Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1of 15

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BAHAYA

KEBAKARAN DI KOTA SEMARANG

Oleh:
Frisca Windia Harera, Drs. Zainal Hidayat, M.A.

Departemen Ilmu Administrasi Publik


Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Jalan Profesor Haji Soedarto, Sarjana Hukum Tembalang Semarang Kotak Pos
1269
Telepon (024) 7465407 Faksimile (024) 7465405
Laman : http://www.fisip.undip.ac.id email fisip@undip.ac.id

ABSTRACT

The implementation of the policies of fire hazard countermeasures in Semarang city


is one of the regulation made by the Government as prevention of Semarang area
and tackling a fire hazar because of it is increasing and loss either materially or
casualties inflicted. The role of Government in Fire Department of Semarang and
the community is very important to resolve the issue. The regional government
demanded ,Semarang was able to complete the problems related to prevention and
tackling the fire which occurred in accordance by applaying the local policy
number 2 Year 1994 about Countermeasures with fire rescue by seeing some
aspects namely surveillance, security , the availability of facilities and
infrastructure, as well as the suitability of the procedures. This research is a
descriptive qualitative research with informants staff on duty fire department of
Semarang and self-described community is prone to fire rescue. This research aims
to analyze the process of implementation of the policy and the factors that inhibit.
The theory used in this study is George Edward III, who said that the factors of
restricting implementation are disposition or attitude, communication, resources,
and bureaucratic structure. The results of the research show that in the
implementation of policies for tackling the fire in Semarang was still hampered by
weak supervision, lack of human resources, financial resources or facilities, lack
of awareness, lack of socialization. So it can be concluded that the implementation
of policies for tackling the fire rescue in Semarang city have not been running well
and optimally.

Keywords: Implementation, Prevention of Fire, Supervision, Resource,

People Awareness, Dissemination

1
PENDAHULUAN kebakaran yang paling banyak terjadi
pada tahun 2015 dengan 399 kejadian
A. Latar Belakang
kebakaran. Sedangkan frekuensi
kejadian kebakaran yang paling
Kota Semarang sebagai ibukota dari
sedikit yaitu pada tahun 2016 dengan
Provinsi Jawa Tengah tidak terlepas
jumlah 162 kejadian kebakaran.
dari permasalahan tingkat
Kebakaran banyak terjadi pada
pertumbuhan penduduk yang tinggi.
daerah-daerah rawan kebakaran,
Berdasarkan data yang diperoleh dari
khususnya pada pemukiman padat
Buku Induk Kode dan Data Wilayah
penduduk atau kita lebih sering
Tahun 2013 oleh Kementrian Dalam
menyebutnya kawasan kumuh atau
Negeri, Kota Semarang merupakan
pemukiman kumuh. Penyebab
salah satu kota besar yang terdapat di
kebakaran berasal dari korsleting
wilayah Negara Indonesia dengan
listrik, rokok, kompor gas dan lain-
jumlah penduduk sebesar 1.488.035
lain, dimana pemasalahan korsleting
jiwa dan luas wilayah sebesar 373,59
listrik adalah penyebab kebakaran
km2. Semarang merupakan Ibu Kota
tertinggi.
Jawa Tengah yang memiliki potensi
risiko rawan bencana kebakaran
Peraturan Daerah Kota
dengan tingkat yang relatif tinggi.
Semarang No. 2 Tahun 1994 tentang
Aktivitas yang terdapat di wilayah
penanggulangan bahaya kebakaran
Kota Semarang pada dasarnya tidak
memberikan dukungan dalam
selalu beriringan dengan kesadaran
kegiatan pencegahan kebakaran yang
dari masyarakat akan pentingnya
selama ini terabaikan. Dengan
keamanan dan keselamatan dari
ketentuan perda tersebut, maka
ancaman bahaya kebakaran.
pemerintah dan segenap elemen
masyarakat perlu menerapkan,
Berdasarkan data yang
melaksanakan dan memiliki tanggung
diperoleh dari laporan dinas
jawab untuk mencegah terjadinya
pemadam kebakaran tahun 2016,
bahaya kebakaran atau setidaknya
kejadian kebakaran di Kota Semarang
sedikit dapat mengurangi resiko yang
selama 3 tahun terakhir peristiwa

