Revisi Final Skripsi Tes Jalan 6 Menit

You might also like

Download as docx, pdf, or txt
Download as docx, pdf, or txt
You are on page 1of 83

HUBUNGAN JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN

FRAKSI EJEKSI PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK


TERHADAP KEJADIAN KARDIOVASKULAR

SKRIPSI

OLEH:

Agung Damai Harikatang

120 111 023

DOSEN PEMBIMBING:

Dr. dr. Starry H. Rampengan, SpJP (K), MARS, FIHA

Dr. Edmond L. Jim, SpJP (K), FIHA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

MANADO

2016
HUBUNGAN JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN
FRAKSI EJEKSI PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK
TERHADAP KEJADIAN KARDIOVASKULAR

SKRIPSI

OLEH:

Agung Damai Harikatang

120 111 023

DOSEN PEMBIMBING:

Dr.dr. Starry H. Rampengan, SpJP (K), MARS, FIHA

Dr. Edmond L. Jim, SpJP (K), FIHA

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

MANADO

2016

2
ABSTRACT

CORRELATION BETWEEN DISTANCE IN 6-MINUTE WALKING TEST AND


EJECTION FRACTION IN CHRONIC HEART FAILURE TO CARDIOVASCULAR
EVENTS

Agung D. Harikatang1), Starry H. Rampengan2), Edmond L. Jim2)

Cardiology Department Faculty of Medicine Sam Ratulangi University, Manado

Background: Chronic Heart Failure is a serious health problem with increasing incidence in
developed and developing country. CHF patients have decrease in ejection fraction with
complex symptoms such as tightness and fatigue. The 6-minute walk test (6MWT) is a simple
and inexpensive test that can be used in patients with CHF to assess the patient’s functional
capacity and prognosis in daily activities. Several studies have reported that there is significant
correlation between the distance in 6-minute walking test and cardiovascular events in patients
with chronic heart failure, especially patient with decrease ejection fraction.

Objective: To determine the correlation between distance in 6 minutes walking test and
ejection fraction in patient with chronic heart failure to cardiovascular events (re-
hospitalization, stroke, cardiac death, unstable angina).

Methods: The study used prospective cohort study with observational-analytic approach. The
sample in this study are patients with CHF in PROF. DR. R. D. Kandou Manado Hospital with
purposive sampling, patient’s distance is measured by the 6-minutes walking test and the
ejection fraction by using echocardiography, and analyzed using Chi-Square test.

Results: From the total of CHF patients (n=31), the result showed 17 patients with <300 m 6-
MWT distance, where 23.5% of them experienced cardiovascular events (re-hospitalization
and unstable angina). While respondents with 6-MWT distance >300 m, from a total of 14
respondents we found 42.8% experienced cardiovascular events. The result of Chi-Square test
showed there was no significant correlation between the distance of 6-minute walking test and
cardiovascular events. (p=0.252). In addition, from a total of 31 patients with CHF, the data
showed 7 patients with ejection fraction < 30% where 71.5% of them experienced
cardiovascular events (re-hospitalization and unstable angina), however from a total of 24
samples with an ejection fraction >30-40% we found 20.8% experienced cardiovascular events.
The result of Chi-Square test showed there is significant correlation between ejection fraction
and cardiovascular events (p=0.012).

Conclusions: There was no significant correlation between distance in 6-minute walking test
to cardiovascular events and there is significant correlation between ejection fraction and
cardiovascular events.
Keywords: Chronic heart failure, 6-minute walking test, ejection fraction.

3
ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN FRAKSI


EJEKSI PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK TERHADAP KEJADIAN
KARDIOVASKULAR

Agung D. Harikatang1), Starry H. Rampengan2), Edmond L. Jim2)

Bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Latar Belakang: Gagal Jantung Kronik (GJK) merupakan masalah kesehatan yang serius
dengan angka kejadian yang terus meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang.
Pada GJK terdapat penurunan fraksi ejeksi disertai gejala yang kompleks berupa sesak,
kelelahan baik dalam keadaan istirahat maupun beraktivitas. Tes jalan 6 menit merupakan uji
yang bersifat sederhana dan murah yang dapat digunakan pada penderita gagal jantung kronik
untuk menilai kapasitas fungsional dan prognosis pasien dalam beraktivitas. Beberapa
penelitian melaporkan terdapat hubungan antara jarak tempuh tes jalan 6 menit dengan
kejadian kardiovaskular pada pasien gagal jantung kronik, terlebih khusus pasien dengan
penurunan fraksi ejeksi.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara jarak tempuh tes jalan 6 menit dan fraksi ejeksi
pada pasien Gagal Jantung Kronik terhadap kejadian kardiovaskular.

Metode: Penelitian ini menggunakan studi kohort prospektif dengan pendekatan


observasional-analitik. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien GJK di Poliklinik Jantung
RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan teknik purposive sampling untuk pengambilan
sampel, jarak tempuh dinilai dengan melakukan tes jalan 6 menit dan fraksi ejeksi
menggunakan parameter ekokardiografi, kemudian dianalisa menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Dari total pasien GJK (n=31) didapatkan 17 sampel berjarak tempuh <300 m dimana
23.5% diantaranya mengalami kejadian kardiovaskular (rehospitalisasi dan unstable angina).
Sedangkan responden dengan jarak tempuh >300 m dari total 14 responden didapatkan 42.8 %
mengalami kejadian kardiovaskular. Hasil uji Chi-Square menunjukan tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara jarak tempuh tes jalan 6 menit dengan kejadian kardiovaskular
(p=0.252). Selain itu dari total 31 pasien GJK, didapatkan 7 pasien dengan fraksi ejeksi <30 %
dimana 71.5 % diantaranya mengalami kejadian kardiovakular (rehospitalisasi dan unstable
angina) sedangkan dari total 24 sampel dengan fraksi ejeksi >30-40% didapatkan 20.8%
mengalami kejadian kardiovaskular. Hasil uji Chi-Square menunjukan terdapat hubungan yang
bermakna antara fraksi ejeksi dengan kejadian kardiovaskular (p=0.012).

Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jarak tempuh tes jalan 6 menit
dengan kejadian kardiovaskular dan terdapat hubungan yang bermakna antara fraksi ejeksi dan
kejadian kardiovaskular.
Kata kunci: Gagal jantung kronik, tes jalan 6 menit, fraksi ejeksi.

4
HUBUNGAN JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN FRAKSI EJEKSI
PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK TERHADAP KEJADIAN
KARDIOVASKULAR

Oleh:

Agung Damai Harikatang

120 111 023

Telah diajukan pada ujian Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi pada

tanggal 19 Januari 2016 serta telah dikoreksi dan disetujui oleh:

Dr. dr. Starry H. Rampengan, SpJP(K), MARS Dosen Pembimbing I

Dr. Edmond L. Jim, SpJP(K), FIHA Dosen Pembimbing II

Dr. A. Lucia Panda, SpPD, SpJP(K), FIHA Kepala Bagian Kardiologi

Prof. Dr. dr. Adrian Umboh, SpA(K) Dekan Fakultas Kedokteran UNSRAT

5
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber bacaan baik yang dikutip

maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Apabila dikemudian hari hal ini tidak

benar, maka saya bersedia menanggung segala resiko.

Nama : Agung Damai Harikatang

NRI : 120111023

Tanda tangan :

Tanggal : 19 Januari 2016

6
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

Sebagai civitas akademik Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, saya yang
bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Agung Damai Harikatang

NRI : 120111023

Program Studi : Pendidikan Dokter

Fakultas : Kedokteran

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, setuju untuk memberikan kepada Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi, Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Nonexclusive Royalty Free Right) atas
skripsi saya yang berjudul:

HUBUNGAN JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN FRAKSI EJEKSI PADA
PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK TERHADAP KEJADIAN
KARDIOVASKULAR

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Royalti Nonekslusif ini Fakultas
Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar – benarnya.

Dibuat di : Manado

Pada tanggal : 19 Januari 2016

Yang menyatakan,

Agung Damai Harikatang

7
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus yang maha kuasa yang telah

memberikan rahmat dan anugrah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini

dengan judul:

“HUBUNGAN JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN FRAKSI EJEKSI


PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK TERHADAP KEJADIAN
KARDIOVASKULAR”

Skripsi ini dibuat sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh kelulusan sarjana

kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Sam Ratulangi Manado.

Melalui kesempatan ini, tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya

kepada:

1. Prof. DR. Dr. Adrian Umboh, SpA (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Sam Ratulangi Manado yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis untuk membuat dan menyelesaikan skripsi ini.

2. Dr. dr. Starry H. Rampengan, SpJP (K), MARS selaku dosen pembimbing I yang

telah memberikan banyak masukan dan bimbingan yang sangat membantu dalam

pembuatan skripsi ini.

3. Dr. Edmond L. Jim, SpJP (K), FIHA selaku dosen pembimbing II yang telah yang

telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Dr. Agnes Lucia Panda, SppD, SpJP (K) selaku penguji I dan kepala bagian

Kardiologi yang sudah banyak membantu serta memberi masukan dalam

penyempurnaan skripsi ini.

5. Dr. Janry Pangemanan, SpJP (K), FIHA selaku penguji II yang telah yang telah

banyak memberikan saran dan koreksi dalam penyelesaian skripsi ini.


8
6. Dr. Victor Joseph, SpJP selaku penanggung jawab bagian rehabilitasi kardiologi

yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian di ruangan rehabilitasi Jantung

cardiac center.

7. dr. Lisbeth J. Kandou, SpKJ selaku dosen pembimbing akademik yang telah

membimbing dan memberikan banyak bantuan selama kuliah.

8. Residen, perawat dan staf bagian Kardiologi yang bersedia membantu dalam proses

penelitian, dr. Destria Tiolung, dr. Arthur Yosua, dr. Imam, dr. Hendro, dr.

Nathalia, dr. Vonny, dr. Ike, dr. Nancy, dr. Terence, dr. Roy, Sus Icha, Sus Dei,

Sus Maria, Kak Emon, Kak Vera, Kak Anto.

9. Keluarga, Papa, Mama, adik Iren yang telah memberi doa, inspirasi dan dukungan

yang tak terbatas baik secara moril maupun materil bagi penulis dalam kegiatan studi

selama ini.

10. Teman-teman dan orang spesial selama kuliah, Yafet, Etet, Dicky, Cindy, Gracia,

Lyvie dan Oki Marianne Kebau.

11. Teman-teman KTIS di bagian Kardiologi Jery, Christin, Itin, Eva, Lucky, Ancha,

Hisky, Agus, Ekin yang membantu selama proses pembuatan skripsi ini.

12. Teman-teman sehobby dan sepermainan, Alvisco, Albert, Okky, Bill, Semet,

Pradika, Cliff, Timothy dan Scriven yang selalu gokil dan tunts.

13. Teman-teman sejawat terbaik ‘Mediora 2012’ yang selalu kompak baik suka mapun

duka selama masa perkuliahan.

14. Serta semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah

membantu dalam terselesainya skripsi ini.

9
Semoga Tuhan Yesus Kristus memberkati dan membalas budi baik yang telah penulis

terima dari pihak-pihak diatas.

Penulis menyadari bahwa Skripsi penelitian ini masih belum sempurna, baik dari segi

materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Manado, 19 Januari 2016

Penulis

10
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRACT........................................................................................................... i

ABSTRAK ............................................................................................................. ii

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii

LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISM ............................................ iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................................. v

KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ix

DAFTAR TABEL.................................................................................................. xi

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xi

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Gagal Jantung Kronik ...................................................................... 5
1. Definisi……………………………………………………....... 5
2. Epidemiologi………………………………………………….. 5
3. Klasifikasi……………………..……...……………………….. 6
4. Gejala Klinis…………………………………...……………… 7
5. Etiologi………………….…………………………………….. 9
6. Patofisiologi……………….………………………………….. 10
7. Diagnosis……………...………………………………………. 11
8. Penatalaksanaan…………………………......………………… 12
B. Kejadian Kardiovaskular ................................................................... 15
C. Tes Jalan 6 Menit / 6 Minutes walking test….. ................................. 18
C.1 Definisi…………………………….………………………. 18

C.2 Prosedur Pelaksanaan…………………………………..….. 18

C.3 Indikasi dan Kontraindikasi………………………………... 20

C.4 Intepretasi………………………………………………….. 20

C.5 Hubungan Jarak tempuh dengan Kejadian kardiovaskular… 20

11
D.Fraksi Ejeksi ....................................................................................... 21
D.1 Hubungan fraksi ejeksi dengan kejadian kardiovaskular….. 22

F. Kerangka Konsep ............................................................................... 23


G. Hipotesis……………………………………………………………. 23

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


A. Desain Penelitian ............................................................................... 24
B. Tempat Penelitian .............................................................................. 24
C. Waktu Penelitian ................................................................................ 24
D. Populasi dan Sampel .......................................................................... 24
E. Kriteria Sampel .................................................................................. 25
F. Variabel Penelitan .............................................................................. 26
G. Definisi Operasional .......................................................................... 26
H. Instrumen Penelitian .......................................................................... 27
I. Cara kerja ........................................................................................... 27
J. Alur Penelitian ................................................................................... 30

BAB IV. HASIL PENELITIAN


A. Data Deskriptif ..................................................................................... 31
1. Data karakteristik pasien GJK berdasarkan kejadian kardiovaskular... 32

2. Distribusi pasien GJK berdasarkan Jenis Kelamin……………………. 34

3. Distribusi pasien GJK berdasarkan Usia……………………………… 35

4. Distribusi pasien GJK berdasarkan Penyakit Terdahulu……………… 35

5. Distribusi pasien GJK berdasarkan Jarak Tempuh……………………. 36

6. Distribusi pasien GJK berdasarkan nilai Fraksi Ejeksi……………….. 36

7. Distribusi pasien GJK berdasarkan Kejadian Kardiovaskular………... 37

B. Data Analitik………………………………………………………. 38
1. Hubungan jarak tempuh 6 MWT dengan kejadian kardiovaskular 38
2. Hubungan Fraksi Ejeksi dengan Kejadian Kardiovaskular……. 39

