tinggi disusul satu atau dua nada yang
lebih nyaring, rendah, dan panjang: "si-si-tiuuuw".

Kebiasaan

Memburu serangga dari tenggeran rendah yang mencolok di hutan bekas tebangan. Di
tempat yang jauh dari pesisir dan sungai, jenis ini menggantikan keberadaan Sikatan
melayu dan Sikatan bakau.

Nama Inggris : Large-billed Blue-flycatcher


Nama Indonesia : Sikatan biru-langit
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan;
Endemik : Sumatera; Kalimantan;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera dan Kalimantan.
Penyebaran lokal : Burung dataran rendah yang langka di Sumatera (hanya
diketahui dari beberapa catatan). Tidak umum pada
ketinggian menengah di hutan Kalimantan.

Suara :
Habitat : Hutan dataran rendah
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Berukuran agak besar (17 cm), berwarna biru. Jantan: kepala, tenggorokan, dan dada
biru; tunggir dan penutup ekor atas biru berkilap. Perbedaannya dengan Sikatan biru-
muda: warna lebih gelap, tungging biru berkilat, paruh lebih besar. Betina:tubuh bagian
atas coklat-merah bata, tunggir dan ekor merah bata, dada merah karat menjadi keputih-
putihan pada perut. Perbedaannya dengan Sikatan biru-muda betina: dada merah karat.
Remaja: tubuh bagian atas coklat berbintik kuning tua, tubuh bagian bawah bersisik
hitam menjadi keputih-putihan pada perut tengah. Dahi, lingkar mata, tenggorokan, dan
dadanya merah bata. Iris coklat, paruh dan kaki hitam.

Deskripsi Suara

Tidak diketahui.

Kebiasaan

Ditemukan di hutan bekas tebangan.

Nama Inggris : Rueck\'s Blue-flycatcher


Nama Indonesia : Sikatan aceh
Ketinggian : 150 - 0 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik : Sumatera; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera.
Penyebaran lokal : Hanya diketahui empat ekor. Dua dikoleksi di hutan
sekunder di dataran rendah di daerah Medan, Sumatera
utara. Dua lainnya dari Semenanjung Malaysia yang
diragukan asalnya. Mungkin jenis ini endemik di
Sumatera.

Suara :
Habitat : Hutan sekunder dataran rendah
Tekanan :
Informasi lainnya : Jenis ini dianggap dekat dengan Sikatan hainan Cyornis
hainana dari Cina selatan dan Indocina.

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 14,5 cm. Bagian atas abu-abu kecoklatan, mahkota lebih abu-abu, tunggir
dan ekor lebih zaitun merah-karat; bagian bawah abu-abu kecoklatan.

Deskripsi Suara

Belum terdeskripsi.

Kebiasaan
Teramati sendiri. Tidak mencolok, bertengger di lapisan tengah hutan primer.

Nama Inggris : Matinan Blue Flycatcher


Nama Indonesia : Sikatan matinan
Ketinggian : 1400 - 1780 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sulawesi utara.
Penyebaran lokal : Tampaknya langka. Menghuni hutan; 1400-1780 m.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 42 cm. Umumnya abu-abu tua, menjadi bungalan pada perut bawah.

Deskripsi Suara

Seri lengkingan cepat, nada hu berdengung, (selama 1 detik). Juga dua nada hoo dalam.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan, dan dalam kelompok kecil hingga 4 ekor. Pemalu. Mencari makan
di kanopi bawah pohon-pohon buah.

Nama Inggris : Timor Imperial Pigeon


Nama Indonesia : Pergam timor
Ketinggian : 500 - 2200 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara;
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Timor dan Wetar, Nusa Tenggara timur
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni hutan pegunungan dan hutan
monsun; 500-2200 m (Timor).

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan, hutan mo

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (40 cm), berwarna abu-abu kecoklatan dengan sedikit kilapan hijau pada
mantel. Mirip Pergam hijau. Perbedaannya: ukuran lebih kecil, bulu lebih abu-abu, tidak
memiliki bulu penutup ekor bagian bawah yang coklat berangan. Iris merah tua, paruh
abu-abu kebiruan dengan pangkal gelap, kaki merah tua.

Deskripsi Suara

Tidak ada informasi.

Kebiasaan

Mirip pergam-pergam lainnya, tetapi lebih terbatas di pulau-pulau kecil saja.

Nama Inggris : Grey Imperial-Pigeon


Nama Indonesia : Pergam kelabu
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Kalimantan; Bali; Sulawesi;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Ditemukan di pulau-pulau kecil di sekitar pesisir utara
dan timur Kalimantan, Filipina selatan, dan Sulawesi
utara.
Penyebaran lokal : Kep. Miangas dan Kep. Talaud (Karakelong, Salebabu,
Kaburuang). Jenis di pulau kecil. Tidak umum.
Menghuni hutan primer dan hutan sekunder yang tinggi
di pesisir dan hutan pamah.

Suara :
Habitat : Hutan primer dan sekunder di pesisir, hutan pamah
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Berukuran sedang (68 cm), berwarna putih dengan kaki kehijauan. Paruh hitam dengan
pangkal bawah kuning. Pada musim dingin, perbedaannya dengan Kuntul kecil adalah
pada ukuran (besar) dan pada warna kaki. Perbedaan dengan bentuk putih dari Kutul
karang adalah kaki panjang serta paruh lebih runcing dan berwarna lebih gelap. Pada
masa berbiak: paruh kuning dan kaki hitam. Iris kuning coklat, paruh hitam dengan
pangkal bawah kuning, kaki kuning hijau sampai abu-abu - biru.

Deskripsi Suara
Umumnya pendiam. Erangan rendah ketika merasa terganggu.

Kebiasaan

Seperti Kuntul kecil, aktif mencari mangsa di air dangkal. Sering mengunjungi gosong
lumpur pasang surut, muara sungai dan laguna.

Nama Inggris : Chinese Egret


Nama Indonesia : Kuntul cina
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan; Jawa; Bali; Sulawesi;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Berbiak di pulau-pulau lepas pantai barat Korea utara
dan pulau-pulau lepas pantai Shanghai, Cina. Pada
musim dingin kebanyakan terlihat berada di Filipina.
Penyebaran lokal : Pernah terlihat di Berbak, Sumatera (dan satu ekor
pernah dikoleksi di Mentawai, tetapi sekarang hilang).
Pada awal abad ini ditemukan di Kalimantan bagian
utara. Masih secara teratur dilaporkan dari Kalimantan,
termasuk dari belahan selatan (muara Mahakam). Pernah
sekali terlihat di Jawa (Pangandaran). Kecuali pada masa
berbiak, pengamatan harus dilakukan agak hati-hati.
Tercatat juga di Sulawesi dan Manterawu.

Suara :
Habitat : Gosong lumpur, laguna, muara sungai
Tekanan :
Informasi lainnya : Migran yang langka di kawasan Wallacea, tercatat hanya
tiga atau empat kali: di awal Oktober, Februari dan
April.
Deskripsi Bentuk

31 cm. Bulu merah dan biru.

Deskripsi Suara

Pendek, kasar, sedikit ocehan melengking.

Kebiasaan

Biasanya berpasangan dan berkelompok kecil; dalam kelompok besar di pohon tidur.
Berisik dan mencolok. Mengunjungi pohon berbunga, termasuk pohon kelapa, untuk
makan. Berpindah-pindah secara lokal; di Kep. Talaud teramati kelompok-kelompok
besar terbang dari satu pulau ke pulau lain untuk tidur.

Nama Inggris : Red-and-blue Lory


Nama Indonesia : Nuri talaud
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di pulau-pulau di Sulawesi bagian utara. Tiga
subjenis: 1. (challengeri) Miangas. 2. (talautensis) Kep.
Talaud (Karakelong, Salebabu, Kaburuang). 3. (histrio)
Sangihe, Siau, Ruang.
Penyebaran lokal : Menghuni hutan pamah primer dan hutan perbukitan;
mengunjungi perkebunan kelapa di pesisir.
Suara :
Habitat : Hutan pamah primer, hutan perbukitan, kebun kelapa
Tekanan : Hilangnya habitat, penangkapan untuk perdagangan

Deskripsi Bentuk

30 cm. Nuri merah dan hitam dari pulau-pulau di Teluk Cenderawasih. Perhatikan
mahkota dan tengkuk merah, punggung hitam, dan bercak ungu di telinga. Ketika
terbang: sayap bawah dengan bulu-bulu terbangnya sebagian besar merah, kemudian ke
arah ujungnya menjadi kekuningan dan berujung hitam.