2
ditimbulkan akibat kebakaran. pencegahan dan penanggulangan
Setelah melihat berbagai faktor yang kebakaran yang meliputi pencegahan,
menyebabkan terjadinya kebakaran pembinaan, penyuluhan, dan
tersebut, maka kegiatan pencegahan pengendalian operasional yang
sebaiknya didukung oleh seluruh mengacu pada program-program
lapisan masyarakat terutama yang sudah ditetapkan dalam perda
pemerintah yang berperan besar No. 2 Tahun 1994 tersebut.
dalam merancang dan melahirkan Sebagaimana yang telah disampaikan
kebijakan publik yang menjamin dan dari data hasil pra survey yang
melindungi masyarakat dari bahaya diperoleh di atas, di kota Semarang
kebakaran. beberapa permasalahan-
permasalahan yang mengakibatkan
Bentuk keseriusan pemerintah setiap tahun bencana kebakaran selalu
terhadap berbagai kasus kebakaran terjadi seakan-akan menggambarkan
sudah terlihat berdasarkan ketentuan tujuan kebijakan belum dapat
Pasal 2 Peraturan Daerah No. 2 Tahun dipahami oleh masyarakat serta
1994 mengenai pencegahan umum belum memenuhi standar yang
disebutkan bahwa setiap penduduk ditetapkan oleh Perda No. 2 Tahun
wajib aktif berusaha mencegah 1994.
kebakaran baik untuk kepentingan
sendiri maupun untuk kepentingan Dalam pelaksanaan kebijakan
umum. Salah satu lembaga guna penanggulangan bahaya kebakaran di
menanggulangi tindak kebakaran Kota Semarang diharapkan jumlah
yang dibentuk pemerintah yaitu Dinas kejadian kebakaran dapat menurun.
Pemadam Kebakaran (DisDamKar) Pemukiman kumuh padat penduduk
Kota Semarang. Dinas Pemadam yang rawan terjadi kebakaran dapat
Kebakaran (DisDamKar) Kota diatur dan ditertibkan guna
Semarang sebagai implementor mendukung tercapainya pelaksanaan
merupakan lembaga yang memiliki kebijakan penanggulangan bahaya
tugas pokok melaksanakan sebagian kebakaran sesuai dengan Peraturan
kewenangan daerah dalam bidang

3
Daerah Kota Semarang Nomor 2 kebakaran di Kota Semarang
Tahun 1994. dalam mencegah kebakaran.
2. Untuk menganalisis faktor
Berdasarkan latar belakang
penghambat dari implementasi
dan permasalahan yang ada dalam
kebijakan penanggulangan bahaya
pelaksanaan program tersebut peneliti
kebakaran di Kota Semarang
melakukan penelitian tentang
dalam mencegah kebakaran.
“Implementasi Kebijakan
D. Kerangka Pemikiran Teoritis
Penanggulangan Bahaya
1. Administrasi Publik
Kebakaran di Kota Semarang”.
Administrasi publik menurut
Chandler dan Plano dalam Keban
B. Perumusan Masalah
(2008:4) adalah proses dimana
Berdasarkan uraian latar belakang di
sumber daya dan personil publik
atas, maka rumusan masalah dalam
diorganisir dan dikoordinasikan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
untuk memformulasikan,
1. Bagaimana implementasi
mengimplementasikan, dan
kebijakan penanggulangan
mengelola keputusan-keputusan
bahaya kebakaran di Kota
dalam kebijakan publik, sedangkan
Semarang dalam mencegah
menurut Keban sendiri menyatakan
kebakaran ?
bahwa istilah Administrasi publik
2. Apa saja faktor penghambat dari
menunjukkan bahwa bagaimana
implementasi kebijakan
berperan sebagai agen tunggal yang
penanggulangan bahaya
berkuasa atau sebagai regulator yang
kebakaran di Kota Semarang
aktif dalam mengambil sebuah
dalam mencegah kebakaran ?
langkah.
C. Tujuan Penelitian
2. Kebijakan Publik
Tujuan penelitian ini adalah sebagai James E. Anderson dalam
berikut : (Surbasono, 2013:2) mendefinisikan
1. Untuk mengetahui implementasi kebijakan publik sebagai kebijakan
kebijakan penanggulangan bahaya yang ditetapkan oleh badan-badan
dan aparat pemerintah. Sementara