BAB V. PEMBAHASAN…………………………………………………………. 40

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ............................................................................................ 44
B. Saran ..................................................................................................... 45

12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 46
LAMPIRAN........................................................................................................... 47
Master Tabel……………………………………………………………. 52

Tabel uji analisis………………………………………………………... 53

Lembar Tes Jalan 6 Menit……………………………………………… 64

Lembar Data Pasien GJK………………………………………………. 65

Informed Consent………………………………………………………. 68

13
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Data Karakteristik pasien GJK……………………………………………….. 32
2. Distribusi pasien GJK berdasarkan Jenis Kelamin ........................................... 34
2. Distribusi pasien GJK berdasarkan usia............................................................ 35
3. Distribusi pasien GJK berdasarkan penyakit terdahulu .................................... 35
4. Distribusi pasien berdasarkan jarak tempuh ..................................................... 36
5. Distribusi pasien berdasarkan nilai fraksi ejeksi ............................................... 36
6. Distribusi pasien berdasarkan kejadian kardiovaskular .................................... 37
7. Hubungan jarak tempuh 6 MWT dengan kejadian kardiovaskular ................... 38
8. Hubungan Fraksi Ejeksi dengan Kejadian Kardiovaskular ............................... 39

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Master tabel....................................................................................................... 52

2. Hasil analitik statistik menggunakan uji tabulasi silang(x2)............................. 53

3. Lembar pengisian tes jalan 6 menit................................................................... 64

4. Lembar pengisian data pasien GJK ................................................................... 65

6. Formulir pernyataan persetujuan/informed consent .......................................... 68

14
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Gagal jantung merupakan masalah kesehatan yang serius dengan angka kejadian yang terus

meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang. Gagal jantung didefinisikan

sebagai suatu kondisi patologis, di mana jantung gagal memompa darah sesuai dengan

kebutuhan jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Gagal jantung juga

didefinisikan sebagai sindroma klinik yang memiliki gejala yang kompleks disertai keluhan-

keluhan berupa sesak, kelelahan baik dalam keadaan istirahat maupun beraktivitas, disertai

tanda-tanda retensi cairan seperti kongesti paru dan edema pergelangan kaki. Gagal jantung

dapat disebabkan oleh banyak hal, di negara maju penyakit arteri koroner dan hipertensi

merupakan penyebab terbesar, sedangkan di negara berkembang penyebab terbanyak dari

gagal jantung adalah penyakit katup jantung dan malnutrisi. 1, 9, 13, 21

Gagal jantung merupakan penyebab kematian serta disabilitas yang cukup besar.

Walaupun perkembangan terapi saat ini yang semakin maju, angka mortalitas masih mencapai

20% per tahun. Menurut American Heart Association 5,3 juta orang Amerika menderita gagal

jantung kronik (GJK ) dan 660.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun, dengan insiden 10 per

1000 orang. Di Amerika Serikat ≥ 1 juta pasien per tahun menjalani perawatan di rumah sakit

akibat gagal jantung kronik dengan angka mortalitas setiap tahun adalah sekitar 287 ribu orang.
2, 4

Menurut data Riskesdas 2013 jumlah penderita gagal jantung di Indonesia adalah

sekitar 229.696 orang. Dengan jumlah penderita terbanyak berada di Provinsi Jawa Timur yaitu

sekitar 54.826 orang sedangkan Provinsi Maluku Utara dengan jumlah penderita terendah yaitu

15
144 orang. Sementara itu Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi penderita GJK dengan

2.378 orang dari total 240 juta penduduk di Indonesia. Data di Pusat Jantung Rumah sakit

Nasional Harapan Kita sejak tahun 2003 menunjukan angka hospitalisasi pasien dengan

diagnosa gagal jantung yang semakin meningkat berkisar antara 1200-1300 pasien per tahun

dengan angka mortalitas yang terus meningkat mencapai 7.5 % pada tahun 2007. 4, 5

Pada penderita gagal jantung terdapat perubahan hemodinamik berupa penurunan curah

jantung, volume sekuncup, dan fraksi ejeksi sehingga menyebabkan terjadinya gejala berupa

sesak napas, kelelahan, dan intoleransi latihan fisik. Berkurangnya toleransi latihan merupakan

faktor utama penurunan fungsi sosial, fisik, serta kualitas hidup dan meningkatkan

kemungkinkan terjadinya kejadian kardiovaskular.22

Tes jalan 6 menit merupakan uji yang bersifat sederhana, objektif, dan murah yang

dapat dilakukan di klinik dengan manajemen waktu yang cepat dan efisien. Tes ini dapat

digunakan untuk menilai kapasitas fungsional pada pasien dengan kelainan jantung. Selain itu,

karena keterbatasan aktivitas fisik pada pasien GJK, tes ini sangat berguna untuk menilai

prognosis pasien dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurut studi yang di lakukan oleh

American thorac society pada 117 laki-laki dan 173 wanita normal, kemampuan berjalan

selama 6 menit adalah 580 m (pria) dan 500 m (wanita). Jarak ini bisa berubah berdasarkan

faktor- faktor penentu seperti tinggi badan, berat badan, umur, dan adanya disabilitas pasien. 3,
6
Berdasarkan prevalensi, sebagian besar pasien GJK memilik penurunan fraksi ejeksi ventrikel

kiri. 11, 19 Fraksi ejeksi adalah salah satu parameter untuk menilai kemampuan fungsi jantung

yang dinilai menggunakan parameter ekokardiografi dengan nilai normal 65%, dan < 40%

dianggap sudah disfungsi ventrikel kiri.27, 38 Menurut Penelitian Eduardo Carvalho dkk jarak

tempuh tes jalan 6 menit adalah prediktor terhadap angka kematian dan rehospitalisasi pada

pasien dengan gagal jantung.11 Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Texas

heart institute yang menyatakan resiko kematian ditemukan secara signifikan lebih tinggi pada

16
pasien dengan jarak ≤300 m tes jalan 6 menit dan pasien dengan ejeksi fraksi ventrikel kiri

(LVEF) < 30%. 18

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui apakah terdapat

hubungan antara jarak tempuh tes jalan 6 menit (6 MWT) dan fraksi ejeksi pada pasien gagal

jantung kronik terhadap kejadian kardiovaskular.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan masalah pada penelitian yaitu:

“apakah terdapat hubungan antara jarak tempuh tes jalan 6 menit dan fraksi ejeksi pada pasien

gagal jantung kronik terhadap kejadian kardiovaskular?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara jarak tempuh tes jalan

6 menit dan fraksi ejeksi pada pasien gagal jantung kronik periode oktober-desember 2015

terhadap kejadian kardiovaskular .

2. Tujuan khusus

a) Untuk mengetahui jarak tempuh tes jalan 6 menit pada pasien gagal jantung kronik.

b) Untuk mengetahui nilai ejeksi fraksi ventrikel kiri pada pasien gagal jantung kronik.

c) Untuk mengetahui kejadian kardiovaskular yang dapat terjadi pada pasien gagal

jantung kronik setelah periode follow up post tes jalan 6 menit selama 2 bulan.

17
D. Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis:

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman

terlebih khusus tentang hubungan jarak tempuh tes 6 menit dan ejeksi fraksi pada

penderita gagal jantuk kronik terhadap kejadian kardiovaskular.

2. Secara praktis :

a) Dapat menjadi acuan penelitian selanjutnya

b) Dapat menjadi sumber referensi yang berguna dan juga bahan bacaan yang

bermanfaat bagi pembaca

18
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gagal Jantung Kronik

1. Definisi :

Gagal jantung kronik (GJK) adalah suatu kondisi patofisiologis yaitu ketidakmampuan

jantung untuk menghasilkan curah jantung yang adekuat sehingga perfusi jaringan tidak

adekuat atau terjadi peningkatan tekanan pengisian diastolik pada ventrikel kiri, sehingga

tekanan kapiler paru meningkat.26

Menurut European heart journal (ESC) gagal jantung merupakan suatu sindroma klinis

dimana penderitanya memiliki gejala khas seperti napas pendek saat istirahat atau

berolahraga, kelelahan, edema tungkai dan tanda khas gagal jantung seperti takikardi,

takipnea, ronki, efusi pleura, peningkatan tekanan vena jugularis, edema perifer,

hepatomegali, serta memiliki bukti objektif abnormalitas struktur dan fungsi jantung pada

saat istirahat seperti kardiomegali, bunyi jantung ketiga, murmur, abnormalitas pada

ekokardiografi, dan peningkatan konsentrasi nantiuretic peptide dalam darah.25

2. Epidemiologi

Sekitar 3-20 orang pada 1000 populasi mengalami gagal jantung, dan prevalensinya

meningkat seiring pertambahan usia (100 per 1000 orang pada usia >65 tahun)27. Di Amerika

Serikat Lebih dari 5 juta orang menderita gagal jantung dan 550.000 pasien terdiagnosa

menderita gagal jantung setiap tahun. Sementara di Inggris, sekitar 100.000 penderita gagal

jantung di rawat di rumah sakit pada usia >55 tahun.28 Menurut Riskesdas 2013 prevalensi

penyakit gagal jantung di Indonesia tahun 2013 sebesar 0, 13 % atau diperkirakan sekitar

229.696 penduduk Indonesia. Data profil kesehatan Indonesia tahun 2003 disebutkan bahwa

19
penyakit jantung berada di urutan ke-delapan (2.8%) pada 10 penyakit penyebab kematian

terbanyak di rumah sakit di Indonesia. 8, 12

3. Klasifikasi gagal jantung

American Heart Assocciation (AHA) /American Cardiac association (ACA) membuat

klasifikasi dari gagal jantung berdasarkan struktur dan kerusakan pada otot jantung 8

NO Stage Struktur dan kerusakan otot jantung

1 Stage A Terdapat resiko tinggi untuk berkembang menjadi gagal jantung, namun

tidak terdapat kelainan struktur maupun fungsional, juga tidak terdapat tanda

maupun gejala.

2 Stage B Pasien penderita penyakit jantung struktural, tetapi tidak terdapat tanda

maupun gejala.

3 Stage C Terdapat gagal jantung yang simptomatik dan berhubungan dengan penyakit

jantung struktural yang mendasarinya dengan gejala gagal jantung.

4 Stage D Terdapat penyakit jantung struktural lanjut dan ditandai dengan gejala-

gejala gagal jantung pada saat istirahat meskipun dalam terapi medis yang

maksimal, pada tahap ini di butuhkan intervensi khusus.

Sumber: Dickstein K, cohen-solal A, filippatos G, Mcmurray J, Ponikowsky P, poole-wilson

PA, et al. The task force for the diagnostic dan treatment of acute and chronic heart failure

2008 of European society of cardiology. Eur heart J.2008

20
Klasifikasi berdasarkan kapasitas fungsional (NYHA)

Kelas I Tidak terdapat batasan dalam melakukan aktifitas fisik. Aktifitas fisik
sehari-hari tidak menimbulkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas

Kelas 2 Terdapat batasan aktifitas ringan. Tidak terdapat keluhan saat istrahat, namun
aktifitas fisik sehari-hari menimbulkan kelelahan, palpitasi atau sesak nafas

Kelas 3 Terdapat batasan aktifitas bermakna. Tidak terdapat keluhan saat


istrahat,tetapi aktifitas fisik ringan menyebabkan kelelahan, palpitasi atau
sesak

Kelas 4 Tidak dapat melakukan aktifitas fisik tanpa keluhan. Terdapat gejala saat
istirahat. Keluhan meningkat saat melakukan aktifitas

Diambil dari ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart
failure 2008.9

4. Gejala klinis

Pada awalnya mekanisme kompensasi bekerja efektif dalam mempertahankan curah

jantung. Gejala gagal jantung hanya timbul saat aktivitas. Kemudian gejala timbul saat istirahat

seiring dengan perburukan kondisi. Manifestasi klinis juga dipengaruhi oleh tingkat

progresivitas penyakit dan apakah terdapat waktu untuk berkembangnya mekanisme

kompensasi. Pada tahap awal gagal jantung, gejala klinik tidak spesifik (malaise, latergi, lelah,

dispneu intoleransi aktivitas) namun begitu keadaan memburuk, gambaran klinis dapat sangat

jelas terlihat menandakan penyakit jantung.27. Gejala klinis dapat dilihat berdasarkan tabel

berikut:

21
Manifetasi klinis gagal jantung:

Gejala Tanda

Tipikal Spesifik

- Sesak nafas - Peningkatan JVP

- Ortopneu - Refluks hepatojugular

- Paroxysmal nocturnal dyspnoe - Suara jantung S3 (gallop)

- Toleransi aktifitas yang berkurang - Apex jantung bergeser ke lateral

- Cepat lelah - Bising jantung

- Bengkak ektremitas

Kurang tipikal Kurang tipikal

- Batuk di malam / dini hari - Edema perifer

- Mengi - Krepitasi pulmonal

- Berat badan bertambah >2 kg/minggu - Sura pekak di basal paru pada perkusi

- Berat badan turun (gagal jantung stadium - Takikardia

lanjut) - Nadi ireguler

- Perasaan kembung/ begah - Nafas cepat

- Nafsu makan menurun - Heaptomegali

- Perasaan bingung (terutama pasien usia lanjut) - Asites

- Depresi - Kaheksia

- Berdebar

- Pingsan

Sumber: ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure

2012. 9

22
5. Etiologi

a) Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Penimbunan deposit lemak pada arteri koroner menyebabkan berkurangnya jumlah

darah yang dapat mencapai jantung. Hal ini dapat menyebabkan gejala berupa nyeri

dada (angina), atau apabila terjadi obstruksi total dapat menyebabkan serangan jantung.