Deskripsi Suara

Pekikan tinggi seperti suara Perkici pelangi, tetapi lebih kuat, lebih kasar, dan tidak
terlalu panjang.

Kebiasaan

Jenis yang suka berkelompok di habitat-habitat pesisir di pulau-pulau; tampaknya


menghindari hutan di pedalaman. Sering mengunjungi perkebunan kelapa. Sering terbang
di bawah lapisan kanopi.

Nama Inggris : Biak Red Lory


Nama Indonesia : Nuri sayap-hitam
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Papua
Penyebaran lokal : Pulau-pulau di Teluk Cenderawasih Biak, Numfor,
Manim, dan Meos Num.

Suara :
Habitat : Hutan pesisir, kebun
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

110 cm. Suara jantan adalah cara terbaik menemukannya; di Daerah Kepala Burung
jantan seluruhnya hitam atau coklat kehitaman, dengan bulu ekor tengah lanset sangat
panjang dan paruhnya berbentuk sabit; betina lebih mirip dengan paruh-sabit lain; iris
jantan merah, betina coklat.

Deskripsi Suara

Jantan mengeluarkan sepasang nada identik, quik! quik! sangat keras, tajam, mengalir.
Nada suara mirip dengan suara Paruh-sabit coklat.

Kebiasaan

Kanopi hutan; suara jantan dari hari ke hari dari petak yang sama di hutan dan mungkin
memperagakan diri dan berpasangan di situ juga. Tempat bersuara biasanya di lereng
curam sisi bukit. Memakan buah dan artropoda yang diambil dari kulit kayu dan lumut.
Hutan pegunungan tengah di zona ketinggian yang rendah, di bawah persebaran Paruh-
sabit coklat.
Nama Inggris : Black Sicklebill
Nama Indonesia : Paruh-sabit kurikuri
Ketinggian : 1300 - 2540 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Papua
Penyebaran lokal : Jajaran Pegunungan Tengah (kecuali Tenggara),
pegunungan di Daerah Kepala Burung dan semenanjung
Wandammen, Kawasan Pesisir Utara dan G. Bosavi
(Purari-Kikori), pada ketinggian 1300-2540 m. Umum di
beberapa tempat tetapi tidak ada di banyak tempat
lainnya.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 27 cm. Gelap dengan pita-tenggorokan bungalan merah-karat pucat dan
tanda putih kecil yang tidak mencolok pada bulu primer keempat (jumlah dihitung dari
sayap luar); tidak ada warna putih pada ekor.

Deskripsi Suara

Belum diketahui dengan pasti.

Kebiasaan

Koleksi spesimen berasal dari rumpun rotan di hutan. Catatan yang diperoleh berasal dari
satu ekor burung diam yang teramati pada saat petang dan menjelang fajar: a) bertengger
di ranting kecil lebih kurang setinggi 0,5 m dari permukaan tanah di tepi jalan; b)
bertengger di atas jalan di daerah terbuka pada punggungan bukit; c) mencari mangsa
sepanjang tepi hutan pada ketinggian 1-35 m, kebanyakan 5-15 m; d) melintas cepat di
lapisan tengah di atas daerah yang sebagian kecil terbuka.

Nama Inggris : Satanic Nightjar


Nama Indonesia : Taktarau iblis
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sulawesi utara dan tengah utara
Penyebaran lokal : Langka dan lokal. Sering mengunjungi rumpang di
hutan primer pegunungan dan hutan yang ditebang pilih.

Suara :
Habitat : Hutan primer pegunungan, hutan tebang pilih
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

33-34 cm. Punggung berpalang dan penutup sayap lebih besar; bagian bawah gelap,
tunggingnya putih kontras; tungkai gelap.

Deskripsi Suara

Jarang terdengar, suara agak gemetar, rendah waaaaw, terdengar jauh dari lokasi
bersarang. Nada sengau kuat bervariasi saat berada di sarang.

Kebiasaan

Sendiri atau berpasangan. Pemalu dan sulit dipisahkan dari komunitas bersarangnya.
Biasanya tinggal di habitat hutan dataran tinggi untuk meletakkan telurnya di pantai
berpasir dan tanah terbuka di daerah hutan pantai dan semak, kadang di pesisir atau pulau
satelit kecil.

Nama Inggris : Moluccan Scrubfowl


Nama Indonesia : Gosong maluku
Ketinggian : 0 - 1500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Maluku
Penyebaran lokal : Halmahera, Meiti, Ternate, Bacan, Buru, Boano, Seram,
Ambon, Haruku. Biasanya langka sampai tidak umum.
Menghuni hutan perbukitan dan hutan pegunungan,
biasanya di atas sekitar ketinggian 750 m. Sarang-
sarangnya di pantai berpasir dan semak pesisir. Dari
permukaan laut sampai ketinggian 1500+ m di
Halmahera, 1650 m di Bacan dan 900 m di Seram.

Suara :
Habitat : Hutan perbukitan dan pegunungan
Tekanan :
Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 18 cm. Bagian atas biru agak gelap; bagian bawah abu-abu kebiruan lebih
pucat. Lingkaran-mata keputih-putihan.

Deskripsi Suara

Suara yang dikeluarkan termasuk nada tuk keras, step?..step sangat keras, dan suara khas
chew...chew...chew keras.

Kebiasaan

Burung pemakan serangga, penetap di hutan primer pada lembah curam yang tinggi dan
dasar lembah yang bersungai. Pengamatan juga dilakukan di semak punggungan bukit
dekat dengan aliran air berhutan yang curam. Mencari makan di kanopi dan subkanopi
pohon-pohon tinggi lebih kurang 15 m, tapi juga turun mencari makan di lapisan bawah.
Mangsa ditangkap pada saat terbang.

Nama Inggris : Caerulean Paradise-flycatcher


Nama Indonesia : Seriwang sangihe
Ketinggian : 450 - 750 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sangihe (sebuah pulau kecil di Sulawesi
bagian utara). Di- temukan kembali pada tahun 1998.
Penyebaran lokal : Sangat langka; menghuni hutan. 450-750 m.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

10-11 cm. Bagian atas coklat zaitun; ekor kadru tua; bintik besar di atas kekang bungalan
jingga; tenggorokan dan dada bungalan jingga; perut putih; sisi tubuh abu-abu
kecoklatan. Bandingkan dengan betina Sikatan bodoh (tenggorokan lebih pucat; ekor
coklat), betina Sikatan leher-merah (bintik di atas kekang tidak bungalan jingga).

Deskripsi Suara

Belum terdeskripsi.

Kebiasaan

Hanya sedikit diketahui. Sering berada di lapisan bawah hutan lebat.

Nama Inggris : Lompobattang Flycatcher


Nama Indonesia : Sikatan lompobattang
Ketinggian : 1100 - 1830 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Peg. Lompobattang, Sulawesi selatan.
Penyebaran lokal : Umum secara lokal. Menghuni hutan; 1100-1830 m.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 25 cm. Kedua sayap coklat merah-karat. Jantan: tenggorokan dan dada
keputih-putihan, mahkota abu-abu pucat; bagian atas coklat kemerahan; bercak
lembayung berkilap pada sisi dada dan bahu; perut kehitaman. Betina: umumnya merah-
karat, termasuk mahkota, punggung dan perut lebih coklat zaitun.

Deskripsi Suara

Belum ada informasi

Kebiasaan

Sepertinya soliter. Burung terestrial, kebiasaan mirip dengan Delimukan sulawesi.

Nama Inggris : Wetar Ground-dove


Nama Indonesia : Delimukan wetar
Ketinggian : 0 - 950 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara;
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Timor dan Wetar, Nusa Tenggara timur
Penyebaran lokal : Jenis yang kurang dikenal. Menghuni hutan pamah dan
hutan monsun perbukitan dan lahan hutan. Dataran
rendah dari permukaan laut sampai ketinggian 950 m
(Timor).