4
menurut Thomas Dye dalam pemerintah maupun para pihak yang
(Surbasono, 2013:2) adalah apapun telah di tentukan dalam kebijakan
pilihan pemerintah untuk melakukan (Dwiyanto Indiahono, 2009: 143).
atau tidak melakukan (public policy is 4. Model Implementasi George C.
whatever governments choose to do Edward III
or not to do). Konsep tersebut sangat Menurut George C. Edward III dalam
luas karena kebijakan publik Agustino (2008:150-154) dan
mencakup sesuatu yang tidak Widodo (2009:96-110) ada empat
dilakukan pemerintah disamping variabel yang sangat menentukan
yang dilakukan oleh pemerintah keberhasilan implementasi suatu
ketika pemerintah menghadapi suatu kebijakan, yakni :
masalah publik. Definisi kebijakan a. Komunikasi
publik dari Thomas R. Dye tersebut Diperlukan komunikasi yang efektif
mengandung makna bahwa antara pelaksana program kebijakan
kebijakan publik tersebut dibuat oleh dengan kelompok sasaran. Tujuan
badan pemerintah, bukan organisasi dan sasaran harus dikomunikasikan
swasta dan kebijakan publik dengan baik, sehingga menghindari
menyangkut pilihan yang harus distorsi atas kebijakan dan program.
dilakukan atau tidak dilakukan oleh b. Sumber daya
pemerintah. Keberhasilan implementasi kebijakan
3. Implementasi Kebijakan Publik tergantung dari kemampuan dalam
Winarno (2004:64) menjelaskan memanfaatkan sumber daya yang
bahwa implementasi kebijakan tersedia ( Manusia, Informasi,
merupakan suatu tahap yang Fasilitas, Anggaran ).
dikerjakan setelah undang-undang c. Disposisi atau Sikap
ditetapkan dan dana disediakan untuk Setiap kebijakan dipengaruhi oleh
membiayai implementasi tersebut. watak atau karakteristik yang
Implementasi kebijakan menunjukan menempel erat pada implementor
aktivitas menjalankan kebijakan kebijakan atau program. Karakter
dalam ranah senyatanya, baik yang yang harus dimiliki adalah kejujuran,
dilakukan oleh organisasi komitmen, dan demokratis.

5
d. Struktur Birokrasi dokumentasi. Teknik pemilihan
Struktur birokrasi yang ringkas dan informan yang digunakan adalah
fleksibel akan memberi kontribusi teknik purposive sampling.
dalam memberikan kemudahan dalam Sementara analisis data dilakukan
melakukan kerjasama dan koordinasi dengan metode analisis Miles dan
dalam proses implementasi suatu Huberman yang langkahnya terdiri
kebijakan. Hal tersebut dibagi dari reduksi data, penyajian data dan
menjadi dua indikator yaitu Standart penarikan kesimpulan (Sugiyono,
Operating Procedure (SOP) dan 2009: 246).
fragmentasi.
HASIL PENELITIAN DAN
4. Penanggulangan dan
Pencegahan Bahaya Bencana PEMBAHASAN
Kebakaran
A. Implementasi Kebijakan
Penanggulangan kebakaran adalah
Penanggulangan Bahaya
segala upaya untuk mencegah
timbulnya kebakaran dengan berbagai Kebakaran di Kota Semarang
upaya pengendalian untuk
Implementasi kebijakan
memberantas kebakaran ( Dinas
penanggulangan dan pencegahan
Pemadam Kebakaran, 2002).
bahaya kebakaran di Kota Semarang
Sedangkan pencegahan kebakaran,
belum berjalan dengan baik sesuai
yaitu semua tindakan yang
dengan Peraturan Daerah Kota
berhubungan dengan pencegahan,
Semarang Nomor 2 Tahun 1994
pengamatan dan pemadaman
tentang Penanggulangan Bahaya
kebakaran (Suma’mur, 1996).
Kebakaran. Hal tersebut dapat dilihat
melalui aspek-aspek, sebagai berikut :
METODE PENELITIAN
1. Pengawasan
Penelitian ini menggunakan desain
Cara-cara yang benar tentang
penelitian kualitatif deskripstif yang
pengawasan terhadap kondisi
dilakukan dengan teknik
peralatan masak, peralatan elektronik,
pengumpulan data melalui
cara penyimpanan bahan kimia, dan
wawancara, observasi dan
pengelasan tidak dilaksanakan oleh