Penyakit jantung koroner juga dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan

darah yang lebih lanjut mengarah pada gagal jantung.41

b) Hipertensi

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan risiko terjadinya gagal janung

sekitar 2-3 kali lipat. Hal ini karena mekanisme dimana jantung harus bekerja lebih

keras memompa darah untuk mempertahankan sirkulasi darah yang normal. Lebih

lanjut akan menyebabkan jantung menjadi lebih besar dan lemah.41

c) Kelainan katup jantung

Kelainan katup jantung dapat disebabkan oleh penyakit, infeksi (endokarditis) atau

defek pada saat lahir. Gangguan pembukaan atau penutupan katup jantung secara

sempurna menyebabkan jantung harus memompa lebih keras untuk mempertahankan

aliran darah. Beban kerja jantung yang terus meningkat dapat menyebabkan gagal

jantung.41

d) Kardiomiopati dan miokarditis

Kerusakan pada otot jantung, baik disebabkan oleh efek samping dari pengobatan atau

alkohol, infeksi virus maupun keadaan idiopatik, dapat menyebabkan peningkatan

risiko gagal jantung.41

e) Penyakit jantung kongenital

Pembentukan jantung dan katup secara tidak sempurna menyebabkan bagian jantung

yang normal bekerja lebih keras untuk mengatasinya.41

23
f) Diabetes Melitus

Pasien dengan diabetes cenderung mengalami hipertensi dan aterosklerosis karena

peningkatan viskositas darah yang dapat mengarah ke gagal jantung.41

g) Obesitas

Pada pasien obese, jantung cenderung bekerja lebih keras dibandingkan pasien non-

obese.41

6. Patofisiologi

Gagal jantung kronik terjadi karena interaksi kompleks antara faktor-faktor

yang mempengaruhi kegagalan kontraksi ventrikel, peningkatan after load, kegagalan

pengisian ventrikel, dan respon neurohormonal dan hemodinamik yang diperlukan

untuk menciptakan kompensasi sirkulasi. Meskipun konsekuensi hemodinamik gagal

jantung berespon terhadap intervensi farmakologis standar, terdapat interaksi

neurohormonal kritis yang efek gabungannya memperberat dan memperlama sindrom

yang ada.29

Aliran darah ke ginjal berkurang menyebabkan stimulasi renin-angiotensin-

aldosteron (RAA) yang menyebabkan peningkatan kadar renin, angiotensin II, dan

aldosterone. Selain untuk meningkatkan tahanan perifer dan volume darah sirkulasi,

angiotensin dan aldosterone berimplikasi pada perubahan struktural miokardium yang

terlihat pada cedera iskemik dan kardiomiopati hipertropik hipertensif. Perubahan ini

meliputi remodeling miokard, kematian sarkomer kehilangan matriks kolagen normal,

dan fibrosis interstisial. Terjadinya miosit dan sarkomer yang tidak dapat

mentransmisikan kekuatannya, dilatasi jantung, dan pembentukan jaringan parut

dengan kehilangan komplians miokard normal turut memberikan gambaran

hemodinamik dan simptomatik pada GJK. 27, 29

24
Aktivitas sistem saraf simpatik pada gagal jantung kronik melalui baroreseptor,

menghasilkan peningkatan kontraktilitas miokard (inotropic positif) pada awalnya,

namun kemudian pada aktivasi system RAA dan neurohormonal berikutnya

menyebabkan peningkatan tonus vena (preload jantung) dan arteri (afterload jantung),

juga meningkatkan norepinefrin plasma, retensi progresif garam dan air, serta edema.
27

Peptida natriuretik atrial dilepaskan dari atrium jantung sebagai respon terhadap

peregangan, natriuresis dan dilatasi. Pada manusia, peptide natriuretik otak (brain

natriuretic peptide) juga dilepaskan dari jantung terutama ventrikel. Dan dengan kerja

yang serupa dengan ANP, peptida natriuretic bekerja sebagai antagonis fisiologis

terhadap efek angiotensin II pada tonus vaskuler. Sekresi aldosterone dan reabsorpsi

natrium ginjal. 26, 27, 29

Kadar hormone antidiuretik (vasopressin) juga meningkat, menyebabkan

vasokontriksi dan berperan dalam retensi air dan hiponatremia. Endotelin merupakan

peptida vasokontriktor poten yang disekresikan oleh sel endothelial vascular yang

membantu retensi natrium di ginjal. Mekanisme kompensasi ini awalnya bekerja untuk

mempertahankan curah jantung ketika miokard gagal, namun tiap mekanisme

kompensasi memiliki konsekuensinya. Sebagai contoh vasokontriksi yang diiinduksi

katekolamin dan angiotensin akan cenderung mempertahankan tekanan darah namun

juga meningkatkan kerja jantung dan konsumsi oksigen miokard.

7. Diagnosis

Dalam evaluasi awal pasien dengan gagal jantung, dokter harus mencari kelainan

jantung struktural dan fungsional serta mengidentifikasi gangguan serta perilaku yang

dapat menyebabkan penyakit atau mempercepat perkembangannya. Dokter kemudian

25
harus fokus pada penilaian klinis untuk mengidentifikasi gejala dan menentukan

etiologinya. Gejala dan etiologi sangat penting untuk seleksi pengobatan.30

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat memberikan petunjuk mengenai sifat

kelainan yang mendasarinya, tetapi diagnosis spesifik umumnya membutuhkan

pencitraan jantung. Alat diagnostik yang paling berguna untuk mengevaluasi pasien

gagal jantung adalah dua dimensi ekokardiografi dengan dopler untuk menilai fraksi

ejeksi ventrikel kiri (LVEF), ukuran LV, ketebalan dinding, dan fungsi katup. Ini harus

dilakukan selama evaluasi awal. 30, 31, 32

Radionuklida ventriculography dapat digunakan untuk menilai LVEF dan

volume. Resonansi pencitraan tomografi atau computed magnet juga dapat memberikan

informasi pada pasien tertentu. 12-lead elektrokardiografi dan radiografi dada (postero-

anterior dan lateral) harus dilakukan pada semua pasien dengan gagal jantung, tetapi
30
tidak boleh digunakan sebagai dasar utama untuk menentukan kelainan. Kriteria

Framingham dapat pula dipakai untuk diagnosis gagal jantung. Diagnosis ditegakan

dari 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.33

8. Tatalaksana

8.1 Farmakologi

Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (ACE I)

ACE I (captopril, enalapril, lisinopril, ramipril, perindopril) harus diberikan

pada semua pasien gagal jantung simtomatik dan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 %.

ACE I memperbaiki fungsi ventrikel dan kualitas hidup, mengurangi perawatan rumah

sakit karena perburukan gagal jantung, dan meningkatkan angka kelangsungan hidup.

ACE I kadang-kadang menyebabkan perburukan fungsi ginjal, hiperkalemia, hipotensi

26
simtomatik, batuk dan angioedema (jarang), oleh sebab itu ACE I hanya diberikan pada

pasien dengan fungsi ginjal adekuat dan kadar Kalium normal.16

Penyekat Β (Beta Blocker)

Penyekat β (bisoprolol, carvedilol, metoprolol) harus diberikan pada semua

pasien gagal jantung simtomatik dan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 %. Penyekat beta

bekerja untuk menghambat aktivasi RAA. Penyekat β memperbaiki fungsi ventrikel

dan kualitas hidup, mengurangi perawatan rumah sakit karena perburukan gagal

jantung, dan meningkatkan kelangsungan hidup.9, 16

Antagonis Aldosteron

Obat antagonis aldosterone (eplerenon, spironolakton) dosis kecil harus

dipertimbangkan pada semua pasien dengan fraksi ejeksi ≤ 35 % dan gagal jantung

simtomatik berat (kelas fungsional III - IV NYHA) tanpa hiperkalemia dan gangguan

fungsi ginjal berat. 9, 16

Angiotensin Receptor Blockers (ARB)

ARB (candesartan, valsartan) direkomendasikan pada pasien gagal jantung

dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 % yang tetap simtomatik walaupun sudah

diberikan ACEI dan penyekat β dosis optimal. Terapi dengan ARB memperbaiki fungsi

ventrikel dan kualitas hidup, mengurangi angka perawatan rumah sakit karena

perburukan gagal jantung ARB direkomedasikan sebagai alternative pada pasien

intoleran ACEI. Pada penderita GJK.9, 16, 17

27
Hydralazine Dan Isosorbide Dinitrate (H-ISDN)

Pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 %, kombinasi

H-ISDN digunakan sebagai alternatif jika pasien intoleran terhadap ACE I dan ARB 9,
16, 17

Indikasi pemberian kombinasi H-ISDN

 Pengganti ACE I dan ARB dimana keduanya tidak dapat ditoleransi

 Sebagai terapi tambahan ACE I jika ARB atau antagonis aldosteron tidak dapat

ditoleransi

 Jika gejala pasien menetap walaupun sudah diterapi dengan ACE I, penyekat β dan

ARB atau antagonis aldosterone

Digoksin

Pada pasien gagal jantung dengan fibrilasi atrial, digoksin dapat digunakan untuk

memperlambat laju ventrikel yang cepat, walaupun obat lain (seperti penyekat beta) lebih

diutamakan. Pada pasien gagal jantung simtomatik, fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 %

dengan irama sinus, digoksin dapat mengurangi gejala, menurunkan angka perawatan

rumah sakit karena perburukan gagal jantung, tetapi tidak mempunyai efek terhadap angka

kelangsungan hidup.9, 16, 17

Diuretik

Diuretik direkomendasikan pada pasien gagal jantung dengan tanda klinis atau gejala

kongesti. Tujuan dari pemberian diuretik adalah untuk mencapai status euvolemia (kering

dan hangat) dengan dosis yang serendah mungkin, yaitu harus diatur sesuai kebutuhan

pasien, untuk menghindari dehidrasi atau resitensi.9, 16

28
8.2 Non-Farmakologi

Penanganan non farmakologi untuk pasien gagal jantung dapat berupa edukasi pada pasien

mengenani gagal jantung, dan bagaimana sampai terjadi gejala. Penerapan prinsip diet harus

berfokus pada keseimbangan status cairan dan elektrolit seperti pembatasan asupan garam (Na)

hingga 2-3 gr/hari, pemantauan status kalium, dan penyesuaian pembatasan cairan menurut

respon pasien terhadap pengobatan.34

Penderita juga perlu menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan karena dapat

memberikan efek inotropik negatif dan berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, serta

resiko aritmia. Menurukan berat badan jika obesitas, memotivasi pasien untuk tidak merokok,

melakukan vaksinasi pneumococcus dan influenza, latihan fisik dan olahraga teratur, serta

menggunakan sublingual nitroglycerin sebagai profilaksis terhadap dyspnea dan nyeri dada

sewaktu aktivitas seksual. 34, 35

B. Kejadian Kardiovaskular / MACE (Major Adverse Cardiovaskular event)

Kejadian kardiovaskular adalah setiap insiden yang dapat menyebabkan kerusakan dan

gangguan pada otot dan fungsi jantung. Jantung adalah organ vital yang terus

memompa darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi melalui arteri. Setiap gangguan

atau sumbatan aliran darah akan menyebabkan cedera, atau infark. Ini yang biasa

disebut serangan jantung, atau infark miokard (MI) yang mengakibatkan penderita

mengalami hospitalisasi. Hal ini juga dikenal sebagai peristiwa koroner atau

kardiovaskular.49 Kejadian kardiovaskular terbagi atas beberapa jenis yakni:

29
- Kematian/Cardiac death

Kematian kardiovaskular adalah kematian yang disebabkan oleh berbagai

penyebab kardiovaskukar diantaranya infark miokard akut, kematian

Jantung secara mendadak (sudden cardiac death) , kematian akibat gagal

jantung atau syok kardiogenik, kematian karena stroke, dan kematian akibat

lainnya penyebab kardiovaskular lainnya yaitu aneurisma aorta, emboli

paru, serta penyakit arteri perifer.52

- Unstable Angina

Angina adalah penyakit jantung iskemia didefinisikan sebagai

berkurangnya pasokan oksigen dan menurunnya aliran darah ke dalam

miokardium. Gangguan tersebut bisa karena suplai oksigen yang turun

(adanya aterosklerosis koroner atau spasme arteria koroner) atau kebutuhan

oksigen yang meningkat. Sebagai manifestasi keadaan tersebut akan timbul

nyeri dada yang hebat dengan rasa terbakar, tertekan, keberatan di daerah

dada dan nyeri seringkali menyebar ke daerah lengan, rahang, leher,

punggung yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi infark miokard.

Unstable angina adalah jenis angina yang kurang umum namun ebih serius.

Gejala-gejala lebih parah dan kurang dapat diprediksi daripada pola-pola

dari stable angina. Lebih dari itu, nyeri-nyerinya lebih sering, berlangsung

lebih lama, terjadi waktu istirahat, dan tidak dibebaskan dengan

nitroglycerin di bawah lidah (atau pasien perlu untuk menggunakan lebih

banyak nitroglycerin daripada biasanya). 52

30
- Infark Miokard

Infark Miokard adalah area nekrosis koagulasi pada jaringan akibat iskemia

lokal, disebabkan oleh obstruksi sirkulasi ke daerah itu, paling sering karena

trombus atau embolus. Iskemia terjadi oleh karena obstruksi, kompresi,

ruptur karena trauma dan vasokonstriksi. Obstruksi pembuluh darah dapat

disebabkan oleh embolus, trombus atau plak aterosklerosis. Infark miokard

adalah perkembangan cepat dari nekrosis otot jantung yang disebabkan oleh

ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dan bermanifestasi

klinik dengan nyeri dada yang hebat >20 menit dan tidak hilang dengan

pemberian nitrat biasa. 51

- Stroke

Stroke disebabkan oleh gangguan suplai darah ke otak, biasanya karena

pecah atau tersumbatnya pembuluh darah. Ini berakibat terhambatnya

pasokan oksigen dan nutrisi yang menyebabkan kerusakan pada jaringan

otak. Gejala yang paling umum dari stroke adalah kelemahan mendadak

atau mati rasa pada bagian wajah, lengan atau kaki, paling sering pada satu

sisi tubuh. Gejala lain termasuk: kebingungan, kesulitan berbicara atau

memahami pembicaraan, kesulitan melihat dengan satu atau kedua mata,

kesulitan berjalan, pusing, kehilangan keseimbangan atau koordinasi, sakit

kepala parah dengan tidak diketahui penyebabnya,pingsan atau tidak

sadarkan diri. Gejala dari stroke tergantung pada bagian mana dari otak

yang terkena dan seberapa parah itu dipengaruhi. Stroke yang sangat parah

dapat menyebabkan kematian mendadak. 50

31
C. Tes Jalan 6 Menit/ 6 Minutes Walking Test (6MWT)

C.1 Definisi:

Tes jalan 6 menit adalah tes sederhana dapat dilakukan di klinik dengan manajemen

waktu yang cepat dan efisien. Tes ini dapat digunakan untuk menilai kapasitas fungsional

pada pasien gagal jantung kronik stabil. Penilaian terhadap kemampuan berjalan sejauh

mungkin selama 6 menit merupakan uji yang bersifat sederhana, objektif, dan murah.6

Tes jalan 6 menit merupakan uji latih submaksimal yang menyerupai aktivitas sehari-

hari dan dapat ditoleransi penderita gagal jantung. Disamping hal tersebut, kapasitas

berjalan merupakan faktor yang penting dalam menilai kualitas hidup penderita jantung.