Suara :
Habitat : Hutan pamah, hutan monsun perbukitan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (95 cm), berwarna gelap. Jantan: hitam-hijau berkilat dengan kantung
paruh merah dan perut putih. Betina: dada dan perut putih, 'taji' putih meluas sampai
sayap bawah, kerah putih, lingkar mata merah jambu. Remaja: lebih coklat, kepala coklat
karat pucat, ada garis lebar gelap melintang pada dada. Iris coklat gelap, paruh hitam
(jantan) atau kemerahjambuan (betina dan remaja), kaki abu-abu keunguan dengan
telapak kaki merah muda.

Deskripsi Suara

Diam ketika di laut. Bernyanyi dengan nada naik turun dan berbunyi seperti tepukan
hanya pada waktu berada di sarang.

Kebiasaan

Hidup di laut, membubung tinggi di atas permukaannya, mengikuti udara panas atau
berputar-putar di atas ikan. Menangkap makanan dari permukaan laut tanpa mendarat
atau memburu burung laut lain untuk merampas makanan. Bertengger atau beristirahat
pada bagan ikan dan di atas pepohonan di pulau-pulau kecil.

Nama Inggris : Christmas Frigatebird


Nama Indonesia : Cikalang christmas
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan; Jawa; Bali; Sulawesi; Nusa
Tenggara;
Endemik :
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Berbiak di P. Christmas, Samudera Indonesia. Tercatat
di utara sampai ke Malaysia.
Penyebaran lokal : Secara teratur tercatat di pesisir Sumatera dan
Kalimantan. Tidak jarang ditemukan di L. Jawa dan
lebih umum terlihat di pesisir selatan Jawa, khususnya
Jawa bagian barat daya. Tercatat juga di Sulawesi
bagian utara, Lombok (sekali), Timor (sekali).

Suara :
Habitat : Pesisir pantai
Tekanan :
Informasi lainnya : Mungkin pengunjung tetap tidak berbiak di Wallacea,
meskipun hanya ada dua catatan yang dianggap sah.

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (30 cm), berwarna hitam kecoklatan. Kepala putih dengan jambul
sedikit tegak, mudah dikenali. Dahi, kekang, dan setrip mata hitam menurun.Iris dan
paruh coklat, kaki kecoklatan.

Deskripsi Suara

Sangat ribut. Suara dimulai dengan ocehan, diikuti kotekan dan ringkikan nyaring.
Kebiasaan

Hidup berkelompok, pada lantai bawah dan menengah di hutan. Kadang-kadang turun ke
permukaan tanah. Terbang dengan cara meluncur khas poksai.

Nama Inggris : Sumatran Laughingthrush


Nama Indonesia : Poksai Sumatra
Ketinggian : 750 - 2 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik : Sumatera;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Himalaya, Asia tenggara (kecuali Semenanjung
Malaysia), dan Sumatera.
Penyebaran lokal : Di pegunungan di Sumatera.

Suara :
Habitat : Agak jarang terdapat di hutan primer dan hutan sekunder
Tekanan :
Informasi lainnya : Garrulax leucolophus (Sibley dan Monroe 1990, 1993)
telah dipisah G. leucolophus dan G. bicolor mengikuti
collar (2006).
Deskripsi Bentuk

Berukuran sedang (49 cm), bertubuh tegap, berwarna coklat. Mirip Kowak melayu.
Perbedaannya: paruh dan mahkota lebih kecil, tengkuk coklat batu sampai coklat
berangan (tidak hitam), ujung sayap tidak putih. Ada bercak hitam dan putih yang khas
pada pundak. Tubuh bagian atas coklat gelap dengan coretan lebih halus dan pucat, tubuh
bagian bawah kuning tua dengan garis tengah berupa coretan coklat gelap. Bulu terbang
abu-abu, sangat kontras dengan penutup sayap yang coklat. Iris dan kulit muka kuning,
paruh berwarna tanduk, kaki hijau gelap.

Deskripsi Suara

Diam pada musim dingin.

Kebiasaan

Menyukai daerah berhutan tetapi mencari makan di padang rumput terbuka pada pagi dan
sore hari. Agak jinak.

Nama Inggris : Japanese Night-heron


Nama Indonesia : Kowak jepang
Ketinggian : 0 - 1000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi; Maluku;
Endemik :
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Berbiak di Jepang. Di Filipina pada musim dingin. Di
Sulawesi utara (tiga laporan) dan Halmahera (sekali).
Penyebaran lokal : Tercatat di Brunei pada tahun 1988. Pengunjung musim
dingin yang langka di Wallacea Utara. Sering
mengunjungi aliran sungai di hutan. Dari permukaan
laut sampai ketinggian 1000 m.

Suara :
Habitat : Hutan, padang rumput
Tekanan :
Deskripsi Bentuk

66 cm. Merpati biru abu-abu dan hitam seperti kalkun, besar sekali, jambul seperti kipas,
seluruh dada abu-abu, ujung jambul tidak putih. Banyak burung bebercak hitam tidak
teratur.

Deskripsi Suara

Panggilan hooom yang dalam dan bergema, diulang oleh anggota-anggota kawanan,
hanya terdengar dalam jarak dekat.

Kebiasaan

Bergerombol; dalam kelompok kecil di dataran rendah yang datar, biasanya di hutan
aluvial yang tidak terganggu. Agak jinak, tetapi segera terbang gesit dan ribut menerobos
vegetasi sampai menemukan tenggeran di bawah kanopi pohon. Sayap dikepakkan keras
(sering berpasangan) ketika mulai lepas landas. Ekor dikibaskan ke atas dan ke bawah
dengan gugup, cepat dan dangkal. Tertarik untuk berlindung di lokasi persiapan kebun
sagu.

Nama Inggris : Western Crowned Pigeon


Nama Indonesia : Mambruk ubiaat
Ketinggian : 0 - 350 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Papua, Seram, Maluku Selatan.
Penyebaran lokal : Semenanjung Daerah Kepala Burung dan Semenanjung
Onin, di Selatan sampai Teluk Etna ke arah timur, dan di
Utara sampai S. Siriwo, di ujung Teluk Cendrawasih (di
mana berlangsung hibridisasi dengan Mambruk
victoria), Misool, Salawati, Batanta, dan Kep. Waigeo,
dari ketinggian permukaan laut sampai 110 m.
Dikatakan umum secara lokal di hutan pamah Seram
Utara dan P. Bula (Seram Timur). Dataran rendah
sampai sekitar 350 m.

Suara :
Habitat : Hutan aluvial
Tekanan : Perburuan untuk dimakan dan koleksi bulu

Deskripsi Bentuk

75 cm. Jambul tidak berujung putih; dada merah-manggis. Satu-satunya mambruk di


Selatan.

Deskripsi Suara

Suara dentuman bergaung tenang.

Kebiasaan

Sama seperti Mambruk ubiaat.

Nama Inggris : Southern Crowned Pigeon


Nama Indonesia : Mambruk selatan
Ketinggian : 0 - 500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Papua
Penyebaran lokal : P. Papua bagian selatan, sampai Teluk Etna (?) ke arah
barat. Dari ketinggian permukaan laut sampai 500 m.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan : Perburuan untuk dimakan dan koleksi bulu

Deskripsi Bentuk

66 cm. Jambul berujung putih, dada merah-manggis, dan persebarannya di bagian utara.

Deskripsi Suara

Kelompok yang pergi kesana kemari mencari makanan berkomunikasi dengan suara
dentuman bergaung tenang.

Kebiasaan

Seperti Mambruk ubiaat.

Nama Inggris : Victoria Crowned-pigeon (Victoria Goura atau Guria


Crowned Pigeon)
Nama Indonesia : Mambruk victoria
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Papua
Penyebaran lokal : P. Yapen, P. Biak, dan P. Papua bagian utara, dari ujung
Teluk Cendrawasih (hibridisasi dengan Mambruk
ubiaat), ke timur melalui Sepik-Ramu, kemudian di
Tenggara dari desa Morobe sampai Teluk Milne, di
dekat permukaan laut.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan : Perburuan untuk dimakan dan koleksi bulu

Deskripsi Bentuk

Kepala, leher, dan dada kadru tua; dagu kehitaman (sepia). Seluruh mantel, punggung
dan penutup sayap atas zaitun kehijauan terang dengan sepertiga bagian ujung bulu-bulu
mantel berwarna-warni, membentuk bercak terang berkilap melintasi mantel. Perut
sampai penutup ekor bawah kehitaman, seperti penutup ekor atas. Mata merah terang,
dikelilingi oleh kulit gundul merah-jambu yang lebar dan bercak keperakan (di bagian
belakang). Paruh kuning terang dengan sepertiga bagian belakangnya kusam. Tungkai
kuning, menjadi kemerahjambuan ke arah kaki.

