Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1of 7

e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)

Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019


ISSN (e): 2657-1692

Analisis Kadar Protein dan Vitamin C pada Sambal-Ikan sebelum dan


sesudah Diolah
Analysis of Protein and Vitamin C Levels in Fish-Chili-Sauce before and
after Processed
Dinda Rohadatul Aisyi1 *), Hari Santoso2 **) , Ratna Djuniwati Lisminingsih3
123 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Malang, Indonesia

ABSTRAK
Sambal-ikan hasil olahan campuran cabai rawit (Capsicum frutescens), tomat (Lycopersicum esculentum) dan
ikan layang Deles (Decapterus macrosoma) sebagai sumber protein cepat saji yang digemari oleh masyarakat.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar protein dan vitamin C sambal-ikan sebelum dan sesudah diolah.
Metode penelitian di gunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 perlakuan yaitu perlakuan 1 mengukur kadar
protein dan vitamin C sebelum diolah; perlakuan 2 mengukur kadar protein dan vitamin C sesudah diolah. Uji
protein dilakukan menggunakan metode Kjeldahl dengan Teknik Spektrofotometer. Uji vitamin C menggunakan
metode Iodimetri. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein ikan sebelum diolah 𝑋̅ = 19,31% dan kadar
vitamin C 𝑋̅ = 20,24 mg/100g. Sesudah diolah kadar protein ikan ̅ 𝑋 = 15,63%. dan kadar vitamin C 𝑋̅ =
16,28 mg/100g. Penurunan kadar protein ikan dan kadar vitamin C diduga karena lamanya waktu proses
pengolahan. Hasil analisi uji T-Test Pairs menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar protein
sambal-ikan sebelum dan sesudah diolah, namun cenderung mengalami penurunan. Hasil analisis uji T-Test
Pairs menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada kadar vitamin C sambal-ikan sebelum dan sesudah
diolah.
Kata kunci : Protein, Vitamin C, Sambal, Ikan Layang Deles

ABSTRACT
Fish-Chili- sauce processed by a mixture of cayenne pepper (Capsicum frutescens), tomatoes (Lycopersicum
esculentum) and Deles fly fish (Decapterus macrosoma) as fast-food sources of protein that is favored by the
public. The purpose of this study are to determine the protein and vitamin C levels of fish-chili-sauce before and
after processing. The research method are used completely randomized design with two treatments, namely
treatment 1 measured levels of protein and vitamin C before processing; treatment 2 measures the levels of
protein and vitamin C after processing. The protein test was performed using the Kjeldahl method with a
Spectrophotometer Technique. Vitamin C testing uses the Iodimetry method. The results showed that protein
levels of fish before processing 𝑋̅= 19.31% and 𝑋̅= 20.24 mg/100g of vitamin C. After processing the fish
protein content 𝑋̅ = 15.63% and 𝑋̅= 16.28 mg/100g of vitamin C levels. Decreased fish protein levels and
vitamin C levels were thought to be due to the length of processing time. The results of the analysis of the T-Test
Pairs showed that there are no significant difference in the protein content of fish-chili-sauce before and after
processing, but it tended to decrease. The results of the analysis of the Pairs T-Test showed that there are
significant differences in the levels of vitamin C of fish-chili-sauce before and after processing.
Keywords : Protein, Vitamin C, Chili Sauce, Deles fly fish

*) Dinda Rohadatul Aisyi, Jurusan Biologi FMIPA UNISMA, Jl. MT Haryono 193, Malang 65144 Telp. 082232866077
email: dindaaisyi815@gmail.com
**) Drs. H. Hari Santoso, M.Biomed, Jurusan Bologi FMIPA UNISMA, Jl. MT Haryono 193, Malang 65144 Telp.