Uji jalan 6 menit memberikan suatu indikasi objektif kapasitas fungsional dan toleransi

latihan karena jarak tempuh memperlihatkan hubungannya dengan maksimal gejala yang

muncul akibat konsumsi oksigen yang terbatas. Uji jalan 6 menit juga dapat menunjukkan

hasil perbaikan klinis pada penderita gagal jantung kronik yang telah melakukan program

rehabilitasi secara teratur dan terukur sesuai dosis latihan yang dilakukan, tes

ini merupakan uji jalan yang mudah dilakukan, lebih dapat ditoleransi dan lebih

menggambarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dibandingkan uji jalan yang lain.6

C.2 Prosedur dan Pelaksanaan tes jalan 6 menit

 Uji latih harus dilakukan pada lintasan datar dengan lokasi yang mudah dijangkau, jika

terjadi keadaan darurat maka penanganan cepat dilakukan. Pemilihan lokasi harus

ditentukan oleh dokter yang mengawasi.

 Oksigen dan nitrogliserin sublingual sebaiknya dapat disediakan, dan tersedia telepon

untuk panggilan darurat.

 Pasien menggunakan pakaian yang nyaman untuk melakukan uji latih.

 Menggunakan sepatu yang sesuai dan nyaman untuk berjalan.

32
 Ketentuan medis yang biasa dijalankan pasien harus tetap dilakukan.

 Pasien diperkenankan untuk makan makanan ringan 1 jam sebelum uji latih.

 Pasien tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas atau latihan yang berlebihan

dalam 2 jam sebelum uji latih dilakukan.

 Uji jalan 6 menit ini dapat dihentikan segera bila timbul gejala: Nyeri dada, sesak yang

tidak dapat ditoleransi, kram pada tungkai, sempoyongan, terlihat pucat.

 Sebelum dilakukan Uji jalan 6 menit pasien diperiksa secara seksama termasuk tanda

vital seperti Tekanan darah, Denyut jantung, Respirasi, Suhu juga Saturasi oksigen.

 Tidak dianjurkan melakukan periode pemanasan sebelum dilakukan uji latih.

 Pasien harus beristirahat dengan duduk dikursi, dekat dengan garis start, kurang lebih

5 – 10 menit sebelum uji jalan dimulai.

 Isilah data-data pasien pada formulir yang digunakan.

 Penggunaan pulse oksimetri.Maksud pengukuran SpO2 dari oksimetri adalah

mengetahui oksigen uptake paru sehingga kita dapat memprediksi tingkat kelelahan

pasien.

 Gunakan Skala Borg untuk mengukur tingkat dispnea dan fatique awal dan sesudah uji

latih.

 Berikan instruksi pada pasien sebelum uji latih dimulai dan informasikan yang utama

adalah berjalan sejauh mungkin selama 6 menit, jangan lari.

 Selama uji dilakukan, penguji harus tetap berdiri di dekat garis start. Tidak

diperkenankan berjalan bersama pasien. Hal ini guna mencegah adu balap antara pasien

dengan penguji sehingga akan mempengaruhi hasil yang sebenarnya. Pada saat pasien

mulai berjalan, nyalakan stopwatch.

33
 Penguji tidak diperkenankan bicara kepada siapapun selama uji latih. Pusatkan

perhatian pada pasien, jangan sampai salah menghitung jumlah putaran.

 Memberikan semangat sangat dianjurkan dalam Uji jalan 6 menit.

C.3 Indikasi dan Kontraindikasi.

Indikasi : Pasien dengan Gagal jantung kronik stabil.6

Kontraindikasi : Gagal jantung kongestif yang tidak terkontrol, Aritmia jantung berat,

Kardiomiopati berat, Hipertensi tidak terkontrol, Angina pektoris tak stabil.6

C.4 Intepretasi

Sampai saat ini belum ada teori yang pasti menyatakan berapa jarak temouh

yang baku untuk tes jalan 6 menit. Tetapi telah dilakukan beberapa penelitian seperti

studi yang di lakukan oleh American thorac society pada 117 laki-laki dan 173 wanita

normal, kemampuan berjalan selama 6 menit adalah 580 m (pria) dan 500 m (wanita).

Stefan dkk dalam penelitianya terhadap orang tua normal, menyatakan laki-laki

kelompok usia 60-69 tahun memiliki kemampuan berjalan sejauh 572m, sedangkan

perempuan 538m. Kelompok usia 70-79 tahun, laki-laki 527m dan perempuan 471m.

Jarak ini bisa berubah berdasarkan faktor- faktor penentu seperti tinggi badan, berat

badan, umur, dan adanya disabilitas pasien.6, 19

C.5 Hubungan Jarak Tempuh Tes Jalan 6 Menit Dengan Kejadian Kardiovaskular

Pada penderita gagal jantung terdapat perubahan hemodinamik berupa penurunan curah

jantung, volume sekuncup, dan fraksi ejeksi. Perubahan tersebut yang menyebabkan

terjadinya gejala berupa sesak napas, kelelahan, dan intoleransi latihan fisik. Berkurangnya

toleransi latihan merupakan faktor utama penurunan fungsi sosial, fisik, serta kualitas hidup

34
dan memungkinkan terjadinya komplikasi kardiovaskuler.22 Jarak tempuh tes jalan 6 menit

adalah prediktor terhadap angka komplikasi kematian dan rehospitalisasi pada pasien

dengan gagal jantung (Departamento de clínica médica Brazil, 2011). Pada pasien dengan

penyakit kardiovaskular terdapat penurunan jarak tempuh tes jalan 6 menit dengan rata-

rata hanya mampu berjalan 310-427m bergantung kepada derajat fungsional NYHA. Ini

menunjukan terdapat penurunan jarak tempuh 6MWT pada penderita penyakit

kardiovaskuler.11, 19, 36
Studies of Left Ventricular Dysfunction (SOLVD) mengatakan

bahwa angka mortalitas dan kejadian kardiovaskular pada pasien yang menempuh jarak

<300 m lebih tinggi daripada yang memiliki jarak tempuh >300m.36

D. Fraksi Ejeksi

Fraksi ejeksi ventrikel kiri merupakan indikator klinis yang di anggap telah umum dipakai

untuk menilai fungsi ventrikel kiri. Indikator klinis ini mempunyai nilai prognosis yang

kuat bagi penderita infark miokard akut, penyakit jantung koroner kronis dan penyakit

katup jantung. Fraksi ejeksi dapat diukur menggunakan parameter ekokardiografi melalui

rumus berikut: 3, 12

EF = Volume diastolik ventrikel kiri – volume akhir sistolik x 100%

Volume diastolik ventrikel kiri

Dimana, nilai normal fraksi ejeksi 65%, depresi ringan 40-50%, depresi sedang EF 30-

40%, dan depresi berat EF <30%.

Fraksi ejeksi ini mewakili isi sekuncup sebagai presentase dari volume akhir diastolik

ventrikel kiri, dimana terdapat dua metode yang diterima secara umum untuk mengukur

fraksi ejeksi, yaitu teknik volumetric dan rekaman M-mode. Teknik penelusuran

35
menggunakan volume sistolik dan diastolik ventrikel kiri yang di tentukan oleh penelusuran

interaktif pada endokard ventrikel kiri atau deteksi pinggir endokard secara otomatis pada

ekokardiografi 2-D. 14, 15

D. 1 Hubungan Fraksi ejeksi dengan kejadian kardiovaskular pada pasien GJK.

Pada pasien gagal jantung dengan disfungsi sistolik ventrikel kiri, terdapat penurunan

nila fraksi ejeksi, penurunan ini bergantung pada tingkat keparahan dan progresivitas

penyakit, serta intervensi pengobatan. Rata-rata pasien dengan disfungsi sistolik berat

memilik EF <40% dengan jarak tempuh tes jalan 6 menit yang bervariasi antara 310-427

m tergantung pada nilai kapasitas fungsional (NYHA) pasien dan faktor lain seperti usia,

jenis kelamin, tinggi badan, berat badan. Hal ini didukung hasil penelitian texas heart

institute yang menyatakan kejadian kardiovaskular kematian secara signifikan lebih tinggi

pada pasien dengan jarak ≤300 m dibandingkan pada pasien dengan jarak tes berjalan 6

menit > 300 m (79% vs 7%). Risiko kematian ditemukan secara signifikan lebih tinggi pada
18, 22
pasien dengan ejeksi fraksi ventrikel kiri (LVEF) < 30%. Hal ini membuktikan,

semakin rendah jarak tempuh uji jalan 6 menit dan fraksi ejeksi maka semakin tinggi resiko

terjadinya kejadian kardiovaskular.

36
E. Kerangka konsep

Gagal jantung kronik

Jarak tempuh Tes Jalan 6 Fraksi Ejeksi (LVEF)


Menit (6 MWT)
<40%

Pengamatan selama 2 bulan

Kejadian kardiovaskular

F. Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini yaitu “Terdapat hubungan antara jarak tempuh tes jalan 6

menit dan fraksi ejeksi pada pasien gagal jantung kronik terhadap kejadian kardiovaskular”

37
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif dengan metode observasional-analitik

untuk mengetahui hubungan antara jarak tempuh tes 6 menit dan fraksi ejeksi pada pasien

gagal jantung kronik terhadap kejadian kardiovaskular.

B. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di poliklinik jantung Rumah Sakit Umum Prof.dR.R.D.

Kandou Manado.

C. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 bulan yang akan dilakukan pada periode

waktu Oktober - December 2015

D. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penderita ini yaitu pasien penderita gagal jantung yang aktif berobat.

Populasi terjangkau pada penelitian ini yaitu pasien penderita gagal jantung kronik di

Poliklinik Jantung RSUP.Prof.R.D.Kandou Manado.

Sampel adalah pasien dengan gagal jantung kronik yang memenuhi kriteria inklusi dan

eksklusi, diambil dengan teknik consecutive sampling.

Besar sampel diperoleh dengan menggunakan rumus:

38
2
( 𝑧𝛼 + 𝑧𝛽 )
𝑛=[ ] +3
0,5 ln[(1 + 𝑟)/(1 − 𝑟)]

Keterangan :

n = besar sampel

Zα = nilai Z pada α tertentu

Zβ = Nilai Z pada power tertentu

ln = logaritma natural

r = perkiraan koefisien korelasi

Dalam penelitian ini ditentukan nilai α = 0,05, power = 80% dan r = 0,40. Sehingga

diperolah nilai n = 38 sampel.

E. Kriteria sampel

 Inklusi :

a. Pasien gagal jantung kronik dengan etiologi Infark miokard akut (IMA), penyakit

jantung koroner (PJK) dan hipertensi.

b. Pasien gagal jantung kronik dengan fraksi ejeksi <40 %.

c. Pasien gagal jantung kronik dengan kondisi stabil.

d. Pasien bersedia ikut serta dalam penelitian dengan menandatangani inform consent

e. Pasien GJK dengan usia <70 tahun.

 Eksklusi :

a) Pasien gagal jantung kronik dengan etiologi kelainan katup jantung dan penyakit

jantung kongenital.

b) Penyakit gagal jantung kronik dengan fraksi ejeksi >40%.

c) Pasien gagal jantung kronik berusia > 70 tahun.

39
d) Pasien tidak bersedia ikut dalam penelitian.

F. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas : Jarak tempuh tes jalan 6 menit (6MWT) dan fraksi ejeksi.

2. Variabel terikat: Kejadian kardiovaskular: rehospitalisasi, kematian, stroke, unstable

angina

G. Definisi operasional

1. Gagal jantung kronis (GJK) adalah sindrom klinis di mana terjadi kegagalan kinerja

jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Dibuktikan

dengan keluhan sesak, kelelahan baik dalam kondisi istirahat atau beraktivitas, serta

keterbatasan aktivitas fisik dan bisa disetai gejala edema.

2. Tes jalan 6 menit adalah uji latih yang murah dan efisien yang menyerupai aktivitas

sehari-hari untuk menilai secara objektif kapasitas fungsional dan toleransi latihan pada

pasien gagal jantung. Ditemukan penurunan jarak tempuh tes jalan 6 menit pada pasien

gagal jantung dibandingkan orang normal. Dalam penelitian ini dinilai Jarak tempuh

tes jalan 6 menit berdasarkan jarak tempuh <300 m dan >300 m.

3. Fraksi ejeksi (EF) adalah parameter untuk menilai kemampuan fungsi jantung. Dinilai

dari pengukuran melalui pemeriksaan ekokardiografi, dalam hal ini FE dibagi

berdasarkan kerja jantung di bawah <30 % dan >30-40 %.

4. Kejadian Kardiovaskular merupakan kejadian yang terjadi pada responden setelah

menjalani tes jalan 6 menit dan periode follow up selama 2 bulan.

5. Usia sampel dilihat pada data rekam medik, dibagi menjadi kelompok usia <40 tahun,

40-49 tahun, 50-59 tahun dan 60-70 tahun.