6
masyarakat. Pada kenyataannya menimbulkan bahaya kebakaran.
masih ditemukan pelanggaran- Kelalaian tersebut diakibatkan karena
pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat dan Dinas Pemadam
masyarakat yang dapat menimbulkan Kebakaran Kota Semarang tidak
bahaya kebakaran terutama pada melakukan tindakan keamanan dalam
banyak instalasi gas yang tidak sesuai implementasi pencegahan bahaya
dengan standart, ditemukan selang kebakaran. Hal ini juga disebabkan
regulator yang sudah aus yang rawan karena kurangnya kesadaran
terjadi kebocoran gas, menempatkan masyarakat akan bahaya kebakaran.
gas terlalu dekat dengan sumber api, 3. Ketersediaan sarana dan prasarana
dan steker ganda. Dinas Pemadam Ketersediaan sarana dan prasarana
Kebakaran Kota Semarang dalam terhadap bahaya kebakaran
melakukan pengawasan tidak merupakan salah satu persyaratan
mengecek langsung ke lapangan yang harus dipenuhi oleh Dinas
sehingga kebakaran masih juga Pemadam Kebakaran beserta
terjadi. Hal ini juga disebabkan masyarakat agar terhindar dari bahaya
karena kurangnya kesadaran kebakaran. Tetapi Dinas Pemadam
masyarakat akan bahaya kebakaran. Kebakaran Kota Semarang dan
2. Keamanan masyarakat telah melakukan kelalaian
Ditemukan kelalaian tentang dan kekurangan dalam menyiapkan
keamanan pada masyarakat yaitu dan menyediakan sarana dan
pemasangan instalasi listrik, instalasi prasarana yaitu tempat pembuangan
gas yang salah, merokok dan dan pembakaran sampah yang salah
membuang putung rokok di tidak pada tempatnya, tempat
sembarang tempat yang dilakukan pembuangan dan penyimpanan bahan
oleh masyarakat. Kelalaian tersebut kimia yang sembarangan, kurangnya
meliputi pemasangan instalasi gas peralatan pemadam kebakaran,
dan listrik yang tidak sesuai dengan pendidikan dan pelatihan petugas
standart, colokan ganda, dan merokok pemadam kebakaran belum terpenuhi
di dekat sumber api. Pelanggaran guna meningkatkan ketrampilan
keamanan tersebut dapat petugas pemadam kebakaran,