082331449560 Email: Harisantoso.m.biomed@gmail.com

Diterima Tanggal 26 Juni 2019 – Publikasi Tanggal 14 Juli 2019

Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 1


e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)
Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019
ISSN (e): 2657-1692
Pendahuluan
Ikan layang deles merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang sangat mudah ditemukan dan
tersebar di Pulau Jawa. Ikan layang deles tersedia sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim. Ikan
layang deles banyak dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga ikan layang deles memiliki nilai ekonomis
yang tinggi. Selain itu, gizi yang terdapat pada ikan layang deles sangat tinggi terutama kandungan
proteinnya. Komposisi kandungan gizi yang terdapat pada ikan layang deles terdiri atas protein 22%,
lemak 1%, dan energi 109 kalori [1].
Ikan sebagai sumber protein yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia selain
karbohidrat, lemak dan komponen minor lainnya seperti mineral dan vitamin dalam makanan. Protein
pada ikan tersusun dari asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Makanan yang
dikonsumsi manusia, selain protein juga diperlukan berbagai vitamin dan mineral. Dalam protein ikan
mengandung senyawa asam amino dan mineral yang diperlukan tubuh manusia sebagai sumber
energy [2].
Sambal bagi masyarakat Indonesia dianggap sebagai makanan pendamping yang sudah
membudaya karena mampu menciptakan cita rasa dan menimbulkan selera makanan. Makanan akan
terasa hambar bila tanpa rasa pedasnya sambal. Dalam produk olahan sambal juga mengandung
vitamin C yang berfungsi sebagai penambah daya tahan tubuh [3]. Sambal terbuat dari bahan dasar
cabai rawit yang mengandung capsaicin sehingga menimbulkan pedas.
Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi merupakan kawasan lahan pertanian cabai
rawit. Inovasi olahan sambal-ikan yang memadukan dengan tomat (Lycopersicum esculentum). Tomat
memiliki kandungan vitamin C. Vitamin C berperan sebagai antioksidan [4]. Produk inovasi olahan
sambal yang ditambah ikan layang deles dan tomat dapat dijadikan sebagai alternative makanan
instan bergizi tinggi.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kadar protein dan vitamin C pada sambal-ikan sebelum
dan sesudah diolah.

Material dan Metode


Bahan dan Alat
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh di pasar Wongsorejo, seperti
cabai rawit (Capsicum frutescens L), ikan layang deles (Decapterus macrosoma), tomat
(Lycopersicum esculentum). Adapun bahan tambahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
bawang merah, minyak goreng, garam, gula, aquadest, H2SO4, salt mixture, Reagen Nessler, NaOH
30%, indikator amilum, dan iodin.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wajan, pengaduk, pisau, kompor (tungku
pembakar), timbangan, wadah, spektrofotometer visibel (752 UV grating), timbangan analitik tipe
HWH DJ 6002 A, gelas/sel spektro, labu kjeldahl, lemari asam, pipet tetes, hot plate, kertas saring,
buret, erlenmeyer (250 mL dan 1000 mL), labu ukur (100 mL dan 250 mL), corong, gelas beacker
(250 mL dan 500 mL), gelas ukur, mortar, termometer dan gelas arloji.