40
6. Jenis kelamin: Jenis kelamin dari sampel yang dilihat pada data rekam medik, dibagi

menjadi laki-laki dan perempuan.

7. Penyakit Terdahulu dari sampel dilihat dari data rekam medik pasien, dibagi

berdasarkan penyakit terdahulu PJK, PJH, dan campuran PJK dan PJH.

H. Instrumen Penelitian

1. Data lengkap pasien gagal jantung kronik di poli jantung RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou

Manado

2. Alat tulis–menulis

3. Komputer

4. Parameter Ekokardiografi

5. Instrumen hitung dalam bentuk software SPSS Versi 20

6. Lembar informed Consent

7. Stopwatch.

8. Segitiga kuning/Cones ntuk menandai lokasi tes jalan.

9. Formulir catatan uji latih

10. Oksigen untuk keadaan darurat.

11. Tensi meter dan stetoskop.

12. Pulse oksimetri

I. Cara kerja

Dalam melaksanakan penelitian ini, beberapa langkah yang perlu dilakukan yaitu:

1. Alokasi subjek

Subjek yang menjadi kelompok yang diteliti yaitu penderita gagal jantung

kronik.

41
2. Pengumpulan data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder.

Pegumpulan data mengenai karakteristik pasien dilakukan dengan

menggunakan data sekunder yang ada pada rekam medis pasien. Pengumpulan

data mengenai fraksi ejeksi subjek penelitian, menggunakan data primer dengan

cara menggunakan pemeriksaan ekokardiografi atau data sekunder dengan

melihat hasil pemeriksaan ekokardiografi pada rekam medis pasien.

Pengumpulan data mengenai jarak tempuh tes jalan 6 menit subjek penelitian

dilakukan menggunakan data primer dengan melakukan tes jalan 6 menit pada

pasien gagal jantung kronik.

3. Rencana pengolahan analisis data

Data diolah berdasarkan variabel penelitian dan disajikan dengan cara

menyusunnya dalam bentuk tabel, grafik dan presentasi. Variabel penelitian

mencakup:

a) Distribusi frekuensi pasien dengan gagal jantung kronik berdasarkan

jenis kelamin.

b) Distribusi frekuensi pasien dengan gagal jantung kronik berdasarkan

Usia.

c) Distribusi frekuensi pasien dengan gagal jantung kronik berdasrkan

penyakit terdahulu.

d) Distribusi frekuensi pasien dengan gagal jantung kronik berdasarkan

nilai ejeksi fraksi.

e) Distribusi frekuensi pasien dengan gagal jantung kronik berdasarkan

jarak tempuh tes jalan 6 menit.

42
f) Distribusi frekuensi pasien dengan gagal jantung kronik berdasarkan

kejadian kardiovaskular yang terjadi, dibagi atas :

1. Rehospitalisasi

2. Kematian

3. Stroke

4. Unstable angina

g) Analisis hubungan jarak tempuh tes jalan 6 menit dengan kejadian

kardiovaskular, yaitu berdasarkan jarak tempuh <300 m dan >300

m.

h) Analisis hubungan fraksi ejeksi dengan kejadian kardiovaskular,

yaitu berdasarkan FE <30 % dan >30-40 %.

i) Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan

analisis uji X2 (chi square).

j) Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing skripsi.

k) Penyusunanan dan pengetikan naskah akhir

l) Menelaah kembali naskah.

43
J. Alur penelitian

Gagal Jantung Kronik

Fraksi Ejeksi (Ekokardiografi)


<40 % (Memenuhi kriteria inklusi)

Tes Jalan 6 Menit

Pengamatan selama 2 bulan

Kejadian Kardiovaskular

Rehospitalisasi Kematian Stroke Unstable Angina

44
BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Jantung RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou

Manado pada pasien Gagal Jantung Kronik selama periode Oktober-Desember 2015.

Responden dilihat jarak tempuh dalam tes jalan 6 menit dan nilai fraksi ejeksi <40 %.

Tabel 4. Diagram Responden Penelitian

Pasien CHF

(46)

Tidak Bersedia Inklusi Ekslusi

(3) (35) (8)

6MWT

(35)

Tidak selesai Selesai

(4) (31)

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan total 46 pasien CHF selama periode Oktober-

Desember 2015, tetapi hanya 35 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah

31 responden yang berhasil menyelesaikan Tes Jalan 6 menit dan di follow up selama 2

bulan.

45
A. Data Karakteristik
1. Data Karakteristik Pasien Gagal Jantung Kronik berdasarkan Kejadian Kardiovaskular

Tabel 4.1 Data Karakteristik Pasien Gagal Jantung Kronik berdasarkan Kejadian
Kardiovaskular

Karakteristik Kejadian Kardiovaskular


Rata-rata ± Tidak Ada Ada Nilai p
SB (n=21) (n=10)
(n=31)

Jenis Kelamin
Laki-Laki 24 (77.4%) 15 (62.5%) 9 (37.5%)
Perempuan 7 (22.6%) 6 (85.7%) 1 (14.3%) 0.248

Usia (Tahun)
40-49 - 1 (100%)
50-59 60.51 ± 7.40 7 (63.6%) 4 (36.4%) 0.288
60-70 14 (73.7%) 5 (26.3%)

Penyakit Terdahulu
PJK 16 (51.6%) 11 (68.8%) 5 (31.2%)
PJH 2 (6.5%) 2 (100%) - 0.552
PJK & PJH 13 (41.9%) 8 (61.5%) 5 (38.5%)

Fraksi Ejeksi (%)


<30 2 (28.6%) 5 (71.4%)
>30-40 32.83 ± 7.30 19 (79.2%) 5 (20.8%) 0.012*

Obat-obatan
ACE Inhibitor 23 (74.9%) 15 (65.2%) 8 (34.8%)
Beta Blocker 27 (87%) 18 (66.7%) 9 (33.3%)
Nitrate 15 (48.3%) 8 (53.4%) 7 (46.6%)
0.408
Diuretik 12 (38.7%) 7 (58.5%) 5 (41.6%)
Angiotensin Receptor 8 (25.8%) 6 (75%) 2 (25%)
Blocker

Jarak Tempuh 6MWT (Mtr)


<300 13 (76.5%) 4 (23.5%) 0.252
>300 301.09 ± 80.18 8 (57.1%) 6 (42.9%)

Dianalisa menggunakan uji tabulasi silang (X2); Variabel diperlihatkan dalam rata-rata ±
Simpang Baku.

46
Berdasarkan tabel 4.1 tentang karakteristik responden didapatkan dari total 24

responden laki-laki dan 7 responden perempuan, dimana 9 responden (37.5%) laki-laki

mengalami kejadian kardiovaskular dan 15 responden (62.5%) tidak mengalami kejadian

kardiovaskular, sedangkan jenis kelamin perempuan 1 responden (14.3%) mengalami

kejadian kardiovaskular dan 6 responden (85.7%) lainnya tidak mengalami kejadian

kardiovaskular. Hasil uji statistik p=0.284 yang berarti tidak terdapat hubungan yang

bermakna antara jenis kelamin responden dengan kejadian kardiovaskular.

Sementara itu dari kelompok usia, rerata responden penelitian adalah 60.5 tahun

± 7.40. Kelompok usia 60-70 tahun yang mengalami kejadian kardiovaskular adalah

sebanyak 5 responden (26.3%), adapun kelompok usia 50-59 tahun yang mengalami

kejadian kardiovaskular ialah 4 responden (36.4%), sedangkan kelompok usia 40-49 tahun

100% responden mengalami kejadian kardiovaskular. Hasil uji tabulasi silang p=0.288

berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia pasien GJK dengan kejadian

kardiovaskular.

Berdasarkan penyebab penyakit terdahulu PJK, didapatkan 11 responden

(68.8%) tidak mengalami kejadian kardiovaskular dan 5 responden (31.2%) lainnya yang

mengalami kejadian kardiovaskular. Dari data responden dengan penyebab penyakit

terdahulu PJK & PJH didapatkan 8 responden (61.5%) tidak mengalami kejadian

kardiovaskular dan 5 responden (38.5%) lainnya mengalami kejadian kardiovaskular.

Sedangkan responden dengan penyebab penyakit terdahulu PJH tidak ada yang mengalami

kejadian kardiovaskular. Hasil uji statistik p=0.552 berarti tidak ada hubungan yang

bermakna antara penyakit terdahulu responden dengan kejadian kardiovaskular.

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata nilai fraksi ejeksi responden adalah 32.82

± 7.30 % dengan pasien yang memiliki fraksi ejeksi <30% adalah sebanyak 7 responden,

47
dimana 71.4% (5) mengalami kejadian kardiovaskular dan 28.6% tidak mengalami

kejadian kardiovaskular. Sedangkan responden dengan fraksi ejeksi >30-40% adalah 24

responden, dimana 20.8% respoden mengalami kejadian kardiovaskular. Hasil statistik uji

tabulasi silang menghasilkan p=0.012, maka disimpulkan terdapat hubungan yang

bermakna antara fraksi ejeksi dengan kejadian kardiovaskular.

Sementara dari riwayat obat-obatan yang dikonsumsi responden, didapatkan

kebanyakan responden menggunakan Beta blocker 87% , diikuti 74.9% responden

mengkonsumsi ACE inhibitor, 48.5% responden dengan Nitrate, 38.7% responden

memakai Diuretik, serta 25.8% responden dengan Angiotensin receptor blocker.

Didapatkan angka kejadian kardiovaskular tertinggi pada responden yang menggunakan

Nitrate yakni sebanyak 46.6% dari total 15 responden yang memakai Nitrate, dan angka

kejadian kardiovaskular terendah pada responden yang menggunakan Angiotensin receptor

blocker yaitu 25% dari total 8 responden. Hasil uji tabulasi silang p=0.408, maka

disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat konsumsi obat

responden dengan kejadian kardiovaskular.

Berdasarkan data hasil penelitian ini, rata-rata jarak tempuh responden adalah

301.90 ± 80.18 m dimana 23.5% (4) responden dengan jarak tempuh <300m mengalami

kejadian kardiovaskular dan 76.5% (13) responden tidak mengalami kejadian

kardiovaskular. Sedangan responden dengan jarak tempuh >300m, 42.9% (6) responden

mengalami kejadian kardiovaskular dan 57.1 % (8) responden didapatkan tidak ada

kejadian kardiovaskular. Hasil tabulasi silang dengan nilai p=0.252, maka dapat

disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jarak tempuh tes jalan 6 menit

dengan kejadian kardiovaskular.

48
B. Data Deskriptif

1. Distribusi Pasien Gagal Jantung Kronik Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.2.Distribusi Sampel Berdasarkan Kelompok Jenis Kelamin

Jenis Kelamin N %

Laki-Laki 24 77,4
Perempuan 7 22,6
Total 31 100,0

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah responden laki-laki adalah sebanyak
24 orang (77.4%) dan 7 responden perempuan (22.6 %).

2. Distribusi Pasien Gagal Jantung Kronik Berdasarkan Usia

Tabel 4.3.Distribusi Sampel Berdasarkan Usia

Usia (Tahun) N %
40-49 1 3,2
50-59 11 35,5
60-70 19 61,3
Total 31 100,0

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah responden kelompok usia 40-49 tahun

adalah 1 orang (3.2%), kelompok usia 50-59 tahun sebanyak 11 orang (35.5%) dan

responden terbanyak berada pada kelompok usia 60-70 tahun yakni sebanyak 19 orang

(61.3%).

49
3. Distribusi Pasien Gagal Jantung Kronik berdasarkan Penyakit Terdahulu

Tabel 4.4.Distribusi Sampel Berdasarkan Penyakit Terdahulu

Penyakit Terdahulu N %

PJK 16 51,6

PJH 2 6,5

PJK & PJH 13 41,9

Total 31 100,0

PJK: Penyakit Jantung Koroner, PJH: Penyakit Jantung Hipertensi

Dari Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah responden terbanyak adalah dengan

penyakit terdahulu PJK yakni sebanyak 16 orang (51.6%), kemudian penyakit

terdahulu PJK & PJH 13 orang (41.9%) dan penyakit terdahulu PJH sebanyak 2 orang

(6.5%).

4. Distribusi Pasien Gagal Jantung Kronik berdasarkan Jarak tempuh Tes Jalan 6

Menit.

Tabel 4.5.Distribusi Sampel Berdasarkan Jarak Tempuh Tes Jalan 6 Menit.

Jarak tempuh 6MWT N %


<300m 17 54,8
>300m 14 45,2
Total 31 100,0
6MWT: 6 Minutes Walking Test/ Tes jalan 6 menit

Dari hasil penelitian didapatkan responden yang berjalan <300 m yakni sebanyak 17 orang

(54.8%) dan >300 m sebanyak 14 orang (45.2%).

50
5. Distribusi Pasien Gagal Jantung Kronik berdasarkan nilai Fraksi Ejeksi

Tabel 4.6.Distribusi Sampel Berdasarkan nilai Fraksi Ejeksi

Fraksi Ejeksi N %

<30% 7 22,6

>30-40% 24 77,4

Total 31 100,0

Dari hasil penelitian didapatkan responden dengan Fraksi ejeksi <30% adalah sebanyak 7
responden (22.6%) dan >30-40% adalah sebanyak 24 responden (77.4%).

6. Distribusi Pasien Gagal Jantung Kronik berdasarkan Kejadian Kardiovaskular

Tabel 4.7.Distribusi Sampel Berdasarkan Kejadian Kardiovaskular

Kejadian Kardiovaskular N %
Rehospitalisasi 6 19,4
Stroke - -
Kematian - -
Unstable Angina 4 12,9
Tidak ada 21 67,7
Total 31 100,0

Dari hasil penelitian terhadap 31 responden, didapatkan responden dengan kejadian

kardiovaskular terbanyak yakni rehospitalisasi 6 orang (19.4%), Stroke dan kematian

tidak ada, unstable angina 4 orang (12.9%), sedangkan yang tidak mengalami Kejadian

kardiovaskular sebanyak 21 orang (67.7%).