Deskripsi Suara

Serangkaian nada paling sedikit lima belas ulangan, nada panggilan tinggi peet-peet-peet
terdengar ketika jenis ini pertama kali ditemukan, tetapi nada panggilannya perlu
dikonfirmasi kembali.

Kebiasaan

Pemalu dan tersembunyi.

Nama Inggris : Talaud Rail


Nama Indonesia : Mandar talaud
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Kep. Talaud, Sulawesi utara, diketahui
hanya dari Karakelong.
Penyebaran lokal : Jenis ini baru ditemukan pada bulan Agustus 1996.
Dilaporkan relatif tersebar luas di Karakelong dan cukup
umum dalam habitat padang rumput basah di tepi hutan
dan vegetasi lainnya. Mungkin juga memerlukan hutan.

Suara :
Habitat : Padang rumput, hutan

Deskripsi Bentuk

30 cm. Paruh agak pendek, kokoh; ekor hitam tegak; bercak-mata besar putih kebiruan;
kepala dan bagian bawah sabak tua; bagian atas kadru tua.

Deskripsi Suara

Suara kotekan tenang.

Kebiasaan

Sendiri dan adakalanya berpasangan. Pemalu, tidak mencolok, sulit diamati dan didekati.

Nama Inggris : Blue-faced Rail


Nama Indonesia : Mandar muka-biru
Ketinggian : 0 - 1500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di subkawasan Sulawesi: Sulawesi, Kep.
Banggai (Peleng).
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni hutan pamah primer dan
sekunder yang tinggi dan hutan perbukitan; juga bekas
sebidang hutan sekunder yang lebat; dan perdu, sawah
yang ditinggalkan. Dari permukaan laut sampai
ketinggian 1500 m.

Suara :
Habitat : Hutan pamah primer, hutan sekunder, hutan perbukitan,
perdu, sawah
Deskripsi Bentuk

40 cm. Abu-abu sabak tua; paruh panjang, merah terang; mata dan tungkai merah.

Deskripsi Suara

Dilaporkan oleh masyarakat lokal bersuara seperti dentaman genderang pelan.

Kebiasaan

Hanya sedikit diketahui. Kemungkinan penyendiri? Sangat tidak mencolok, pemalu dan
sulit diamati. Adakalanya melintasi daerah terbuka, termasuk anak sungai.

Nama Inggris : Drummer Rail


Nama Indonesia : Mandar gendang
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Halmahera, Maluku Utara
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni daerah yang sangat berawa,
khususnya rawa-rawa sagu; juga tepian payau,
pertumbuhan sekunder dan tepi hutan. Sebagian besar
burung yang menghuni hutan dilaporkan oleh penduduk
lokal.

Suara :
Habitat : Rawa, tumbuhan sekunder, tepi hutan
Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (52 cm), berwarna coklat zaitun, seperti titihan yang berparuh kuat.
Berenang rendah di air. Jantan: muka dan tenggorokan putih dan berkelim garis putih.
Betina: di tengah tenggorokan putih. Pada waktu terbang, ekor terlihat lebih lebar dan
bulat. Iris coklat, paruh kuning, kaki hijau dan melebar.

Deskripsi Suara

Derukan dan dengkingan aneh.

Kebiasaan

Pemalu dan suka bersembunyi. Umumnya ditemukan berenang sepanjang sungai, teluk,
atau tepi danau, di bawah vegetasi mangrove yang menggantung, rawa air tawar, dan
kolam yang telah tertutup tumbuhan. Mengangguk-anggukkan kepala ke depan dan ke
belakang sewaktu berenang, dengan sebagian tubuh terendam di air. Mirip titihan, lari
menerjang air sebelum menghilang menuju tumbuhan bawah. Terbang rendah di atas air
dengan kepakan sayap yang dangkal.

Nama Inggris : Masked Finfoot


Nama Indonesia : Pedendang topeng
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Jawa;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Assam dan Asia tenggara. Pada musim dingin
ditemukan di Sumatera dan Jawa.
Penyebaran lokal : Keberadaan jenis ini di Sumatera belum diketahui secara
pasti. Hanya terdapat sedikit catatan, tetapi hampir
semuanya menunjukkan burung ini sebagai pengunjung
musim dingin. Pada tahun 1984, satu ekor ditemukan
tersesat di hutan mangrove di P. Rambut, Jawa barat.

Suara :
Habitat : Hutan mangrove, rawa air tawar
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

76-89 cm. Pemangsa berukuran sangat besar, sayap lebar dengan bagian bawah pucat
tanpa coret. Bagian bawah ekor ditandai dengan palang yang tidak jelas, yang paling
ujung menjadi paling lebar dan paling menonjol. Sayap pendek dan lebar. Iris besar,
gelap atau pucat.

Deskripsi Suara

Nada uumpph! atau okh! stakato rendah yang tidak tetap, bernada cegukan atau suara
yang dihasilkan dari melepaskan ketegangan busur panah; kadang disertai dengan buk
yang diulang beberapa kali, mengingatkan pada nada suara yang dihasilkan oleh ayam
(tetapi lebih kuat dan lebih rendah). Suara panggilan terdengar melintas hutan; dua
burung sering bersahutan dan sambung-menyambung, khususnya pada senja, petang, atau
dalam kegelapan. Suara mirip Bubut pini, tetapi biasanya lebih berirama dan dalam
rangkaian nada yang menurun.

Kebiasaan

Terbatas di hutan yang tidak terganggu. Terbang di batas atau di bawah kanopi,
bertengger di hutan bagian dalam. Mencari makan berupa mamalia yang lebih besar,
yang ditangkap dari tanah atau digali dengan cakarnya dari lubang pohon.

Nama Inggris : New Guinea Harpy-eagle


Nama Indonesia : Rajawali papua
Ketinggian : 0 - 3200 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Pulau Papua
Penyebaran lokal : Seluruh daratan utama P. Papua, dari ketinggian
permukaan laut sampai 3200 m. Paling sering
mengunjungi sesuatu yang busuk.

Suara :
Habitat : Hutan

Deskripsi Bentuk

Sangat besar (110 cm), berwarna hitam dan putih dengan paruh yang besar. Sayap,
punggung, dan ekor hitam; tubuh bagian bawah dan kalung leher putih. Kepala botak,
leher dan tenggorokan merah jambu dengan bulu kapas putih halus pada mahkota.
Perbedaannya dengan Bangau besar adalah ukuran lebih kecil, sayap seragam, dan tidak
ada kantung tenggorokan.

Deskripsi Suara

Diam, selain desisan di sarang, kepakan sayap, dan tepukan paruh.

Kebiasaan

Mengunjungi sawah, padang rumput terbuka yang terbakar atau kebanjiran, gosong
lumpur, dan mangrove. Sering kelihatan melayang-layang di udara panas yang naik, atau
dalam kelompok kecil dengan bangau lain atau malah dengan elang. Bersarang dalam
kelompok di daerah berhutan.

Nama Inggris : Lesser Adjutant


Nama Indonesia : Bangau tongtong
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan; Jawa;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : India, Cina selatan, Asia tenggara, dan Sunda Besar.
Penyebaran lokal : Tidak jarang di Sumatera timur. Di Sumatera selatan
dilaporkan adanya kelompok ini antara 40-50 ekor. Di
Kalimantan, agak jarang dan terdapat setempat, tetapi
sarangnya tercatat di Kalimantan tengah bagian selatan.
Di Jawa dan Bali pernah umum, tetapi sekarang jarang
terdapat di daerah terbuka.

Suara :
Habitat : Sawah, padang rumput, gosong lumpur, mangrove

Deskripsi Bentuk

Berukuran sedang (25 cm), berwarna putih. Bulu seluruhnya putih salju, kecuali ujung
sayap dan ujung ekor hitam, kulit terbuka di sekitar mata berwarna biru terang. Jambul
sangat panjang (terutama pada jantan). Perbedaannya dengan jalak putih: warna hitam
pada sayap jauh lebih sempit dan kulit di sekitar mata berwarna biru. Iris kelabu, paruh
kelabu dan kuning, kaki kelabu-biru.