Metode
Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 2 perlakuan dan 8 kali ulangan. Sampel dari olahan sambal-ikan layang deles yang
sebelum diolah dan sesudah diolah ditentukan kadar protein dan vitamin C. Analisis yang digunakan
untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan atau tidak pada kandungan protein dan
vitamin C pada sambal-ikan layang deles sebelum diolah dan sesudah diolah menggunakan aplikasi
SPSS 16.0 pada komputer dengan uji t-Test Pairs.
Cara Kerja
Penentuan Kurva Standar Konsentrasi Nitrogen: Prosedur pembuatan kurva standar [5] sebagai
berikut : Dibuat larutan 50 ppm nitrogen sebagai standar yaitu dengan menimbang (NH4)2SO4
Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 2
e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)
Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019
ISSN (e): 2657-1692
sebanyak 0,2358 gram yang dilarutkan dengan aquades dalam labu ukur 1000 mL sampai tanda batas.
Kemudian dilakukan pengenceran sehingga didapat larutan 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm N, dihidupkan
spektrofometer dan ditunggu selama 20-30 menit untuk siap digunakan pengukuran absorbansi,
dimasukkan hasil setiap larutan pengenceran ke dalam tabung gelas/sel gelas, ditetesi dengan reagen
nessler sebanyak 5 tetes, ditunggu perubahan warnanya selama 5-10 menit kemudian dilakukan
pengukuran absorbansinya, dilakukan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 420 nm.
Pembuatan Sambal Ikan Layang Deles: Pembuatan sambal ikan layang deles adalah sebagai berikut
: Disiapkan terlebih dahulu ikan layang deles 500 gram, cabai rawit 1000 gram, tomat 1000 gram,
bawang merah 250 gram. Kemudian dicuci sampai bersih. Bawang merang dikupas. Ikan layang deles
dibuang sirip, insang, kepala dan ekornya. Kemudian diambil cabai rawit dan bawang merah dan
diletakkan di atas wajan dengan diberi sedikit minyak goreng dan menggunakan api yang sedang.
Cabai rawit dan bawang merah ditutup (diukep) agar lunak. Setelah itu cabai rawit dan bawang merah
dihancurkan (dipirit) tidak sampai halus, setelah cabai rawit dan bawang merah dihancurkan kemudian
digoreng lagi dengan sedikit minyak dan ditambahkan sedikit garam, langkah selanjutnya yaitu tomat
yang sudah dicuci bersih dipotong menjadi 2 atau 4 bagian. Dimasak tomat dalam keadaan diukep
(diberi tutup) sampai tomat berkurang kadar airnya atau kalis, ikan layang deles yang sudah
dibersihkan dari sirip, insang, kepala dan ekornya kemudian diasapkan dengan menggunakan sabut
kelapa yang kering sampai setengah matang. Setelah itu ikan layang deles dipotong sekitar 2-3 cm,
kemudian diambil 200 gram tomat yang sudah dibuat pada langkah sebelumnya dan ditambahkan
dengan 2 ekor ikan layang deles yang sudah diasapkan dan dipotong. Ditambahkan dengan sambal
(cabai rawit dan bawang merah) sebanyak 100 gram. Kemudian ditambahkan gula dan garam
secukupnya untuk menghasilkan cita rasa yang diinginkan, sambal ikan layang deles dipindahkan
pada wadah yang telah disediakan. Dan sambal ikan layang deles siap disajikan.
Penentuan Kadar Protein Sambal Ikan Layang Deles: Prosedur penentuan kadar protein [5]
sebagai berikut : dilakukukan destruksi yaitu dengan
menimbang sampel yang sudah dihaluskan sebanyak 1
gram, ditambahkan dengan H2SO4 sebanyak 15 mL dan
salt mixture sebanyak 4-5 gram (sebagai katalisator).
Hasil destruksi berwarna jernih atau hijau jenih.
Kemudian hasil destruksi ditunggu sampai dingin dan
ditambahkan dengan aquades sebanyak 10 mL, hasil
destruksi ditambahkan dengan NaOH 30% sebanyak 30
mL secara sedikit demi sedikit. Kemudian dilakukan
pengenceran dan dipindahkan secara kuantitatif dari labu
kjeldahl ke labu ukur 250 mL. Kemudian ditambahkan
dengan aquades sampai tanda batas.
Gambar 1. Kurva Standar ppm Nitrogen
Larutan di atas diambil sebanyak 5 mL, kemudian diencerkan di dalam labu ukur 100 mL dan
ditambahkan aquades sampai tanda batas, diambil sebagian larutan dari pengenceran terakhir
dimasukkan ke dalam sel gelas dan ditambahkan 5 tetes reagen nessler. Ditunggu 5-10 menit
kemudian dibaca absorbansinya dengan panjang gelombang 420 nm, dihitung ppm N dengan kurva
standar seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Kemudian dihitung kadar protein dengan rumus
sebagai berikut:
𝑝𝑝𝑚 𝑁 𝑥 𝑃 𝑥 6,25
% Protein = 𝑊𝑠
𝑥 100

Penentuan Kadar Vitamin C Sambal Ikan Layang Deles: Penentuan kadar vitamin C [6] sebagai
berikut : diambil tabung reaksi dan diberi label untuk setiap sampel, diambil sampel yang sudah
dihancurkan sebanyak 5 gram, dilarutkan pada labu 100 mL dan ditanda bataskan, larutan tersebut
disaring dan filtratnya dipipet sebanyak 25 mL, dan ditambahkan beberapa tetes indikator amilum,
Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 3
e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)
Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019
ISSN (e): 2657-1692
lalu dititrasi dengan cepat menggunakan larutan iodin 0,01N hingga timbul warna biru, dihitung kadar
vitamin C dengan rumus sebagai berikut :
(𝑉 𝐼2 𝑥 0,88 𝑥 𝐹𝑃)𝑥 100
Vitamin C (mg/100g) = 𝑊 𝑠 (𝑔𝑟𝑎𝑚)