51
C. Data Analitik

1. Hubungan Antara Jarak tempuh Tes Jalan 6 Menit dengan Kejadian


Kardiovaskular
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 3 orang responden dengan jarak

tempuh <300m mengalami rehospitalisasi (17.6%), 1 orang mengalami unstable angina

(5.9%), dan 13 responden (76.5%) tidak ada kejadian kardiovaskular. Sedangkan

responden dengan jarak tempuh >300m, sebanyak 3 respoden mengalami

Rehospitalisasi (21.4%), 3 responden lainya mengalami unstable angina (21.4%), dan

yang tidak mengalami kejadian kardiovaskular sebanyak 8 responden (57.1%). Dari

total 31 responden penelitian, didapatkan 10 responden (32.3%) mengalami kejadian

kardiovaskular sedangkan 21 responden (67.7%) tidak mengalami kejadian

kardiovaskular. Nilai p=0.252 berarti dalam penelitian ini tidak terdapat hubungan

yang bermakna antara jarak tempuh tes jalan 6 menit dengan kejadian kardiovaskular.

Tabel 4.7. Hubungan Jarak Tempuh Tes Jalan 6 Menit dengan Kejadian Kardiovaskular

Kejadian Kardiovaskular

Nilai
Unstable Tidak Total
Rehospitalisasi Stroke Kematian
p
Angina ada

<300 3 - - 1 13 17
Jarak
m 17.6% - - 5.9% 76.5% 100 %
Tempuh 0.252
>300 3 - - 3 8 14
6MWT
m 21.4% - - 21.4% 57.1% 100 %

6 - - 4 21 31
Total
19.4% - - 12.9% 67.7% 100%

Dianalisa menggunakan uji tabulasi silang (X2)

52
2. Hubungan Antara Fraksi Ejeksi dengan Kejadian Kardiovaskular

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 3 responden dengan Fraksi Ejeksi

<30% mengalami Reshospitalisasi (42.9%), 2 responden mengalami unstable angina

(28.6%) dan 2 responden (28.6%) lainnya didapatkan tidak ada Kejadian Kardiovaskular.

Sedangkan responden dengan Fraksi Ejeksi >30-40% didapatkan 3 responden mengalami

rehospitalisasi (12.5%), 2 responden Unstable Angina (8.3%), dan 19 responden (79.2%)

tidak ada kejadian kardiovaskular. Dari 31 responden penelitian, didapatkan 5 dari total 7

responden dengan fraksi ejeksi <30% mengalami kejadian kardiovaskular dan 5 dari total

24 responden dengan fraksi ejeksi >30-40% yang mengalami kejadian kardiovaskular.

Nilai p=0.012 menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara Fraksi Ejeksi dan

Kejadian Kardiovaskular.

Tabel 4.7. Hubungan Fraksi Ejeksi dengan Kejadian Kardiovaskular.

Kejadian Kardiovaskular

Total Nilai
Rehospitalisasi Stroke Kematian Unstable Tidak
p
Angina ada

<30 3 - - 2 2 7

Fraksi % 42.9% - - 28.6% 28.6% 100.0%


0.012
Ejeksi >30- 3 - - 2 19 24

40% 12.5% - - 8.3% 79.2% 100.0%

6 - - 4 21 31
Total
19.4% - -
12.9% 67.7% 100.0%
Dianalisa menggunakan uji tabulasi silang (X2)

53
BAB V

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Jantung RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou

Manado dalam kurun waktu 2 bulan yaitu dari Oktober-Desember 2015. Didapatkan responden

pasien Gagal Jantung Kronik sebanyak 31 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan berhasil

melakukan Tes Jalan 6 menit.

Pada penelitian ini ditemukan perbandingan yang jauh berbeda antara jumlah pasien

laki-laki dan jumlah pasien perempuan, dengan persentase jumlah pasien laki-laki lebih banyak

dibandingkan dengan jumlah pasien perempuan. Dari total 31 responden dengan GJK,

didapatkan 24 pasien (77.4%) berjenis kelamin laki- laki dan 7 pasien (22.6%) berjenis kelamin

perempuan. Hal ini mirip dengan hasil yang dilaporkan oleh Stromberg dan Martensson,

dimana jumlah insiden gagal jantung tertinggi didapatkan pada jenis kelamin laki-laki.42

Menurut penelitian yang dilakukan MEDLINE dan CINAHL, penyakit gagal jantung

kronik lebih sering dialami oleh laki - laki dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan karena

pada umumnya laki -laki lebih sering melakukan aktifitas fisik dibandingkan perempuan. Hal

ini juga dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, seperti kebiasaan merokok dan konsumsi

alkohol.43

Berdasarkan usia, pada penelitian ini didapatkan 19 responden (61.4%) pasien gagal

jantung kronik dengan usia 60-70 tahun, adapun kelompok usia 50-59 tahun dengan 11

responden (35.5%), dan kelompok usia 40-49 tahun 1 responden (3.2%). Hal ini mirip dengan

statistik yang di publikasikan oleh Liyod-Jones dkk, dimana seiring dengan bertambahnya usia
44
terjadi peningkatan jumlah penderita gagal jantung. Hal ini dikarenakan pada pasien usia

lanjut, pembuluh darah sudah tidak lagi elastis dan fleksibel. Hal ini mengakibatkan plak/lemak

lebih mudah menumpuk dan menghalangi aliran darah sehingga terjadi aterosklerosis yang

54
merupakan salah satu penyebab penyakit jantung koroner, yang bisa berkelanjutkan menjadi

gagal jantung.54

Berdasarkan penyebab penyakit terdahulu, data dari penelitian ini menunjukan bahwa

jumlah responden dengan penyakit terdahulu PJK adalah yang terbanyak dengan 16 responden

(51.6%), disusul dengan PJK dan PJH sebanyak 13 responden (41.9%), dan penyakit terdahulu

PJH sebanyak 2 responden (6.5%). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Doughty dan White

yang menyatakan bahwa PJK merupakan penyebab terbanyak gagal jantung.46 Cowie dkk juga

dalam penelitiannya menyatakan bahwa gagal jantung disebabkan paling banyak oleh PJK,

disusul campuran antara PJK dan PJH, serta PJH.45 Tingginya angka PJK pada penelitian ini

dapat terjadi dikarenakan penelitian ini di lakukan di tanah Minahasa, yang mana masyarakat

daerah minahasa sering menkonsumsi makanan khas daerah yang tinggi lemak, sehingga

meningkatkan resiko terjadinya PJK.56 Hal ini sesuai dengan penelitian Grace kandou yang

menyatakan pengkomsumsi makanan khas Mihahasa dengan frekuensi makan >2 kali/ bulan

berisiko mengalami PJK 4 kali lebih besar daripada pengkonsumsi <1 kali/ bulan.55

Berdasarkan jarak tempuh tes jalan 6 menit yang diperoleh dari penelitian ini, pasien

Gagal Jantung Kronik dengan jarak tempuh <300 m adalah sebanyak 17 responden (54.8%)

dan yang berjarak tempuh >300 m sebanyak 14 responden (45.2%). Jarak tempuh rata-rata

responden adalah 301.90 ± 80.18 m. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Wegrznowska dkk

yang menyatakan bahwa sebagian besar pasien gagal jantung memiliki jarak tempuh tes jalan

6 menit rata-rata 444 m.47 Perbedaan ini mungkin dikarenakan penelitian ini dilakukan di Asia,

dengan rata-rata populasi memiliki postur dan bentuk tubuh yang berbeda dibandingkan

dengan penduduk Eropa.6

Berdasarkan nilai Fraksi Ejeksi, data diperoleh dalam penilitian ini yakni responden

gagal jantung kronik terbanyak adalah responden dengan fraksi ejeksi >30-40% yakni

sebanyak 24 responden (77.4%) dimana 20.8% (5) diantaranya mengalami kejadian

55
kardiovaskular, sedangkan responden dengan fraksi ejeksi <30% adalah 7 responden (22.6%)

yang mana 71.5 % (5) diantarannya mengalami kejadian kardiovaskular. Dari hasil ini bisa

dilihat bahwa terdapat resiko terjadi kejadian kardiovaskular lebih tinggi pada pasien dengan

fraksi ejeksi <30 % dibandingkan dengan >30%. Hasil ini didukung oleh penelitian Cardiology

Department Ataturk Turkey yang menyatakan bahwa resiko kematian dan kejadian

kardiovaskular secara signifikan lebih tinggi pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi

<30%.48 Hal ini dikarenakan pada pasien gagal jantung kronik dengan penurunan fraksi ejeksi

terdapat penurunan kontraktilitas miokard dan curah jantung. 53

Berdasarkan kejadian kardiovaskular, pada penelitian ini didapatkan kejadian

kardiovaskular terbanyak yakni rehospitalisasi dengan 6 responden (19.4%), unstable angina 4

responden (12.9%), adapun didapatkan tidak ada responden yang mengami Stroke dan

kematian, sedangkan 21 responden (67.7%) lainnya tidak mengalami kejadian kardiovaskular.

Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan Department of heart disease, Wroclaw

Medical University dimana dari total 243 sampel yang diteliti, didapatkan 54 % sampel

mengalami kejadian kardiovaskular (rehospitalisasi).47 Namun hasil ini bertolak belakang

dengan penelitian Sakir ahslas dkk yang menyatakan bahwa angka kematian secara signifikan

lebih tinggi pada pasien dengan jarak tempuh tes jalan 6 menit <300 m dibanding >300 m,

dimana pada penelitian ini tidak ditemukan adannya kematian pada responden selama periode

follow up.48 Hal ini kemungkinan dikarenakan oleh perbedaan jumlah sampel dan singkatnya

rentang waktu follow up pada responden penelitian.48

Hasil analisa statistik menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Jarak

Tempuh Tes Jalan 6 Menit dengan kejadian kardiovaskular pada pasien Gagal Jantung Kronik

di RSUP. Prof. R. D. Kandou Manado (p=0.252). Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang

dilakukan Wegrznowska dkk yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan

antara jarak tempuh tes jalan 6 menit dengan kejadian kardiovaskular (kematian dan

56
rehospitalisasi) pada pasien GJK.47 Hasil ini juga bertolak belakang dengan penelitian Tarek

Aladeb dkk yang menyatakan jarak tempuh tes jalan 6 menit adalah prediktor kuat terhadap

angka rehospitalisasi jangka panjang pada penderita gagal jantung.56 Tidak adanya hubungan

bermakna dalam penelitian ini kemungkinan di karenakan jumlah sampel yang sedikit, kurun

waktu follow up yang singkat, dan rentang waktu periode penelitian yang singkat dibandingkan

penelitian lain.

Hasil analisa statistik menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara fraksi

ejeksi dengan kejadian kardiovaskular pada pasien Gagal Jantung Kronik di RSUP. Prof. R. D.

Kandou Manado (p=0.012). Hal ini didukung oleh penelitian Cardiology Department Ataturk

Turkey yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara ejeksi fraksi dan

kejadian kardiovaskular (rehospitalisasi dan kematian).48 Terdapatnya hubungan antara fraksi

ejeksi dengan kejadian kardiovaskular dapat terjadi karena keseluruhan responden penelitian

memiliki fraksi ejeksi <40% yang berarti kemampuan pompa jantung sudah menurun dari nilai

normal 65%, dan darah kaya oksigen yang dipompa jantung ke seluruh organ tubuh sudah tidak

dalam jumlah yang maksimal. Ini menyebabkan jantung melakukan mekanisme homeostasis

dengan mengaktifkan sistem saraf simpatis dan Renin angiotensin aldosterone (RAA).

Mekanisme ini dapat mengakibatkan peningkatan volume preload, afterload, sehingga pada

akhirnya dapat menurunkan kontraktilitas dan curah jantung. Hal ini meningkatkan resiko

terjadinya kejadian kardiovaskular pada pasien GJK seperti sudden cardiac death.53, 29.

57
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian mengenai Hubungan jarak tempuh tes jalan 6 menit dan fraksi ejeksi pada

pasien Gagal Jantung Kronik terhadap Kejadian Kardiovaskular di Poliklinik Jantung

RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou Manado periode Novermber-Desember 2015 telah dilaksanakan,

dan dari hasil pembahasan dan penelitian maka dapat disimpulkan:

1. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara Jarak Tempuh Tes Jalan 6 Menit

dengan kejadian Kardiovaskular (p=0.252) dan Terdapat hubungan yang bermakna

antara Fraksi Ejeksi dengan Kejadian Kardiovaskular (p=0,012).

2. Jarak tempuh rata-rata pada pasien gagal jantung kronik yang telah melakukan tes

jalan 6 menit adalah 301.90 ± 80.18 m, dengan klasifikasi jarak tempuh <300 m

sebanyak 54.8% dan >300 m 45.2%.

3. Nilai fraksi ejeksi rata-rata pada pasien gagal jantung kronik adalah 32.83 ± 7.30

%, dengan nilai fraksi ejeksi <30 % sebanyak 22.6% dan >30-40% sebanyak 77.4%.

4. Kejadian kardiovaskular yang terjadi pada pasien gagal jantung kronik setelah 2

bulan periode follow up adalah rehospitalisasi (19.4%), unstable angina (12.9%)

sedangkan yang tidak mengalami kejadian kardiovaskular (67.7%).

58
B. Saran

1. Diharapkan dilakukan lebih banyak tes jalan 6 menit pada semua pasien dengan

penyakit kardiovaskular terutama pasien dengan gagal jantung kronik, untuk menilai

prognosis pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

2. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dilakukan penelitian dengan jumlah sampel

yang lebih besar dan rentang waktu penelitian yang lebih panjang untuk mendapatkan

hasil penelitian yang maksimal dan memuaskan.

3. Diharapkan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih

baik mengenani hubungan tes jalan 6 menit dan fraksi ejeksi terhadap kejadian

kardiovaskular pada pasien gagal jantung kronik di Poliklinik Jantung RSUP. Prof.