Deskripsi Suara

Siulan keras, parau sebagai suara kontak: "cl'ik", "kiik-k'k-kw'k", dan berbagai variasi
yang disusun menjadi nyanyian. "Twat" sewaktu mencari makan.

Kebiasaan

Burung dataran rendah kering di Bali Barat. Bertengger bersama, tetapi terbang
berpasangan untuk mencari makan. Jambul jantan menegak sewaktu bercumbu atau
bergaya dan turun selama bernyanyi.

Nama Inggris : Bali Myna


Nama Indonesia : Jalak bali
Ketinggian : 0 - 175 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran :
Endemik : Bali; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Bali.
Penyebaran lokal : Terbatas di Bali bagian barat laut, hanya sekitar 20-30
ekor lagi yang masih hidup liar (tahun 1993-1996).
Namun saat ini jumlah tersebut sudah jauh menurun.
Deskripsi Bentuk

10 cm. Daerah Kepala Burung. Kepala abu-abu, dada abu-abu kecoklatan, dan perut dan
pahanya coklat. Pita abu-abu memisahkan dada bagian atas yang coklat abu-abu dengan
perutnya yang coklat. Punggung coklat tua, tunggir dan ekor kuning pucat.

Deskripsi Suara

Ts ts ts ... tinggi, lemah.

Kebiasaan

Jenis pemalu yang menghuni padang rumput pegunungan tengah.

Nama Inggris : Grey-banded Mannikin


Nama Indonesia : Bondol arfak
Ketinggian : 0 - 1900 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Papua barat
Penyebaran lokal : Daerah Kepala Burung Danau Anggi, pada ketinggian
1900 m; Peg. Arfak dan Tamrau.

Suara :
Habitat : Padang rumput pegunungan
Tekanan :
Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (40-50 cm), berwarna gelap. Jantan belum pernah dikoleksi, tetapi
pernah diambil gambarnya di Lembah Mamas, Taman Nasional G. Leuser, terlihat seperti
Sempidan Sumatera, hitam kebiruan mengilap dan tanpa jambul. Betina: mirip sekali
dengan Sempidan Sumatera, tetapi punggung lebih coklat, tubuh bagian bawah kurang
coklat dan seluruhnya bercoretkan hitam. Terlihat lebih seragam tanpa pola sisik pada
bulu tengah yang berwarna pucat yang terdapat pada Sempidan Sumatea. Tubuh bagian
bawah coklat kekuningan, tenggorokan keputih-putihan, ekor hitam.

Deskripsi Suara

Tidak ada informasi.

Kebiasaan

Hidup di lantai hutan pegunungan, dalam kelompok kecil dengan satu jantan dan
beberapa betina.

Nama Inggris : Hoogerwerf\'s Pheasant


Nama Indonesia : Sempidan aceh
Ketinggian : 1200 - 2000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik : Sumatera; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera.
Penyebaran lokal : Dikenal dari Sumatera utara di hutan pegunungan antara
ketinggian 1.200-2.000 m. Ada sedikit catatan dari
Dataran Tinggi Gayo (termasuk Taman Nasional G.
Leuser).

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Tekanan :
Informasi lainnya : Status taksonomi tidak pasti. Hanya diketahui dari dua
betina. Oleh beberapa pakar mungkin dimasukkan
sebagai ras dari Sempidan Sumatera.

Deskripsi Bentuk

Jantan (50 cm): bulu hitam kebiruan bersinar, sempidan tanpa jambul, ekor pendek, kulit
muka merah padam. Betina (42 cm): berbintik coklat kemerahan dengan ekor coklat
gelap dan kulit muka merah. Iris coklat, paruh putih kehijauan, kaki dan tungkai abu-abu
kehijauan, taji panjang (jantan).

Deskripsi Suara

Suara tanda bahaya yang tenang.

Kebiasaan

Hidup di lantai hutan pegunungan yang rapat, berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Kebiasaan mirip sempidan lain.

Nama Inggris : Salvadori\'s Pheasant


Nama Indonesia : Sempidan sumatera
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera;
Endemik : Sumatera; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sumatera.
Penyebaran lokal : Terbatas di hutan pegunungan bawah di Bukit Barisan
tengah dan selatan (di selatan kawasan Ophir), antara
ketinggian 1.000-1.800 m, di G. Kerinci sampai
ketinggian 2.200 m. Keberadaan tidak umum sampai
jarang.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar (49 cm), tanpa jambul. Jantan di Kalimantan: mantel, sayap,
tenggorokan, dan dada keabuan bercoret putih. Tubuh bagian bawah dan penutup
ekornya hitam-biru gemerlap, tunggir merah padam, ekor kuning kebo. Tidak ada coretan
puth pada jantan di Sumatera. Mantel, sayap, dan tenggorokan hitam kebiruan gemerlap.
Betina: punggung hitam-biru bersinar, kepala coklat keabuan, tenggorokan kuning kebo.
Jantan dan betina: kulit muka merah tua. Iris coklat, paruh keabuan, kaki abu-abu.

Deskripsi Suara

Kerukan rendah "tuuk-taruu", berulang. Jantan: bunyi menderu-deru dari sayap.

Kebiasaan

Pemalu, hidup di lantai hutan primer yang rapat. Kebiasaan diperkirakan sama dengan
Sempidan biru.

Nama Inggris : Crestless Fireback


Nama Indonesia : Sempidan merah
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_3;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan.
Penyebaran lokal : Penghuni yang jarang di hutan dataran rendah. Terdapat
beberapa catatan dari Sumatera. Tersebar secara terbatas
di Kalimantan, yaitu di bagian barat dan bagian selatan
(sampai ke Brunei utara).

Suara :
Habitat : Hutan primer

Deskripsi Bentuk

12 cm. Hijau, tunggirnya merah; paruh merah. Jantan: bintik-tenggorokan merah. Betina:
bintik-tenggorokan kurang merah atau tidak ada.

Deskripsi Suara
Suara saat terbang strrt strrt berciut-ciut tajam, lebih keras dan bernada lebih rendah dari
suara panggilan yang dikeluarkan saat bertengger, lebih mengingatkan kepada suara
burung cabai Dicaeum sp. Juga suara chi-chi-chi-chi-chi yang sedikit parau, pada saat
memperlihatkan gaya terbang.

Kebiasaan

Biasanya berpasangan atau kelompok kecil hingga 10 ekor, adakalanya 20 ekor, makan di
pohon ara atau terbang di atas kanopi. Lebih menyukai makan buah di pohon ara tapi
juga makan di pohon lain yang bertangkai buah frambus atau berbunga dan berpucuk.
Bersuara terus menerus ketika terbang dan makan.

Nama Inggris : Wallace's Hanging-parrot


Nama Indonesia : Serindit flores
Ketinggian : 400 - 1035 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Flores, Nusa Tenggara barat
Penyebaran lokal : Tidak umum. Menghuni hutan primer; 400-1035 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer

Deskripsi Bentuk

Berukuran besar dan indah (jantan 77 cm, betina 50 cm). Jantan (mudah dikenali): pial
muka biru dan panjang, ekor putih melengkung berkembang. Tubuh umumnya hitam
kebiruan dengan pinggiran bulu biru. Tenggorokan dan bagian atas keunguan. Betina:
coklat suram berbintik-bintik, kulit muka biru. Iris merah, paruh berwarna tanduk gelap,
kaki dan tungkai merah, taji kecil (jantan).

Deskripsi Suara
Pada musim bercumbu, dengingan dan ratapan menusuk. Kedua jenis kelamin: "kuk kuk"
metalik dan menusuk. Suara tajam gugup: "kak kak" bila terganggu,

Kebiasaan

Mirip ayam-hutan (yang tidak terdapat di Kalimantan). Tinggal di hutan primer atau
hutan sekunder. Sewaktu mengigal, jantan memperagakan pial yang membesar dan
ekornya.

Nama Inggris : Bulwer's Pheasant


Nama Indonesia : Sempidan kalimantan
Ketinggian : 0 - 1600 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Kalimantan;
Endemik : Kalimantan;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Kalimantan.
Penyebaran lokal : Dapat ditemukan di hutan perbukitan sampai ketinggian
1.600 m di semua kawasan. Ditemukan umum setempat,
tetapi mulai jarang.

Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan sekunder
Deskripsi Bentuk

13,5 cm. Mirip Serindit maluku Loriculus amabilis amabilis dan Serindit sulawesi tetapi
ekornya berujung merah; tepi sayap depan tidak berwarna merah; dan, pada dewasa,
penutup ekor bawah merah (bukan hijau).

Deskripsi Suara

Dideskripsikan dengan berbagai cara sebagai siulan bersuku dua bernada tinggi, agak
stakato, membosankan, tanpa terkecuali dikeluarkan ketika terbang; atau nada sh-ui
menyatu naik yang pendek, lebih bermusik dari pada Serindit sulawesi.

Kebiasaan

Sendiri, berpasangan dan kelompok kecil. Lebih mencolok dari pada jenis-jenis serindit
lainnya. Makan di bunga pohon kelapa.

Nama Inggris : Sangihe Hanging-parrot


Nama Indonesia : Serindit sangihe
Ketinggian : 0 - 1000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Sulawesi.
Penyebaran lokal : Sangat tidak umum dan lokal. Menghuni hutan primer;
kadang mengunjungi mangrove dan pohon-pohon di
pedesaan yang terbuka. Dari permukaan laut sampai
ketinggian 1000 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer, mangrove
Deskripsi Bentuk

28 cm. Sebagian besar merah; tudung hitam; kedua sayap hijau; pita-dada kuning
bervariasi; ekor pendek-gemuk.

Deskripsi Suara

Memiliki suara yang merdu.

Kebiasaan

Sedikit catatan, diperkirakan mirip dengan jenis kasturi lainnya. Biasanya terlihat sendiri
atau berpasangan.

Nama Inggris : Purple-naped Lorikeet


Nama Indonesia : Kasturi tengkuk-ungu
Ketinggian : 400 - 900 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Seram dan Ambon, Maluku selatan; juga
pernah ditemukan di Buru (feral?).
Penyebaran lokal : Tidak umum; tidak ada catatan baru dari Ambon, atau
dari Buru. Menghuni hutan; dari ketinggian 400 sampai
900+ m.
Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan : Hilangnya habitat, penangkapan untuk perdagang

Deskripsi Bentuk

30 cm. Merah; kedua sayap hijau dengan warna kuning pada lipatannya.

Deskripsi Suara

Suara pada saat terbang seringkali dikeluarkan, tersendiri, keras, sengau, ringkikan yang
gemetar.

Kebiasaan

Biasanya berpasangan, adakalanya dalam kelompok besar hingga 10 ekor di pohon


pakan. Berisik dan mencolok ketika terbang tapi berkurang pada saat makan. Mudah
didekati. Umumnya berada di kanopi, adakalanya di bawah kanopi. Makan di pohon
berbunga dan mungkin juga di pohon berbuah. Aktif, suka bertengkar dan bermain.

Nama Inggris : Chattering Lory


Nama Indonesia : Kasturi ternate
Ketinggian : 0 - 1300 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Maluku utara.
Penyebaran lokal : Tiga subjenis: 1. (morotaianus) Morotai, Rau. 2.
(garrulus) Halmahera, Widi, Ternate. 3. (flavopalliatus)
Kasiruta, Bacan, Obi, Obilatu. Secara lokal menurun
karena diperangkap. Menghuni hutan primer dan
sekunder yang tinggi, hutan yang ditebang pilih dan tepi
hutan. Dari permukaan laut sampai ketinggian 1040 m
(Halmahera), 1300+ m (Bacan) dan 730+ m (Obi).

Suara :
Habitat : Hutan primer dan sekunder
Tekanan : Penangkapan untuk perdagangan
Informasi lainnya : L. g. flavopalliatus (Bacan, Obi): bercak kuning pada
mantel. L. g. morotaianus (Morotai): bercak kuning pada
mantel tidak berkembang.

Deskripsi Bentuk

55-60 cm. Bertanduk; ekor lebar; hitam kecoklatan dengan perut putih kemerahjambuan;
muka kuning gundul; tungkai abu-abu. Anak: mahkota abu-abu kekuningan tua tidak
bertanduk.

Deskripsi Suara

Nada aneh, sering, berlarut-larut, bergetar, meringkik, sengau kee-ourrrrrrrrrrrrr atau coo-
ourrrrrrrrrrrrrr oleh jantan. Dua nada, seperti suara itik kuk-kuk, yang disuarakan oleh
betina pada saat merespon suara panggilan pertama oleh jantan. Suara seperti angsa gak-
gak-gak, pada saat diserang atau diganggu oleh maleo lain di tempat bersarang. Suara
erangan tetap, tenang mm-mm, mm-mm....., saat menggali atau berjalan di sekitar tempat
bersarang.

Kebiasaan

Biasanya berpasangan. Jarang terlihat jauh dari sarangnya. Pemalu.

Nama Inggris : Maleo Maleo


Nama Indonesia : Maleo senkawor
Ketinggian : 0 - 1200 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di subkawasan Sulawesi: Sulawesi, Bangka,
Lembeh dan Butung. Juga Sangihe (status?), dan dulu di
Siau dan Tahulandang, yang mungkin diintroduksi.
Penyebaran lokal : Biasanya langka. Sarang-sarangnya bersama di pasir dan
pantai gunung berapi dan di tanah-tanah yang hangat
dari panas bumi di hutan pamah primer dan hutan
perbukitan. Menghindari pembiakan di hutan primer,
hutan sekunder, sungai dan rawa-rawa. Dari permukaan
laut sampai ketinggian 1200+ m.

Suara :
Habitat : Hutan pamah primer dan hutan perbukitan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

39 cm. Hanya di pegunungan tertinggi di Tenggara dan Barat. Mirip gagak, dengan
gelambir mata kuning mencolok dan bercak oker terang di sayap yang mencolok ketika
terbang; bersuara terus-menerus.

Deskripsi Suara
Dua nada penghubung jeet jeet diulang cepat; juga peer diulang.

Kebiasaan

Biasanya berpasangan, mudah ditemukan berdasarkan suaranya yang terus-menerus.


Tidak waspada. Bertengger di belukan pepohonan di tepi hutan. Makan buah. Monogami.
Hutan subalpin di tepi padang rumput, bergabung dengan belukar Dacrycarpus
compactus; konifer ini terlihat sebagai tumbuhan utama sumber makanannya.

Nama Inggris : Macgregor\'s Bird of Paradise


Nama Indonesia : Cendrawasih elok
Ketinggian : 2700 - 4000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Papua
Penyebaran lokal : Terpencar di daerah tertinggi Peg. Jayawijaya dan Peg.
Star dan di Tenggara, pada ketinggian 3200-3500 m
(jarang 2700-4000 m). Tidak ada di Dataran Tinggi
Tengah dan Timur.

Suara :
Habitat : Hutan subalpin

Deskripsi Bentuk
Lebih kurang 13 cm. Kepala abu-abu; tenggorokan jingga merah-karat; bagian atas hijau
zaitun; bagian bawah abu-abu.

Deskripsi Suara

Belum terdokumentasi.

Kebiasaan

Dua ekor teramati dalam kelompok gabungan jenis-jenis pencari makan.

Nama Inggris : Rufous-throated Dark-eye


Nama Indonesia : Opior buru
Ketinggian : 820 - 1525 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Buru, Maluku selatan.
Penyebaran lokal : Tidak umum dan lokal. Diketahui dari empat spesimen
yang dikoleksi di Wa Fehat, 820 m dan Mada Range,
1525 m, dan baru saja ada catatan pengamatan dari 1460
m dekat Danau Rana.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Deskripsi Bentuk

15 cm. Terbatas di daerah S. Fly. Perhatikan tubuh bagian bawah putih bersih, mahkota
merah-karat polos, dan nada panggilan sendu.

Deskripsi Suara

Bersuara paling keras pada petang hari; siulan dua nada yang sendu mirip suara Cica-
koreng kecil; suara tanda bahaya tchit atau tchit-tchit - churrr mudah ditirukan; kicauan
berupa campuran nada yang parau dan merdu yang kompleks, jauh lebih menarik
daripada kicauan Cica-koreng timur, dan lebih kompleks daripada kicauan Cica-koreng
kecil yang sederhana.