Hasil dan Diskusi


Bahan utama dalam penelitian ini yaitu ikan layang deles yang diperoleh dipasar Wongsorejo
dalam kondisi ikan yang tergolong kesegarannya masih baik. Ikan layang deles merupakan salah satu
ikan pelagis kecil yang memiliki harga sangat ekonomis, mudah didapatkan dan cepat mengalami
penurunan mutu. Penelitian ini juga menggunakan cabai rawit (Capsicum frutescens), tomat
(Lycopersicum esculentum) dan bawang merah sebanyak 250 gram. Proses pembuatan sambal ikan
layang deles terdiri dari beberapa tahap yakni pengasapan dan penggorengan. Hal yang pertama
dilakukan yaitu ikan layang deles dibersihkan dengan dibuang kepala, ekor, sirip dan insangnya.
Kemudian ikan diasapkan menggunakan sabut kelapa yang kering. Adapun bahan tambahan yang
digunakan dalam pembuatan sambal ikan layang deles yaitu garam sebanyak 9 gram dan gula 32
gram. Setelah didapatkan produk olahan sambal-ikan layang deles kemudian diuji kadar protein dan
kadar vitamin C.
Kadar Protein: Berdasarkan analisis kadar protein ikan layang deles yang sebelum diolah dan
sesudah diolah dari 8 kali ulangan diperoleh hasil pada Gambar 2. yang menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan yang signifikan, tetapi cenderung mengalami penurunan pada kadar protein setelah diolah
menjadi sambal. Berdasarkan hasil analisis kadar protein pada sambal-ikan layang deles cenderung
mengalami penurunan sesudah diolah.

25
19.31
20
15.63
% Protein

15

10

0
Sebelum Diolah Sesudah DIolah

Gambar 2. Rata-Rata Kadar Protein Sambal Ikan Layang Deles

Rata-rata kadar protein sambal ikan layang deles sebelum diolah yaitu 19,31% dan sesudah
diolah sebesar 15,63%. Hasil penelitian analisis kadar protein sambal-ikan layang deles diperoleh dua
kelompok yang tidak berbeda nyata, namun cenderung mengalami penurunan. Hasil uji T-Test Pairs
kadar protein menunjukkan bahwa nilai probabilitas 0,059 yang berarti (0,059 > 0,025) maka tidak
ada perbedaan yang signifikan pada kadar protein sambal-ikan layang sebelum diolah dan sesudah
diolah, namun cenderung mengalami penurunan setelah mengalami berbagai proses pengolahan
seperti pengasapan dan penggorengan.Kecenderungan penurunan kadar protein diduga terjadi karena
pada proses pembuatan sambal- ikan layang deles diasapkan terlebih dahulu pada suhu sekitar 40-
50ºC kemudian digoreng pada suhu sekitar 50-60ºC (Gambar 3). Diduga pada proses pengasapan
tersebut tidak menyebabkan rusaknmya struktur primer dan sekunder pada protein ikan layang deles.
Sedangkan proses penggorengan pada pembuatan sambal-ikan layang deles diperoleh rata-rata suhu

Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 4


e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)
Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019
ISSN (e): 2657-1692
56,87ºC. Proses penggorengan tersebut mengakibatkan denaturasi protein yang mengakibatkan
rusaknya struktur sekunder dan tersier, sehingga mengakibatkan protein pada sambal-ikan layang
deles cenderung mengalami penurunan. Pada suhu 50ºC atau lebih protein yang terdenaturasi akan
mengalami koagulasi [7].