7
komunikasi dan informasi serta Faktor-faktor yang menghambat
edukasi yaitu kurangnya penyuluhan adanya pelaksanaan Peraturan Daerah
tentang mencegah dan Kota Semarang No. 2 Tahun 1994
menanggulangi kebakaran kepada tersebut yang penulis uraikan sebagai
masyarakat. berikut :
4. Kesesuaian prosedur Lemahnya pengawasan
SOP sebagai pedoman yang merupakan bentuk sikap dari
menjelaskan prosedur pelaksanan pelaksana kebijakan, maka lemahnya
kegiatan operasi penanggulangan pengawasan adalah bentuk dari
bahaya kebakaran atau acuan dalam disposisi. Dengan demikian, menurut
melaksanakan tugas pekerjaan sesuai Edward III dalam Winarno
dengan fungsi dan alat penilaian (2005:142-143) mengemukakan
kinerja berdasarkan indikator- “kecenderungan-kecenderungan atau
indikator teknis, administratif dan disposisi merupakan salah-satu faktor
prosedural sesuai dengan tatakerja, yang mempunyai konsekuensi
prosedur kerja dan sistem kerja pada penting bagi implementasi kebijakan
unit kerja yang bersangkutan. yang efektif”. Jika para pelaksana
Untuk mempermudah mempunyai kecenderungan atau
penanggulangan kebakaraan, Dinas sikap positif atau adanya dukungan
Pemadam Kebakaran Semarang telah terhadap implementasi kebijakan
menyiapkan dan melaksanakan maka terdapat kemungkinan yang
Prosedur penanganan kebakaran besar implementasi kebijakan akan
Standar Operating Procedure (SOP) terlaksana sesuai dengan baik.
Pemadaman Kebakaran. Dengan kata lain, jika pengawasan
dilakukan dengan baik maka
B. Faktor Penghambat dalam
kebijakan akan berjalan dengan baik.
Implementasi Penanggulangan Dalam hal lemahnya pengawasan
terhadap kebijakan penanggulangan
Bahaya Kebakaran di Kota
bahaya kebakaran sesuai dengan teori
Semarang
George Edward III yang menjelaskan
faktor disposisi atau sikap sebagai

8
pengaruh dalam implementasi suatu akuratnya penyampaian ketentuan-
kebijakan. Masalah kebakaran sudah ketentuan atau aturan-aturan tersebut,
sering terjadi sehingga meninggalkan jika para pelaksana kebijakan yang
dampak kerusakan yang besar. Untuk bertanggung jawab untuk
itu, warga menuntut keseriusan melaksanakan kebijakan kurang
pemerintah daerah mengatasinya. mempunyai sumber-sumber daya,
Tindakan pembiaran akan maka implementasi kebijakan
menimbulkan ekspresi kekecewaan tersebut tidak akan efektif. Sumber
mendalam masyarakat atas kinerja daya ini mencakup sumber daya
pemerintah daerah. Hal tersebut manusia, anggaran, fasilitas, dan
terlihat dari masih banyaknya informasi. Kendala yang ada pada
pelanggaran-pelanggaran yang aspek sumber daya manusia dalam
dilakukan oleh sebagian masyarakat pelaksanaan pencegahan kebakaran
dalam hal ini pedagang yang rentan yang dilakukan Damkar Kota
kebakaran. Lemahnya pengawasan Semarang masih ditemukan kendala
yang dilakukan oleh aparat yaitu belum adanya rekrutmen
pemerintah Kota Semarang dalam hal pegawai baru sehingga masih belum
ini Dinas Damkar Semarang, maka sesuai dengan harapan dan belum
implementasi penanggulangan tercapai secara maksimal. Sumber
bahaya kebakaran di Kota Semarang daya fasilitas yaitu faktor yang
tidak berjalan dengan optimal sesuai mempengaruhi pelaksanaan tugas
dengan kebijakan atau peraturan yang Dinas Pemadam Kebakaran dengan
telah dibuat. keterbatasan dan kurangnya sarana
Kurangnya sumber daya. dan prasarana tersebut menjadi
Sumber daya memiliki peranan hambatan bagi Dinas Pemadam
penting dalam implementasi Kebakaran Kota Semarang sehingga
kebijakan. Edward III dalam Widodo implementasi penanggulangan
(2011:98) mengemukakan bahwa bahaya kebakaran di Kota Semarang
bagaimanapun jelas dan tidak berjalan sesuai dengan harapan
konsistensinya ketentuan-ketentuan masyarakat. Sumber daya finansial
dan aturan-aturan serta bagaimanapun merupakan faktor yang tidak dapat