Kebiasaan

Burung yang aktif bebas dengan gerakan tersentak-sentak, dan terbang cukup kuat dan
terarah; tidak selamban Cica-koreng timur; ekor ditegakkan dan sayap terkulai; suka
bersembunyi, tetapi dapat dipancing oleh suara tiruan. Di antara teki-tekian yang
tergenang di sepanjang mata air dan danau.

Nama Inggris : Fly River Grassbird


Nama Indonesia : Cica-koreng mahkota-polos
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua;
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Papua
Penyebaran lokal : Diketahui dari dua lokasi di daerah Fly di bagian tengah
Fly, di Danau Daviumbu, dan di Bensbach, dekat
perbatasan Papua Barat.

Suara :
Habitat : Teki-tekian sepanjang danau dan sungai
Deskripsi Bentuk

Berukuran sedang (25 cm), bulu gelap, dan paruh tebal. Jantan dan betina berbeda.
Jantan: hampir seluruhnya hitam, betina: coklat, dengan dada pucat serta sisik hitam tebal
pada penutup sayap dan tenggorokan. Iris coklat tua, paruh hitam (jantan) atau coklat
(betina), kaki biru pupus.

Deskripsi Suara

Siulan ganda, seperti Puyuh sengayan.

Kebiasaan

Pendiam. Hidup di lantai hutan primer dan hutan rawa air tawar.

Nama Inggris : Black Partridge


Nama Indonesia : Puyuh hitam
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_3;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan.
Penyebaran lokal : Beberapa catatan dari hutan dataran rendah di Sumatera.
Tidak jarang terlihat di dataran rendah Kalimantan
selatan dan Kalimantan barat, ke utara sampai Mulu.
Tidak tercatat di Kalimantan timur.
Suara :
Habitat : Hutan primer, hutan rawa air tawar

Deskripsi Bentuk

36 cm. Berukuran sedang, burung gosong berwarna coklat. Bulu primer abu-abu gelap
dengan ujung yang ramping. Muka kemerahan atau kebiruan. Kaki merah atau abu-abu
gelap.

Deskripsi Suara

Suara kokokan dan kotekan yang bervariasi.

Kebiasaan

Belum ada informasi

Nama Inggris : Biak Megapode


Nama Indonesia : Gosong biak
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik Biak-Supiori
Penyebaran lokal : Tidak jelas apakah spesimen yang ada berasal dari
Manokwari di daratan Papua, yang mewakili burung
yang tersesat dari pulau terdekat atau sebuah spesimen
yang salah label. Populasinya tidak diketahui, namun
diyakini dalam jumlah kecil dan menurun. Sebelumnya
umum di Biak dan pernah tercatat sehari-sehari di dan
sekitar kawasan konservasi Biak-Utara pada tahun 1997,
namun hanya dalam "jumlah kecil" yang terlihat baru-
baru ini di Owi (pulau satelit Biak) dan Supiori.

Suara :
Habitat : Hutan, hutan bekas tebangan, vegetasi sekunder, semak
Tekanan : Pengambilan telur, perburuan

Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 15,5 cm. Mirip Kehicap kacamata tetapi tanpa merah-karat pada bagian
bawah.

Deskripsi Suara

Suara yang biasa dikeluarkan adalah siulan tersendiri yang berubah-ubah meninggi. Juga
nada-nada mendengung khas kehicap.

Kebiasaan

Sendiri dan berdua. Juga sering bergabung dalam kelompok dengan jenis lain mencari
makan hingga 5 individu. Aktif dan teritorial.

Nama Inggris : Flores Monarch


Nama Indonesia : Kehicap flores
Ketinggian : 350 - 1000 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Flores, NusaTenggara barat.
Penyebaran lokal : Cukup umum. Tampaknya terbatas di Flores barat daya.
Menghuni hutan primer basah; hutan pada ketinggian
350-1000 m, sebagian besar 700-900 m.

Suara :
Habitat : Hutan primer basah

Deskripsi Bentuk

14 cm. Kepala, dada dan bagian atas hitam; tunggir putih; bulu ekor terbang samping
putih melebar; bagian bawah putih.

Deskripsi Suara

Siulan sedih yang gemetar; juga nada hardikan parau.

Kebiasaan

Berdua dan adakalanya dalam kelompok hingga 4 ekor, biasanya bergabung dalam
kelompok dengan jenis lain untuk mencari makan. Sangat ribut, sering menegakkan
ekornya miring dan setengah kipas.

Nama Inggris : White-tipped Monarch


Nama Indonesia : Kehicap tanahjampea
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Tanahjampea (sebuah pulau kecil di L.
Flores).
Penyebaran lokal : Umum di hutan, kurang umum di semak dan mangrove
yang berpohon besar terpencar.

Suara :
Habitat : Hutan, semak, mangrove
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

16 cm. Bagian atas hitam, termasuk sisi kepala; dagu hitam; bagian bawah lainnya putih,
termasuk pipi.

Deskripsi Suara

Suara tjuuu-tjuuu jelas, dilanjutkan segera dengan dengungan bergetar, monoton, lembut,
dimana kemudian menghilang setelah 6 detik.

Kebiasaan

Sendiri, berdua atau bertiga (satu kelompok terdiri dari seekor dewasa dan dua remaja).
Mencari makan secara aktif di lapisan bawah mulai dari lantai tanah hingga ketinggian 3
m, dengan berpindah-pindah cepat diantara ranting dan daun. Bergerak lebih lambat di
ketinggian 3-6 m, berpindah dari dahan ke daun. Sering mengembangkan ekornya seperti
kipas. Anggota yang umum dari kelompok gabungan jenis-jenis burung pencari makan,
dimana juga termasuk Kipasan dada-lurik, Kehicap pulau, Sikatan kelabu, Cabai kelabu,
Burung-madu hitam dan Cikrak kutub.

Nama Inggris : Black-chinned Monarch


Nama Indonesia : Kehicap boano
Ketinggian : 0 - 150 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Maluku;
Endemik : Maluku; (endemik Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Boano, Maluku selatan.
Penyebaran lokal : Menghuni petak-petak hutan sekunder lebat semi selalu-
hijau yang tersisa. Di kaki bukit sekitar 150 m.

Suara :
Habitat : Hutan sekunder semi selalku-hijau

Deskripsi Bentuk

17 cm. Hanya ada di P. Biak. Pada jantan mahkota, tenggorokan, dan dadanya hitam,
kontras dengan warna kuning pucat di bagian perut, sayap, ekor, dan bagian belakang
mata. Betina tampaknya memiliki bercak keputih-putihan di tenggorokan dan dada.

Deskripsi Suara
Bunyi mendecit yang menjadi ciri kehicap.

Kebiasaan

Aktif mencari mangsa dan penyergap di lapisan tengah dan bawah kanopi hutan.

Nama Inggris : Biak Monarch


Nama Indonesia : Kehicap biak
Ketinggian : 60 - 0 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Papua barat
Penyebaran lokal : P. Biak.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan :

Deskripsi Bentuk

Berukuran sangat besar (92 cm). Berbulu putih, kecuali bulu terbang dan sayap hitam.
Kulit muka tanpa bulu berwarna merah jambu sampai merah. Remaja: coklat keabuan
dengan tungging putih dan bulu terbang hitam. Iris coklat, paruh kekuningan dan panjang
melengkung, kaki abu-abu.

Deskripsi Suara

Umumnya diam, kecuali suara serak pada burung muda dan tepukan paruh.

Kebiasaan

Sering mengunjungi daerah berlumpur dan daerah tergenang termasuk rawa, gosong
lumpur di pantai, mangrove, dan sawah. Biasanya hidup sendirian atau dalam kelompok
kecil dan agak besar, di dekat pantai. Tetapi di Sumatera menyebar sampai ketinggian
900 m. Bergabung dengan cangak dan bangau lain, kadang-kadang melayang tinggi di
angkasa. Ketika makan, katupan paruhnya bisa terdengar dari kejauhan. Bersarang dalam
koloni campuran dengan burung air lain.