R.D. Kandou Manado, mengingat angka kejadian kardiovaskular yang cenderung

meningkat seiring dengan penurunan fraksi ejeksi.

59
DAFTAR PUSTAKA

1. Squire I. Aetiology and epidemiology of chronic heart failure. Dalam: Mark Kearney,

editor. Chronic heart failure. Edisi ke-1. Leeds: oxford cardiology library; 2008. Hal 1-

2. Nasif M. Epidemiology. Dalam: Congestive heart failure and public health. Alahmad A.

2006. Hal 1-2

3. Kervio G, Ville NS, Leclercq C, Daubert JC, Carré F. Examination of the six minute

walk test to determine functional capacity in people with chronic heart failure.

Cardiopulm Phys Ther J. 2010 Mar; 21(1): 13–21.

4. Yasmin Tadjoedin, Ismoyo Suni, Basuni Radi. Disfungsi Autonom pada Pasien Penyakit

Jantung Hipertensi Asimptomatik. J Kardiol Indones. 2008; 29:97-104

5. Kementerian Kesehatan RI. Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dan Data

Penduduk Sasaran. Data Riset Kesehatan Dasar 2013;2-4

6. American Thoracic Society. Background and Interpreting Single Measurements of

Functional Status. Guidelines for the Six-Minute Walk Test. Am J Respir Crit Care Med

Vol 166. PP 111–117, 2002

7. Ghanie A. Gagal jantung kronik. Dalam: Siti setiati, Idrus alwi, Aru sudoyo, Marcellus

Simadibrata, Bambang setiyohadi, Ari fahrial syam. Buku ajar ilmu penyakit dalam.

Edisi ke-6. Jakarta: Interna Publishing; 2014. Hal 1148-153.

8. Richard J, Rodeheffer MD, Margaret M. Dalam: Joseph G Murphy, Margaret A Lloyd.

Mayo clinical cardiology concise text book. Edisi ke-4. New York: Oxford university

press; 2013. Hal 854-60

60
9. Bambang Budi Siswanto, Nani Hersunarti, Erwinanto, Rossana Barack, Rarsari

Soerarso Pratikto, Siti Elkana Nauli, et al. Pedoman tatalaksana gagal jantung.

Perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular Indonesia 2015;1-35

10. Chandra L. editor. Intisari prinsip-prinsip dasar ilmu bedah. Edisi ke-6. Penerbit buku

kedokteran EGC. Jakarta: 2000. Hal 319

11. Eduardo Elias vieira de carvalho, Daniela caetano costa, júlio césar crescêncio, giovani

luiz de santi, valéria papa, fabiana marques, et al. Heart failure: comparison between six-

minute walk test and cardiopulmonary test. Departamento de clínica médica med j

2011;4:5

12. Phibbs B. The human heart: a basic guide to heart disease. Edisi ke-2. Lippincontt

Williams and Wilkins. Philadephia: 2007. Hal 188-9

13. Universitas sumatera utara. Gagal jantung. Definisi gagal jantung kronik. Med J

2008;1:2

14. Chamber J. the effect of left ventricular function on the echocardiographic assessment

of heart valve disease. J heart valve disease 1995;4 Suppl II: 145-53.

15. Demaria AN, Blanchard DG. The echocardiogram. Dalam: Valentine F, alexander RW.

Editors. Hurt’s the heart. Edisi ke-10. New York: Mcgraw-hill; 2001. Hal 395-401

16. Dickstein K, Cohen-Solal A, Filippatos G, et al. ESC Guidelines for the diagnosis and

treatment of acute and chronic heart failure 2008. Eur Heart J 2008; 29:2388–442.

17. McMurray JJ V, Adamopoulos S, Anker SD, et al. ESC Guidelines for the diagnosis and

treatment of acute and chronic heart failure 2012: The Task Force for the Diagnosis and

Treatment of Acute and Chronic Heart Failure 2012 of the European Society of

Cardiology. Developed in collaboration with the Heart. Eur Heart J [Internet] 2013;

32:e1–641 – e61. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22611136

61
18. Sakir A, Mustafa KE, Fuat G, Serdar S, Enbiya A, Huseyin S, et al. Prognostic Value of

6-Minute Walk Test in Stable Outpatients with Heart Failure. Tex Heart Inst J. 2007;

34(2): 166–169.

19. Heinemann A, Raad J. Rehabilitaon measures databases. Rehab measures: 6 minutes

walking test. Chicago;2013

20. D P lipkin, A J scriven, T crake, P A poole-wilson. Six minute walking test for assessing

exercise capacity in Chronicheart failure. British medical journal;1986

21. Abdul Majid. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan rawat inap ulang pasien

Gagal jantung kongestif.Jakarta: [tesis] FKUI:2010;2-3

22. Berisha V, Bajraktari G, Dobra D, Haliti E, Bajrami R, Elezi S. Echocardiography and

6-minute walk test in left ventricular systolic dysfunction. Arq. Bras. Cardiol

J. vol.92 no.2 São Paulo Feb. 2009

23. British heart foundation. Cardiovascular disease. Birmingham: 2014;1-2

24. Mendis, Shanthi Puska, Pekka Norrving, Bo (2011). Global atlas on cardiovascular

disease prevention and control (PDF) (1st edition). Geneva: World Health Organization

in collaboration with the World Heart Federation and the World Stroke Organization.

pp. 3–18.

25. Panggabean MM. gagal jantung. Dalam: sudoyo AW, setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata

M, setiati S, editor: buku ajar penyakit dalam. Edisi ke-5. Jakarta: interna

publishing;2009.hal.1586

26. Chatterjee NA, Fifer MA. Heart failure. Dalam: Lilly LS. Phatophysiology of heart

disease: a collaborative of medical students and faculty. Edisi ke-5. Philadephia,,

Lippincott Williams and wilkins;2011

27. Gray HH, Dawkins KD, Simpson A, Morgan JM. Lecture notes: kardiologi. Edisi ke-4.

Jakarta:penerbit erlangga;2005

62
28. Shocken DD, Benjamin EJ, Fonarrow GC, Krumholz HM, Levy D, Mensah GA, dkk.

Prevention of heart failure. Journal of the American heart association. 2008; 117:2544-

65.

29. Brasher VL. Aplikasi klinis patofisiologi: pemeriksaan dan manajemen. Edisi ke-

2.Jakarta: Buku kedokteran EGC; 2008. Hal 53-4.

30. Hunt SA, Abraham WT, Chin MH, Feldman AM, Francis GS, Ganiants TG, et al.

ACC/AHA 2005 guideline update for the diagnosis and management of chronic heart

failure in the adult. Circulation.2005;122:e154-e235

31. Ester M. Buku saku pemeriksaan laboratorium dan diagnostik dengan implikasi

keperawatan. Edisi ke-2. Penerbit buku kedokteran ECG.Jakarta:1995. Hal 384

32. Gleadle J. At Glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Erlangga.Jakarta:2007.Hal 116.

33. Chatterjee K. Physical examination in heart failure. Dalam: Hosenpud JD, Greenberg

BH. Congestive heart failure. Edisi ke-3. Lippicont Williams and Wilkins. Philadephya:

2006. Hal 566.

34. Hartono A. Terapi gizi dan diet rumah sakit. Edisi ke-2. Penerbit buku kedokteran EGC.

Jakarta: 2006. Hal 157-8.

35. Dickstein K, Cohen-solal A, Fillipatos G, Mcmurray J, ponikowski P, Poole-wilson PA,

et all. The task force for the diagnostic and treatment of acute and chronic heart failure

2008 of European society of cardiology. Eur heart J. 2008;29:2388-2442

36. World Healt Organisation. Cardiovascular disease fact sheet. Geneva: Switzerland; 2014

37. Dominika Zielińska, Jerzy Bellwon, Andrzej Rynkiewicz, Mohamed Amr Elkady.

Prognostic Value of the Six-Minute Walk Test in Heart Failure Patients Undergoing

Cardiac Surgery 2013 of Clinic of Rehabilitation Medical University of Gdańsk,

ul.Dębinki. Cardiology rehabilitation J. 2013;1-5

63
38. Ingram RH, Braunwald E. Dispnea Dan Edema Paru. Dalam: Isselbacher KJ, Braunwald

E, Wilson JD, Martin JB, Fauci AS, Kasper DL, editor. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu

Penyakit Dalam. Volume 1.

39. Hunt S, Abraham T, Chin M et al. 2009 Focused Update Incorporated Into the

ACC/AHA 2005 Guidelines for the Diagnosis and Management of Heart Failure in

Adults: A Report of the American College of Cardioligy Foundation/ American Heart

Association Task Force on Practise Guidelines Developed in Collaboration with the

International Society for Heart and Lung Transplantation. J. Am. Coll. Card. 2009, 53;

hal el-e90.

40. Carbajal E, Deedwania P. Congestive Heart Failure. Crawford M, editor. In Current

Diagnosis and Treatment in Cardiology. McGraw-Hill, second edition, 2003. Hal: 217-

47.

41. American Heart Association. Understand you risk for heart failure. 2015 Jun 01 [cited

2015Sep16].Availablefrom:http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HeartFailur

e/UnderstandYourRiskforHeartFailure/Understand-Your-Risk-for-Heart-

Failure_UCM_002046_Article.jsp

42. Stromberg A, Martensson J. Gender differences in patients with heart failure. Eur J

Cardiovasc Nurs. 2003;2(1):7-18.

43. Stromberg A, Martensson J. Gender differences in patiens with heart failure.

Department of Cardiology. Sweden: Eur J Cardiovasc Nurs: 2003;2(1):7-18.

44. Lloyd-Jones D, Adams RJ, Brown TM, Carnethon M, Dai S, De Simone G, et al. Heart

disease and stroke statistics - 2010 update: a report from the American Heart

Association. Circulation. 2010; 121, e46–e215.

45. Cowie, M.R., Dar, Q., 2008. The Epidemiology and Diagnosis of Heart Failure. In:

Fuster, V., et al., eds. Hurst’s the Heart.12th ed. Volume 1. USA: McGraw-Hill, 713

64
46. Doughty, R.M., White, H.D., 2007. Epidemiology of Heart Failure, University of
Auckland New Zealand. Available from:
http://spinger.com/cda/content/document/cda_downloaddocument/978184801015-
c2.pdf. [Accessed 31 Desember 2015].
47. Kinga WT, Eliza R, Malgorzata L, Katarzyna N, Waldermar B, Piotr P, et al. Distance
covered during a six-minute walk test predicts long-term cardiovascular mortality and
hospitalization rates in man with systolic heart failure. J of Physiotherapy. 2013;177-
86.
48. Sakir A, Mustafa KE, Fuat G, Serdar S, Enbiyi A, Huseyin S, et al. Prognostic value of
6-minute walk test in stable outpatients with heart failure. Tex Heart Inst
J.2007;43(2):166-169.
49. Mary TH, Laura AG, Joshua SR, Kamal M, William G, Thomas M. Risk of Major
Adverse Cardiac Events Following Noncardiac Surgery in Patients With Coronary
Stents. Journal of American Medical Association. 2013;2.
50. World Health organization. Stroke, Cerebrovascular accident. Global status report on
noncommunicable diseases 2014.
51. A Maziar Z, MD. Myocardial Infarction.2015;1.Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/155919-overview (Accessed 5 Januari 2016).
52. Karen AH, James H, Kenneth W, Roxana M, Steven E, Norman LS, et al. Standardized
Definitions for End Point Events in Cardiovascular Trials. CDISC J. 2010;2.
53. Aoronson PI, Ward JP. At a glance sistem kardiovaskular. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2008.
54. University of Maryland Medical Center. Aging changes in the heart and blood vessels.
2015 [dikutip 2016 Januari 2018]. Available from: http://umm.edu/search-
results?&sk=Mobile+Default&ccr=bodycontentph_0%24searchhub%24Mobile_32_D
efault%24ctl00&k=cchd&docid=1%240%2419718.7406%24http%3a%2f%2fumm.ed
u%2fhealth%2fmedical%2fency%2farticles%2faging-changes-in-the-heart-and-blood
vessels&q=The+artery+of+elderly+&wld=True&rdb=False
55. Grace Debby K. Makanan etnik minahasa dan kejadian Penyakit Jantung Koroner.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4; Agustus 2009;42-46
56. Tarek Aladeb, John Stroger, Ibrahim M, Sirikam N, et al. Six minute walk test predicts
Long-term all-cause mortality and hf rehospitalization in African American Heart
Failure patients. American Heart association J.2008;118;11.