9
dihindari dalam mendukung yaitu tidak memiliki kesadaran atau
implementasi kebijakan. Setiap kepedulian terhadap penanggulangan
kegiatan tentu memerlukan anggaran kebakaran. Akibat dari kurangnya
untuk mendukung kebijakan atau kesadaran masyarakat, maka
program. Namun, kenyataannya implementasi penanggulangan
implementasi penanggulangan bahaya kebakaran di Kota Semarang
bahaya kebakaran di Kota Semarang tidak berjalan dengan maksimal.
terkendala oleh masalah dana yang Kurangnya sosialisasi
terbatas yang diberikan oleh merupakan bentuk dari komunikasi
Pemerintah Kota Semarang melalui yang kurang berhasil. Faktor
dana APBD. Hal ini karena alokasi kurangnya sosialisasi ini sesuai
dana dari pemerintah untuk dengan teori George C. Edward III,
pengadaan sarana dan prasarana pada menurut Edward III dalam Widodo
kenyataannya masih kurang dan tidak (2011 :98) mengemukakan
dapat memenuhi seluruh kebutuhan di komunikasi merupakan salah satu
Dinas Pemadam Kebakaran variabel penting yang mempengaruhi
Semarang. implementasi kebijakan publik,
Kurangnya kesadaran komunikasi sangat menentukan
masyarakat merupakan faktor keberhasilan pencapaian tujuan dari
penghambat yang ditemukan di implementasi kebijakan publik.
lapangan tidak sesuai dengan teori Pemahaman terkait pelaksanaan
Edward III karena setiap kebijakan peraturan daerah Kota Semarang No.
yang dibuat oleh pemerintah 2 Tahun 1994 tentang
tergantung pada lingkungan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran,
kebudayaan/kebiasaan yang berbeda- dalam kenyataan yang terjadi di
beda untuk dapat diterapkan pada lapangan, Pemerintah Kota Semarang
masyarakat. Upaya pencegahan melalui Dinas Pemadam Kebakaran
bahaya kebakaran yang dilakukan Kota Semarang kurang
oleh Dinas Pemadam Kebakaran mensosialisasikan aturan tersebut.
Semarang ini menemui Para petugas pemadam kebakaran
hambatan/kendala dari masyarakat baru akan mensosialisasikan

10
Peraturan Daerah tersebut apabila dengan kebijakan yang telah dibuat.
sudah ada masyarakat yang Adapun kesesuaian prosedur
melakukan kegiatan atau aktivitas pencegahan dan penanggulangan
yang tidak boleh dilakukan karena bahaya kebakaran sudah dilaksanakan
bisa memicu kebakaran. Komunikasi sesuai dengan SOP. Terdapat
yang berupa sosialiasi tentang beberapa faktor yang menghambat
pencegahan dan penanggulangan implementasi kebijakan
bahaya kebakaran kepada masyarakat penanggulangam bahaya kebakaran
masih sangat minim. Akibat yaitu lemahnya pengawasan,
kurangnya sosialisasi pada kurangnya sumber daya, kurangnya
masyarakat, maka Peraturan Daerah kesadaran masyarakat, dan kurangnya
Kota Semarang No. 2 Tahun 1994 sosialisasi.
tentang penanggulangan bahaya
kebakaran belum berjalan dengan B. Rekomendasi
baik.
1. Pemerintah Kota Semarang
khususnya Dinas Pemadam
PENUTUP
Kebakaran Kota Semarang dapat
A. Kesimpulan meningkatkan dan melaksanakan
Dinas Pemadam Kebakaran Kota pengawasan secara rutin dengan
Semarang dan masyarakat dalam frekuensi waktu minimal 1 bulan
mencegah dan menanggulangi bahaya sekali terhadap kondisi-kondisi
kebakaran berdasarkan Peraturan peralatan dan bahan-bahan yang
Daerah Kota Semarang Nomor 2 rentan kebakaran dengan cara
Tahun 1994 tentang Penanggulangan mengecek kondisi-kondisi tersebut di
Bahaya Kebakaran memiliki 4 aspek masyarakat terutama masyarakat
yaitu aspek pengawasan, keamanan, yang rentan terhadap kebakaran
ketersediaan sarana dan prasarana, seperti penjual gas, toko bahan kimia,
dan kesesuaian prosedur. Dalam bengkel las, dan sebagainya.
pelaksanaannya masih ditemukan 2. Sumber daya terkait dengan
kondisi-kondisi yang rentan terjadi sumber daya manusia agar dapat
kebakaran dan tidak berjalan sesuai ditingkatkan secara kuantitas dan