Nama Inggris : Milky Stork


Nama Indonesia : Bangau bluwok
Ketinggian : 0 - 900 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Sumatera; Kalimantan; Jawa; Bali; Sulawesi; Nusa
Tenggara;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Ya
Status CITES : appendix_1;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Indocina, Malaysia, Sulawesi, Sumatera, Jawa, dan
Sumbawa.
Penyebaran lokal : Koloni-koloni tempat berbiak diketahui di Propinsi
Riau, pesisir timur Sumatera selatan, dan P. Rambut di
Jawa barat. Tercatat sejumlah burung di beberapa tempat
yang sesuai di Jawa tengah bagian selatan dan Jawa
timur, tetapi tidak dipastikan berbiak. Mencari makan di
tempat yang luas. Akhir-akhir ini ditambahkan dalam
daftar burung di Bali.

Suara :
Habitat : Gosong lumpur, rawa, mangrove
Deskripsi Bentuk

Lebih kurang 22 cm. Punggok berukuran kecil, berwarna cerah. Seluruh tubuh coklat
berangan kemerahan tapi untuk skapular berbintik keputihan, tangkai bulu keputihan
pada bagian bawah, berlekuk-lekuk gelap tidak terang hingga perut bagian bawah, dan
palang tipis, gelap pada bulu ekor. Tidak ada pola muka.

Deskripsi Suara

Belum ada informasi

Kebiasaan

Belum ada informasi

Nama Inggris : Cinnabar Hawk-owl


Nama Indonesia : Punggok minahasa
Ketinggian : 1120 - 1700 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik : Sulawesi; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Sulawesi
Penyebaran lokal : Tercatat di dua lokasi di Sulawesi utara, Taman
Nasional Bogani Nani Wartabone dan Gunung Ambang.
Suara :
Habitat : Hutan pegunungan

Deskripsi Bentuk

40-44 cm. Gajahan berukuran sedang. Pola kepala tertanda jelas. Mahkota samping
berwarna gelap dan garis-mata kontras dengan mahkota tengah dan alis yang pucat.
Bagian atas bungalan berbintik, bagian bawah buangalan bercoret. Sayap bagian bawah
kayu manis gelap, coklat bergaris. Tunggir dan bulu ekor atas kayu manis tidak bertanda.
Kaki biru-abu-abu. Paruh berwarna dasar cerah hingga coklat, memanjang dan berat.
Anak: bagian bawah tidak bercoret, penutup sayap dan bagian atas bungalan berbintik
besar.

Deskripsi Suara

Chi-u-it pendek, siulan whe-whe-whe-whe, berdering whee-wheeoo.

Kebiasaan

Berumur panjang (15-23 tahun), monogami,

Nama Inggris : Bristle-thighed Curlew


Nama Indonesia : Gajahan tahiti
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali; Sulawesi;
Endemik :
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES :
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Berbiak di Sungai Yukon bawah dan Semenanjung
Seward tengah, Alaska barat, Amerika Serikat. Pada
musim dingin berada di pulau-pulau oseanik termasuk
Kep. Hawai, hingga Kep. Solomon, Australia, Selandia
Baru, Inggris dan Chili.
Penyebaran lokal : Tercatat di pantai lepas P. Buton

Suara :
Habitat : Tundra, pantai berpasir, pesisir, batu karang
Tekanan : Perburuan, predator dari jenis introduksi (anjing, kucing)

Deskripsi Bentuk

17 cm. Burung hantu berukuran kecil, penghuni hutan. Seperti umumnya celepuk dengan
kepala dan kaki yang relatif besar, sayap dan ekor yang berpalang sangat halus.

Deskripsi Suara

Belum terdeskripsi.

Kebiasaan

Belum ada informasi

Nama Inggris : Siau Scops-


owl
Nama Indonesia : Celepuk
siau
Ketinggian : 0-0m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Bali;
Sulawesi;
Endemik : Sulawesi;
(endemik
Indonesia);
Status IUCN : CR
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di
Siau,
Sulawesi
utara
Penyebaran lokal : Satu-
satunya
jenis
celepuk di
Pulau Siau.

Suara :
Habitat : Hutan
Tekanan : Konversi
lahan

Deskripsi Bentuk

Berukuran kecil (20 cm), berwarna gelap. Berkas telinga mencolok, alis putih. Tubuh
bagian atas coklat keabuan, bercoret rapat, dan berbercak-bercak hitam. Tubuh bagian
bawah bergaris dan bercoret hitam pada dada, keputih-putihan pada perut. Iris kuning
emas, paruh kuning, kaki kuning kotor.

Deskripsi Suara

Burung muda yang sedang belajar terbang: keras "tch-tschschsch", diulang setiap enam
detik, mengingatkan pada Celepuk reban muda. Suara dewasa mirip Celepuk raja, tetapi
sangat jarang terdengar.

Kebiasaan
Sedikit sekali diketahui, terdapat di hutan pegunungan antara ketinggian 1.500-2.500 m.

Nama Inggris : Javan Scops-owl


Nama Indonesia : Celepuk jawa
Ketinggian : 1500 - 2500 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Jawa;
Endemik : Jawa; (endemik Indonesia);
Status IUCN : VU
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Jawa.
Penyebaran lokal : Diketahui dari berbagai tempat di Jawa, tercatat dari G.
Salak, G. Pangrango, G. Tangkuban Perahu, G. Ciremai,
dan Dataran Tinggi Ijen. Sangat sedikit catatan
lapangan, akan tetapi karena menggunakan jala kabut,
diperoleh kesan bahwa jenis ini tidak terlalu jarang,
tetapi sering terlewat.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan

Deskripsi Bentuk

21 cm. Umumnya merah-karat, bagian bawah lebih pucat; tidak ada coretan hitam pada
dada; tidak ada tanda gelap pada mahkota dan punggung; iris kuning.
Deskripsi Suara

Belum ada informasi

Kebiasaan

Belum terdeskripsi.

Nama Inggris : Flores Scopsowl


Nama Indonesia : Celepuk flores
Ketinggian : 1050 - 1400 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Nusa Tenggara;
Endemik : Nusa Tenggara; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Ya
Penyebaran Global : Endemik di Flores, Nusa Tengggara barat
Penyebaran lokal : Diketahui hanya dari tiga spesimen yang dikoleksi di
dan dekat G. Repok. Pada ketinggian sekitar 1050 m;
menghuni hutan pegunungan.

Suara :
Habitat : Hutan pegunungan
Tekanan :
Informasi lainnya : Baru saja ditemukan kembali, pada ketinggian 1400 m
di Poco Mandawsawu.
Deskripsi Bentuk

25 cm. Burung hantu berwarna coklat dengan cuping telinga pendek dan tidak menarik
perhatian. Mata kuning. Alis dan piringan wajah keputihan pucat agak terang. Bagian
atas coklat berpalang penuh dengan sedikit putih pada skapular. Bagian bawah coklat
atau lebih kemerahan, mungkin bentuk warna yang berbeda namun barangkali perbedaan
jenis kelamin, dengan palang sangat halus.

Deskripsi Suara

Mungkin sebuah teriakan parau, serak-parau di akhir nada tapi bersuara seperti salakan
seekor rusa saat nada panjang.

Kebiasaan

Jenis nokturnal, kurang toleran dengan habitat terdegradasi.

Nama Inggris : Biak Scops-owl


Nama Indonesia : Celepuk biak
Ketinggian : 0 - 300 m
Ekstralimital :
Daerah Sebaran : Papua;
Endemik : Papua; (endemik Indonesia);
Status IUCN : EN
Jenis Dilindungi : Tidak
Status CITES : appendix_2;
Burung Sebaran Terbatas : Tidak
Penyebaran Global : Endemik di Biak-Supiori
Penyebaran lokal : Survei pada tahun 1973 di Biak-Supiori hanya
menemukan satu pasang. Tidak tercatat pada tiga
kunjungan di Biak pada tahun 1990-an dan hanya satu
terdengar di kawasan konservasi Biak Utara pada tahun
1997. Walaupun demikian, dua terdengar di suatu pagi
pada tahun 1995. Diperkirakan tersebar agak luas dalam
jumlah cukup pada tahun 1982, berdasarkan suara dan
laporan lokal, walaupun bukan pengamatan langsung.

Suara :
Habitat : Hutan, hutan bekas tebangan, hutan rawa
Tekanan :
Informasi lainnya : Baru saja dipertimbangkan sebagai jenis terpisah (baru).