65
Lampiran 1

JARAK
PENYAKIT FRAKSI TEMPUH KEJADIAN
NO NAMA JENIS KELAMIN USIA TERDAHULU EJEKSI 6MWT KARDIOVASKULAR
1 CB Laki-Laki 60 PJK,PH 30 342 Rehospitalisasi
2 WK Perempuan 64 PJK 40 253 Tidak ada
3 FM Laki-Laki 55 PJK 24 380 Tidak ada
4 MK Perempuan 70 PJK,PJH 30 263 Tidak ada
5 AO Laki-Laki 70 PJH 39 388 Tidak ada
6 JL Laki-Laki 57 PJK,PJH 22 497 Unstable Angina
7 AT Laki-Laki 40 PJK 39 475 Unstable Angina
8 AK Laki-Laki 70 PJK,PJH 28 370 Tidak ada
9 EK Perempuan 63 PJK,PJH 35 310 Tidak ada
10 AB Laki-Laki 61 PJK 39 439 Tidak ada
11 HP Laki-Laki 69 PJK 40 310 Rehospitalisasi
12 TJ Laki-Laki 51 PJK,PJH 16 324 Rehospitalisasi
13 AP Perempuan 57 PJK,PJH 39 339 Unstable Angina
14 TL Laki-Laki 70 PJK 32 200 Rehospitalisasi
15 MP Laki-Laki 60 PJK,PJH 38 253 Tidak ada
16 TN Laki-Laki 61 PJK 35 213 Tidak ada
17 IMK Laki-Laki 57 PJK 34 284 Tidak ada
18 JS Laki-Laki 61 PJK 34 204 Tidak ada
19 VW Laki-Laki 50 PJK 25 240 Unstable Angina
20 JA Laki-Laki 63 PJK 34 255 Tidak ada
21 MP Perempuan 63 PJK,PJH 40 330 Tidak ada
22 PK Laki-Laki 66 PJK 12 186 Rehospitalisasi
23 VW Laki-Laki 62 PJK 32 252 Tidak ada
24 BL Perempuan 52 PJH 39 266 Tidak ada
25 SN Laki-Laki 54 PJK,PJH 31 389 Tidak ada
26 MM Laki-Laki 70 PJK,PJH 40 320 Tidak ada
27 JP Perempuan 70 PJK 39 209 Tidak ada
28 TP Laki-Laki 57 PJK,PJH 38 280 Tidak ada
29 JS Laki-Laki 50 PJK 38 275 Tidak ada
30 JU Laki-Laki 57 PJK 30 270 Tidak ada
31 JR Laki-Laki 66 PJK,PJH 26 218 Rehospitalisasi

66
Lampiran 2

a. Tabel uji analisis Hubungan Jarak Tempuh 6MWT dengan Kejadian Kardiovaskular

JARAK TEMPUH 6MWT * KEJADIAN KARDIOVASKULAR Crosstabulation

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Rehospitalisasi Unstable Angina Tidak ada

Count 3 1 13 17
<300 % within JARAK
17.6% 5.9% 76.5% 100.0%
TEMPUH 6MWT
JARAK TEMPUH 6MWT
Count 3 3 8 14
>300 % within JARAK
21.4% 21.4% 57.1% 100.0%
TEMPUH 6MWT
Count 6 4 21 31
Total % within JARAK
19.4% 12.9% 67.7% 100.0%
TEMPUH 6MWT

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-


sided)

Pearson Chi-Square 1.918a 2 .252


Likelihood Ratio 1.958 2 .252
N of Valid Cases 31

a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1.81.

b. Tabel uji analisis Hubungan Fraksi Ejeksi dengan Kejadian Kardiovaskular

FRAKSI EJEKSI * KEJADIAN KARDIOVASKULAR Crosstabulation

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Rehospitalisasi Unstable Angina Tidak ada

Count 3 2 2 7
<30
% within FRAKSI EJEKSI 42.9% 28.6% 28.6% 100.0%
FRAKSI EJEKSI
Count 3 2 19 24
>30
% within FRAKSI EJEKSI 12.5% 8.3% 79.2% 100.0%
Count 6 4 21 31
Total
% within FRAKSI EJEKSI 19.4% 12.9% 67.7% 100.0%

67
Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-


sided)

Pearson Chi-Square 6.348a 2 .012


Likelihood Ratio 6.046 2 .014
N of Valid Cases 31

a. 5 cells (83.3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is .90.

c. Tabel uji analisis Baseline Karakteristik pasien Gagal Jantung Kronik.

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

USIA 31 40.00 70.00 60.5161 7.40662


Fraksi_ejeksi 31 12.00 40.00 32.8387 7.30341
Jarak_tempuh_6MWT 31 186.00 497.00 301.0968 80.18369
Valid N (listwise) 31

Jenis Kelamin * Kejadian Kardiovaskular


Crosstab

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Tidak ada Ada


Count 15 9 24
Laki-laki % within JENIS
62.5% 37.5% 100.0%
KELAMIN
JENIS KELAMIN
Count 6 1 7
Perempuan % within JENIS
85.7% 14.3% 100.0%
KELAMIN
Count 21 10 31
Total % within JENIS
67.7% 32.3% 100.0%
KELAMIN

68
Chi-Square Tests

Value Df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 1.336a 1 .248


Continuity Correctionb .485 1 .486
Likelihood Ratio 1.489 1 .222
Fisher's Exact Test .379 .251
N of Valid Cases 31

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.26.
b. Computed only for a 2x2 table

Usia * Kejadian Kardiovaskular


Crosstab

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Tidak ada Ada

Count 0 1 1
40-49
% within USIA 0.0% 100.0% 100.0%

Count 7 4 11
USIA 50-59
% within USIA 63.6% 36.4% 100.0%

Count 14 5 19
60-70
% within USIA 73.7% 26.3% 100.0%
Count 21 10 31
Total
% within USIA 67.7% 32.3% 100.0%

Chi-Square Tests

Value Df Asymp. Sig. (2-


sided)

Pearson Chi-Square 2.492a 2 .288


Likelihood Ratio 2.664 2 .264
N of Valid Cases 31

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is .32.

69
Penyakit Terdahulu * Kejadian Kardiovaskular

Crosstab

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Tidak ada Ada

Count 11 5 16

% within
PJK
PENYAKIT 68.8% 31.2% 100.0%
TERDAHULU

Count 2 0 2

% within
PENYAKIT TERDAHULU PJH
PENYAKIT 100.0% 0.0% 100.0%
TERDAHULU

Count 8 5 13

% within
PJK& PJH
PENYAKIT 61.5% 38.5% 100.0%
TERDAHULU
Count 21 10 31

% within
Total
PENYAKIT 67.7% 32.3% 100.0%
TERDAHULU

Chi-Square Tests

Value Df Asymp. Sig. (2-


sided)

Pearson Chi-Square 1.189a 2 .552


Likelihood Ratio 1.788 2 .409
N of Valid Cases 31

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is .65.

70
Fraksi Ejeksi * Kejadian Kardiovaskular
Crosstab

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Tidak ada Ada

Count 2 5 7
<30
% within FRAKSI EJEKSI 28.6% 71.4% 100.0%
FRAKSI EJEKSI
Count 19 5 24
30-40
% within FRAKSI EJEKSI 79.2% 20.8% 100.0%
Count 21 10 31
Total
% within FRAKSI EJEKSI 67.7% 32.3% 100.0%

Chi-Square Tests

Value Df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 6.348a 1 .012


Continuity Correctionb 4.244 1 .039
Likelihood Ratio 6.046 1 .014
Fisher's Exact Test .022 .022
N of Valid Cases 31

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.26.
b. Computed only for a 2x2 table

71
Jarak Tempuh 6mwt * Kejadian Kardiovaskular

Crosstab

KEJADIAN KARDIOVASKULAR Total

Tidak ada Ada

Count 13 4 17
<300 % within JARAK TEMPUH
76.5% 23.5% 100.0%
JARAK TEMPUH 6MWT
6MWT Count 8 6 14
>300 % within JARAK TEMPUH
57.1% 42.9% 100.0%
6MWT
Count 21 10 31
Total % within JARAK TEMPUH
67.7% 32.3% 100.0%
6MWT

Chi-Square Tests

Value Df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 1.312a 1 .252


Continuity Correctionb .577 1 .447
Likelihood Ratio 1.314 1 .252
Fisher's Exact Test .441 .224
N of Valid Cases 31

Hubungan riwayat pengobatan dengan kejadian kardiovaskular

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

PENGOBATAN * KEJADIAN
31 100.0% 0 0.0% 31 100.0%
KARDIOVASKULAR

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-


sided)

Pearson Chi-Square 5.068a 5 .408


Likelihood Ratio 5.312 5 .379
N of Valid Cases 31

72
D. Tabel data deskriptif pasien Gagal Jantung Kronik.

JENIS KELAMIN

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Laki-laki 24 77.4 77.4 77.4

Valid Perempuan 7 22.6 22.6 100.0

Total 31 100.0 100.0

USIA

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

40-49 1 3.2 3.2 3.2

50-59 11 35.5 35.5 38.7


Valid
60-70 19 61.3 61.3 100.0

Total 31 100.0 100.0

PENYAKIT TERDAHULU

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
PJK 16 51.6 51.6 51.6

PJH 2 6.5 6.5 58.1


Valid
PJK & PJH 13 41.9 41.9 100.0

Total 31 100.0 100.0

FRAKSI EJEKSI

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

<30 7 22.6 22.6 22.6

Valid >30 24 77.4 77.4 100.0

Total 31 100.0 100.0

73
JARAK TEMPUH 6MWT

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

<300 17 54.8 54.8 54.8

Valid >300 14 45.2 45.2 100.0

Total 31 100.0 100.0

KEJADIAN KARDIOVASKULAR

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Rehospitalisasi 6 19.4 19.4 19.4

Unstable Angina 4 12.9 12.9 32.3


Valid
Tidak ada 21 67.7 67.7 100.0

Total 31 100.0 100.0

74
75
76
77
LEMBAR PENGISIAN TES BERJALAN SELAMA 6 MENIT

Hari/tanggal: _________________________________________________________
Nomor: _____________________________________________________________
Nama: _____________________________________________________________
Umur: _____________________________________________________________
Jenis kelamin: _______________________________________________________
Tinggi badan: _____________Cm
Berat badan: _____________Kg
Tekanan darah: Sebelum: _______mmHg; Sesudah_______mmHg
Obat-obatan yang dikonsumsi sebelum melakukan tes: _______________________
Seplemen oksigen dalam penyelesaian tes: □ NO □Yes □Flow □Liter/menit
Waktu penyelesaian tes: __________menit
Heart rate: Sebelum: _________x/menit; Sesudah: ___________x/menit
Saturasi oksigen: Sebelum: _________%; Sesudah: __________%
Fatique (borg cale): ________________________
Dyspnea (borg scale): ______________________
Berhenti atau istirahat sebelum 6 menit: □ NO □Yes □angina, nyeri, pusing, nyeri pinggul,
lutut/kaki
Gejala lain pada akhir tes: ______________________________________________
Jumlah putaran: ______________________________________________________
Jarak putaran akhir: ___________________________________________________
Total jarak yang ditempuh dalam 6 menit: _________________________________
Predikat jarak: _______________________________________________________
Predikat jarak dalam persen (%): ________________________________________

Pengisian oleh

………………………

78
KUESIONER

DATA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK DI POLI JANTUNG

RSUP PROF. R. D. KANDOU MANADO

I. IDENTITAS

Nama : ……………………………………………………………………

Tgl Lahir : ……………………………………………………………………

Umur : ……………………………………………………………………

Jenis Kelamin : ……………………………………………………………………

Pekerjaan : ……………………………………………………………………

Alamat : …………………………………………………………………....

…………………………………………………………………....

No. HP : ……………………………………………………………………

Status : …………………………………………………………………...

Pendidikan : ……………………………………………………………………

Agama : ……………………………………………………………………

Suku : ……………………………………………………………………

II. DATA UMUM

BB : ……………………………………………………………………

TB : ……………………………………………………………………

IMT : ……………………………………………………………………

Penyakit Terdahulu

 Infark Miokard Akut (IMA)


 Penyakit Jantung Koroner (PJK)
 Penyakit jantung hipertensi
 Dll

79
FRPJK
 Hipertensi
 DM
 Dislipidemia
 Merokok
 Asam urat
 Menopause dini
 FH

III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

- Hb : ………… - Ca : …………
- Ht : ………… - Cl : …………
- Na : ………… - Mg : …………
- K : ………… - BNP : …………
- SGOT : ………… - SGPT : …………
- Pemeriksaan Darah Lengkap
 Hb : …………
 Ht : …………
 Leukosit : …………
 Trombosit : …………

- Kadar Kolesterol
 Hl : …………
 HDL : …………
 LDL : …………
 Triglid : …………

IV. EKG

- SR : …………
- AF : …………
- AFlut : …………
- SA : …………
- SB : …………
- QRS Rate :
- ST : ST  / ST  / N
(lingkar salah satu)
- T : T  / Tflat / N
80
(lingkar salah satu)
- LVH :+/-
- Q patologis di: …………

V. RONTGEN

- CTR : ………….%

- Kranialisasi : + / -

VI. ECHO

- LA dimensi : …………
- LV dimensi : …………
- LVEF : …………%
 PSLA : …………
 PSSA : …………

- TAPSE : …………

VII. Tes jalan 6 menit/ 6 Minutes walking tes

 Jarak tempuh total 6MWT : .....................


 Berhenti atau istirahat sebelum 6 menit: □ NO □Yes □angina, nyeri, pusing, nyeri
pinggul, lutut/kaki

81
INFORMED CONSENT

JUDUL PENELITIAN

“HUBUNGAN JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN FRAKSI EJEKSI


PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK TERHADAP KEJADIAN
KARDIOVASKULAR”

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : .................................................................................

Jenis Kelamin :L/P

Usia : ................. Tahun

Alamat : ..................................................................................

Dengan sesungguhnya dan sejujurnya, telah berdiskusi, tanya jawab atas informasi penelitian
yang akan dilakukan, maka saya telah memberikan :

PERSETUJUAN

Untuk menjadi responden penelitian yaitu bersedia mengikuti tes jalan 6 menit dan
pemeriksaan ekokardiografi sebagai bagian dari penelitian. Apabila terjadi keadaan yang
memerlukan pembiayaan maka biaya tersebut akan ditanggung peneliti.

Pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar, tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun.

Manado............................

Responden, Saksi Keluarga

(.......................................) (.......................................)

Mengetahui,

Peneliti

(Agung.D.Harikatang)

82
RIWAYAT HIDUP

Nama : Agung Damai Harikatang

Tempat/Tanggal Lahir : Manado, 19 September 1995

Alamat : Krida Malalayang

Nama Orang Tua :

a. Ayah : Drs. Ziefried Harikatang, ME

b. Ibu : Dra. Kartini Masihor

Anak : Pertama dari dua bersaudara

Adik : Irene Christin Harikatang

RIWAYAT PENDIDIKAN

1. Tamat TK Kodrat Bungalawang Tahun 2001

2. Tamat SDN Inpres Bungalawang Tahun 2006

3. Tamat SMP Negeri 1 Tahuna Tahun 2009

4. Tamat SMA Manado International School Tahun 2012

5. Diterima sebagai Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Tahun 2012 melalui program Jalur Undangan dengan NRI 120 111 023

6. Mengikuti Kuliah Kerja Nyata Terpadu Universitas Sam Ratulangi Manado angkatan

110, Posko 47 Desa Koha Timur Mandolang Kabupaten Minahasa, Tahun 2015.

83

You might also like