11
kualitas dengan cara open recruitment Umum Kota Semarang, Dinas Tata
pegawai secara ketat sesuai dengan Kota dan Perumahan Kota Semarang,
latar belakang pendidikan dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol
kesehatan fisik agar pada proses PP) Kota Semarang, Dinas
pelaksanaan kebijakan Perhubungan dan pihak kepolisian
penanggulangan bahaya kebakaran Kota Semarang, Lembaga Swadaya
dapat maksimal. Masyarakat yang berupa forum peduli
3. Meningkatkan fasilitas sarana dan kebakaran di Kota Semarang, dan
prasarana dengan menambah instansi-instansi terkait lainnya,
perlengkapan penyelenggaraan Kecamatan dan Kelurahan dengan
penanggulangan bencana kebakaran berbagai pihak swasta guna
sesuai dengan kebutuhan. mendukung pelaksanaan kebijakan
4. Pemerintah harus menyediakan dan penanggulangan dan pencegahan
menambah anggaran untuk bahaya kebakaran di Kota Semarang
memenuhi kebutuhan baik sarana dan sesuai dengan apa yang sedang
prasarana serta kebutuhan lain guna dibutuhkan oleh masyarakat dalam
mendukung pencegahan bahaya sistem proteksi kebakaran.
kebakaran yang dilakukan oleh Dinas
DAFTAR PUSTAKA
Pemadam Kebakaran Kota Semarang.
5. Meningkatkan partisipasi Sumber Buku :
masyarakat di semua kalangan agar Agustino, Leo. 2012. Dasar-dasar
kebijakan publik. Bandung:
ikut berperan aktif dalam pelaksanaan
Alpabeta.
kebijakan penanggulangan bahaya
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
kebakaran yang dilakukan oleh Dinas
Penelitian ( edisi revisi: Suatu
Pemadam Kebakaran Kota Semarang Pendekatan Praktek. Jakarta :
Penerbit Rineka Cipta
dengan mengadakan pelatihan-
pelatihan dan keterampilan terkait Dunn, William N. 1998. Pengcntar
Analisis Kebijakan Publik,
pencegahan bahaya kebakaran.
Edisi II. Penyunting Muhadjir
6. Meningkatkan kerja sama antar Darwin. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Dinas Pemadam Kebakaran dengan
instansi lain yaitu Dinas Pekerjaan

12
Edwards III, George C_ 1980. Moleong J. Lexy. Metodologi
Implementing Public Policy. Penelitian Kualitatif (edisi
Washington: Congressional revisi). 2007. Bandung: PT.
Quarterly Inc. Remaja Rosdakarya

Grindle, Merilee., 1980., "Polities Mulles, Mathew B & A. Mi chael


and Policy Implementation In Huberman. 1992. Qualitative
The Third World..., New Data Analysis. Sage
Jersey: Princestown University Publications Inc.
Press
Nugroho. D, Riant. 2009, Kebijakan
Indiahono, Dwiyanto. 2009. Publik Formulasi,
Kebijakan Publik: Berbasis Implementasi Dan Evaluasi ,
Dynamic Policy Analisys. PT. Al ex Medi a Komputi do
Yogyakarta: Gava Media. Kelompok Gramedia, Jakarta.

Irfan, Muhammad. 2002. Prinsip- ________, 2014. Public Policy.