70
59 58 58
60 56 56 56 56 56

50
Suhu °C

40
Sebelum
30 23 23 23 23 23 23 23 23 Diolah
20 Sesudah
Diolah
10

0
1 2 3 4 5 6 7 8
Ulangan
Gambar 3. Suhu Sebelum Diolah dan Sesudah Diolah Proses Penggorengan

Proses pengasapan pada ikan layang deles menggunakan sabut kelapa dengan jarak
pengasapan sekitar 15-20 cm. Suhu pada proses pengasapan antara 40-50°C. Pengasapan pada proses
pengolahan sambal ikan layang deles bertujuan untuk menjaga struktur protein pada ikan layang deles
agar tidak rusak dan untuk menjaga ikan agar tetap awet.
Perubahan kadar protein pada ikan berkaitan dengan penyusutan kadar air pada proses
pengolahan. Pada proses pengasapan, kadar air yang semakin menyusut maka semakin besar pula
perubahan kadar protein pada ikan [8]. Susutnya air bahan pangan maka akan semakin meningkat
kadar protein pada bahan pangan [9].
Denaturasi protein merupakan perubahan atau perusakan struktur protein. Denaturasi protein
yaitu keadaaan dimana protein mengalami kerusakan struktur sekunder, tersier dan kuartenernya.
Adapun yang mengakibatkan terjadinya denaturasi salah satunya yaitu pemanasan. Protein yang
mengalami denaturasi akan mengalami perubahan viskositas atau berkurangnya kelarutan cair
sehingga mudah mengendap [10].
Kadar Vitamin C: Berdasarkan hasil analisis kadar vitamin C pada sambal-ikan layang diperoleh
hasil pada Gambar 4. yang menunjukkan bahwa kadar vitamin C pada perlakuan sebelum diolah dan
sesudah diolah mengalami penurunan. Hal tersebut karena vitamin C atau yang biasa disebut dengan
asam askorbat bersifat larut dalam air dan cepat mengalami penurunan apabila mengalami pemanasan
pada suhu yang tinggi.
Hasil penelitian analisis kadar vitamin C pada sambal-ikan layang diperoleh dua kelompok
yang berbeda nyata. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor, seperti suhu pada proses
pengolahan. Hasil uji T-Test Pairs kadar vitamin C sambal-ikan layang deles menunjukkan bahwa
nilai probabilitas 0,003 yang berarti (p = 0,003 ˂ 0,025) maka ada perbedaan yang signifikan
kandungan vitamin C pada sambal-ikan layang deles sebelum diolah dan sesudah diolah. Penurunan
kadar vitamin C disebabkan karena pada proses pengolahan sambal dengan cara penggorengan
menggunakan suhu yang cukup tinggi yaitu sekitar 50-60ºC atau yang sudah tertera pada Gambar 3.

Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 5


e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)
Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019
ISSN (e): 2657-1692
Sifat asam askorbat yaitu mudah hancur (rusak) pada suhu yang tinggi. Vitamin C merupakan
senyawa asam askorbat yang rentan terhadap proses pemanasan.

25
20.24
20
mg/100 g Vitamin C
16.28
15

10

0
Sebelum Diolah Sesudah Diolah

Gambar 4. Rata-Rata Kadar Vitamin C Sambal Ikan Layang Deles

Salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan asam askorbat antara lain suhu [11]. Vitamin
C (asam askorbat) sangat sensitif terhadap kerusakan saat pengolahan maupun penyimpanan produk
[12]. Glukosa, sukrosa, dan sorbitol dapat melindungi asam askorbat dari degradasi pada suhu rendah
(≤40°C), dan pada suhu tinggi (≥70°C) akan menyebabkan kerusakan asam askorbat [13].
Industri pangan sering menggunakan pemanasan dalam pengolahan produk olahan pangannya
yang bertujuan untuk memastikan keamanan produk pangan. Namun vitamin C memiliki sifat yang
sensitif terhadap pemanasan. Suhu pemanasan yang semakin tinggi maka menyebabkan degradasi
vitamin C juga semakin besar [14]. mengakibatkan penurunan kadar vitamin C. Sebuah penelitian
menyatakan, semakin lama waktu pemanasan sayur dengan suhu 60°C kandungan vitamin C pada
sayur semakin menurun [15].

Kesimpulan
Kadar protein sambal-ikan layang deles sebelum diolah yaitu 19,31% dan sesudah diolah
sebesar 15,63%. hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan kadar protein pada bahan segar
dengan setelah menjadi produk olahan sambal. Proses pengasapan dan penggorengan tidak
berpengaruh nyata terhadap kadar protein produk olahan sambal-ikan layang deles, akan tetapi
cenderung mengalami penurunan. Sedangkan rata-rata kadar vitamin C pada sambal-ikan sebelum
diolah sebesar 20,24 mg/100g dan rata-rata sesudah diolah sebesar 16,28 mg/100g. Hasil analisis
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar vitamin C pada bahan segar dengan setelah menjadi
produk olahan sambal. Kadar vitamin C pada produk olahan sambal- ikan laying deles mengalami
penurunan. Pada suhu yang tinggi berpotensi mempercepat penurunan nilai vitamin C.