Prinsip Perumusan Jakarta: PT. Elex Media
Kebijaksanaan. Rajawali Press. Komputindo
Jakarta.
Pasolong Harbani. 2013. Teori
Jones, Charles O. 1984. Pengantar Administrasi Publik. Bandung:
Kebijakan Publik (terjemahan) Alfabeta.
Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada. Prastowo Andi. Metode Penelitian
Kualitatif dalam Prespektif
Keban, Yeremias T. 2008. Enam Rancangan Penelitian. 2012.
Dimensi Stategis Administrasi Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
Publik Konsep, Teori, dan Isu.
Yogyakarta: Gava Media. Purnomo, Hadi dan Ronny
Sugiantoro. Manajemen
Kusumanegara, Solahuddin. 2010. Bencana Respon dan Tindakan
Model dan Aktor dalam Proses terhadap Bencana. 2010.
Kebijakan Publik. Yogyakarta: Yogyakarta: MedPress
Gava Media.
Ramli, Soehatman. 2010.
Kusumasari, Bevaola. 2014. Manajemen Kebakaran. PT.
Manajemen Bencana dan Dian Rakyat. Jakarta
Kapabilitas Pemerintah Lokal.
Yogyakarta: Gava Media. Subarsono, AG. Analisis Kebijakan
Publik: Konsep, Teori, dan
Mazmanian, D. A. & Paul. A. Aplikasi. 2013. Yogyakarta:
Sabatier. 1983. Implementation Pustaka Pelajar.
and Public Policy. London:
Scott, Forestnan and Company. Sugiharto, R, Nurjanah, Dede
Kuswanda, Siswanto BP dan

13
Adikoesoemo. 2013. Keffen Hutria (2013) “Implementasi
Manajemen Bencana. Program Nasional
Bandung: Alfabeta. Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri Perdesaan Kecamatan
Sugiyono, Metode Penelitian Bayang Kabupaten Pesisir
Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Selatan Sumatera Barat” Stia
2009. Bandung: Alfabeta lan Bandung 10(3): 453-47

Suma’mur PK, 1996. Keselamatan


Kerja dan Pencegahan Priliana Yohana, Mindarti Lely,
Kecelakaan. Jakarta : CV Haji Shobaruddin Muhammad
Masagung. (2015) “Pelaksanaan Program
“Kelurahan Siaga Aktif”
Suwitri, Sri. 2009. Konsep Dasar Dalam Mewujudkan
Kebijakan Publik. Semarang: Kemandirian Masyarakat
Badan Penertbit Universitas (Studi Di Kelurahan Winongo
Diponegoro. Kecamatan Manguharjo Kota
Madiun)”
Syafiie, Inu Kencana. 2006. Ilmu administrasipublik.studentjourn
Administrasi Publik. Jakarta: al.ub. 3(10): 1771-1775
Rineke Cipta.
Sumber Dokumen :
Tahir, Arifin. 2014. Kebijakan Peraturan Daerah Kota Semarang
Publik dan Transparasi Nomor 2 Tahun 1994 Tentang
Penyelenggaraan Pemerintah Penanggulangan Bahaya
Daerah. Bandung: Alfabeta. Kebakaran
Wahab, Solichin Abdul. 2012. Peraturan Daerah Kota Semarang
Analisis kebijaksanaan: dari Nomor 2 Tahun 2011 Tentang
formulasi ke implementasi Organisasi dan Tata Kerja
kebijaksanaan negara. Jakarta: Dinas Kebakaran Semarang
Bumi Aksara. Permenakertrans No. Per
04/MEN/1980 tentang Syarat-
______. 1997. Analisis Kebijakan I, Syarat Pemasangan dan
Haji Mas Agung : Jakarta Pemeliharaan APAR
Wibawa, Samudra. 1994. Kebijakan Data Bencana di Kota Semarang oleh
Publik, Proses dan dan Badan Penanggulangan
Analisis. Intermedia., Jakarta. Bencana Daerah Kota
Semarang
Winarno, Budi. 2012. Kebijakan
Publik: Teori, Proses dan Studi Data Indeks Risiko Bencana
Kasus. Jakarta: PT. Buku Seru. Indonesia Tahun 2013
Jurnal: Kota Semarang dalam Angka 2016

14
Statistik Daerah Kecamatan
Pedurungan 2016

Sumber Internet :
http://dibi.bnpb.go.id/ diakses 9-10-
15 pukul 19.30
Data tentang gambaran daerah
bencana di Indonesia

http://beta.semarangkota.go.id/conte
nt/image/files/RENSTRA(1).pd
f diakses 18-9-16 pukul 19.00
Gambaran Kota Semarang

http://www.bpbd.semarangkota.go.id
/, diakses 15-11-15 pukul
14.39
Pengertian Badan Penanggulangan
Bencana Daerah Kota
Semarang

15

You might also like