Daftar Pustaka
[1] Irianto, H., dan Soesilo, I. 2007. Dukungan Teknologi Penyediaan Produk Perikanan. Didalam
Makalah pada Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia 2007 di Auditorium II Kampus
Penelitian Pertanian Cimanggu. Bogor.
[2] Mustika, D.C. 2012. Bahan Pangan Gizi dan Kesehatan. Alfabeta. Bandung.

Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 6


e-Jurnal Ilmiah SAINS ALAMI (Known Nature)
Volume 2/ No.: 1 / Halaman 1 - 7 / Juli Tahun 2019
ISSN (e): 2657-1692
[3] Setiadi, Y. 2006. Cabai Rawit Jenis dan Budaya. Penebar Swadaya. Jakarta.
[4] Godam. 2006. Pengertian dan Definisi Vitamin-Fungsi, Guna, Sumber, Akibat Kekurangan,
Macam dan Jenis Vitamin. Access November 1st, 2006. URL:
http://organisasi.org/pengertian_dan_definisi_vitamin_fungsi_guna_sumber_akibat_kekura
ngan_macam_dan _jenis_vitamin.
[5] Mahdi, C. dan Syauqi, A. 2002. Petunjuk Analisis Proksimat. Edisi III. Laboratorium Pusat
UNISMA. Malang
[6] Association of Official Analytical & Chemists (AOAC). 1995. Official Methods of Analysis.
Association of Official Analytical Chemists. Washington.
[7] Ghozali, Tomas, Muchtadi, D dan Yaroh. 2004. Peningakatan Daya Tahan Simpan Sate Bandeng
(Chanos chanos) dengan Cara Penyimpanan Dingin dan Pembekuan. Infomatek,Vol. 6
Nomor 1. Bandung.
[8] Devi, W.S dan Sarojnalini, C. 2010. Impact of Different Cooking Methods on Proximate and
Mineral Composition of Amblypharyngodon mola of Manipur. International Journal of
Advanced Biological Research 2(4):641-645.
[9] Daun, H. 1989. Interaction of Wood Smoke Component and Food. Food Technol. (5):66-70.
[10] Zulfikar. 2008. Sifat Fisik dan Organoleptik Telur Ayam Ras Hasil Perendaman dalam Larutan
Garam dengan Ekstrak Jahe yang Berbeda. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
[11] Nikhah, E., M. Khayamy, R. Heidari dan R. Jamee. 2007. Effect of Sugar Treatment on Stability
of Anthocyanin Pigments in Berries.Urmia University. Iran. Journal of Biological Sciences
7 (8): 1412-1417.
[12] Razak, A.R., N.K. Sumarni dan B. Rahmat. Optimalisasi Hidrolisis Sukrosa Menggunakan Resin
penukar Kation Tipe Sulfonat. Jurnal Natural Science Vol.1.(1):119-131.
[13] Santos, L.E. & Riascos , A.V. 2010. Effect of Processing and Storage Time on The Vitamin C
and Lycopene Contents of Nectar of Pink Guava (Psidium guajava L). Archivos
Latinoamericanos de Nutricion Vol. 60 No. 3.
[14] Gheisari, H.R. Nejati, R., & Shamsei H.A. (2011). Effects of Temperature, Light, Butaylated
Hydroxy Anisole an Methods of Analysis on The Ascorbic Acid Content of Un-Pasteurized
Iranian Sour Orange (Citrus aurantium L) Juice During Storage. Valahia University Press.
Annals Food Science and Technology.
[15] Kopjar, M., Durkan, I., dan Pilizota, V. (2010). HMF Formation and Colour Change of Bitter
Orange and Sweet Orange Jams During Storage.Croat J Food Sci. Technol 2(2):11-15.

Sains Alami Analisis Kadar Protein dan Vitamin C Sambal-Ikan 7

You might also like